Senin, Desember 07, 2009
Aplikasi teknologi EM bidang pertanian dapat dilakukan dalam bentu
1. Bokashi Padat
2. Bokashi Cair
3. EM Aktif
4. Fermentasi Ektrak Tanaman
5. Fermentasi Sari Buah
6. Fermentasi Kaldu Ikan
7. EM-5
1. Bokashi Padat
Merupakan pupuk organic yang dibuat dari kotoran hewan, sampah, organic, jerami, sekam, serbuk kayu, serasah dan lain – lain, dicampur ( dedak, disiram, dengan EM dan Molase, selanjutnya difermentasi. Setelah difermentasi 1-2 minggu campuran bahan organic telah menjadi pupuk siap pakai, ditandai dengan adanya bau tape serta miselium putih dari cendawan mukor. Penggunaannya dibenamkan kedalam tanah disekitar daerah perakaran tanaman. Pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman akan lebih baik lagi bila disertai siraman EM-aktif setiap 1 – 2 minggu sekali.
2. Bokashi Cair
Dibuat dari kencing hewan ( sapi, babi, kelinci ) diberi/dicampu dengan EM dan molase difermentasi selama kurang lebih seminggu. Cara penggunaanya dicampur dengan air disiramkan ke tanah disekitar daerah perakaran. Sangat baik disiramkan diatas taburan bokashi. Enggunaan secara rutin selain memperbaiki fisik dan kimia tanah, dapat menekan berbagai pathogen secara efektif.
3. Fermentasi Ektrak Tanaman
Formula ini lebih dikenal dengan nama fermented plant ekstrak (FPE) FPE dapat dibuat dari campuran berbagai tanaman rempah dan obat, tanaman yang berbau khas diambil daunnya saja, batang, kulit akar maupun buah. Bagian-bagian tanaman ini diektrak dan difermentasi dengan EM dan molase selama seminggu.
4. EM Aktif
Dibuat dari EM asli dan molase yang dicampur dengan air sampai mencapai 20 kali kemudian difermentasi selama seminggu. Dalam pemanfaatannya diencerkan lagi dengan air sampai mencapai konsentrasi 1-2 permil disemprotkan pada daun tanaman atau disiramkan kedalam tanah. FPE dapat dipergunakan sebagai pengganti pestisida maupun fungisida, disemprotkan pada daun diatas tanah. Setiap hama biasanya peka terhadap ramuan tertentu. Meramu FPE merupakana seni tersendiri.. Banyak petani membuat ramuan sendiri untuk memberantas hamanya, tetapi Pak Oles telah membuat ramuan siap pakai yang diberi nama SAFERTO-5 ( Sari Fermentasi Tanaman Obat ) FPE disemprotkan pada tanaman secara berkesinambungan setiap 2 minggu. Karena pengaruh antioksidan dan bau yang khas, hama tidak kerasan dan pergi meninggalkan tanaman dengan tidak akan ada eksplosi dari hama.
5. Fermentasi Sari buah
Pada musim buah-buahan yang terbuang Buah-buah yang telah masak ini banyak mengandung nutrisi. Buah ini dapat diolah menjadi pupuk cair disemprotkan pada daun setelah buah-buahan diekstrak dan difermentasi dengan EM dan Molase. Produksi yang serupa namun bahannya dari rumput laut, telah dibuat oleh pak Oles dengan merek dagang SARULA-3. Penyemprotan tanaman secara rutin dengan formula ini dapat memacu pertumbuhan tanaman, merangsang pembentukan bunga dan buah.
6. Fermentasi Kaldu Ikan
Seperti halnya sari buah, kaldu ikan juga kaya akan nutrisi, kaldu ikan dapat dibuat menjadi pupuk cair disiramkan kedalam tanah untuk memperbaiki fisik, kimia, dan biologi tanah. Dalam pembuatannya ikan dipotong kecil-kecil direbus dan setelah kaldunya dingin difermentasi dengan air dan molase. Fermentasinya lebih lama sekitar 1 bulan. Fermented Fish Emulsion ini siap pakai bila telah tercium bau alcohol. Bila busuk berarti pembuatannya gagal karena terkontaminasi pathogen.
7. EM-5
EM-5 adalah campuran dari arak, cuka EM-4 molase dan air. Cara pembuatan dan pengemasannya dengan FPE. EM-5 ini adalah pestisidaorganik dengan teknologi EM untuk memberantas hama khusus untuk EM-5 dapat disimpan sampai 3 bulan asalkan tidak terkontaminasi pathogen. Berdasarkan jenis tanaman yang diusahakan serta type tanah, aplikasikan teknologi EM dibidang pertanian dibedakan dalam 3 cara :
1. Aplikasi EM dilahan basah untuk tanaman padi sawah
2. Aplikasi EM dilahan kering untuk tanaman palawija, sayuran dan tanaman semusim
3. Aplikasi EM dilahan kering untuk tanaman tahunan seperti buah-buahan, cengkeh, kopi, kakau dan lain-lain.
Bahan-bahan untuk dijadikan makanan ikan June 19, 2009
Posted by angah08 in Uncategorized.
add a comment
1. Bahan Hewani
1. Tepung Ikan
Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan menjadi bekasem untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan. Lama penyimpanan < 11-12 bulan, bila lebih dapat ditumbuhi cendawan atau bakteri, serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan asam amino essensial yang paling essensial sampai 8%. Kandungan gizi: protein=22,65%; lemak=15,38%; Abu=26,65%; Serat=1,80%; Air=10,72%; Nilai ubah=1,5–3
1. Telur Ayam dan Itik
1.
1. Bahan: telur mentah atau telur rbus.
2. Penggunaan: Telur mentah langsung dikopyok dan dicampur dengan bahan lain. Telur rebus, diambil kuningnya, dihaluskan dan dilarutkan sampai membentuk emulsi atau suspensi.
3. Kandungan gizinya: Protein=12,8%, Lemak=11,5%, Karbohidrat=0,7%, Air=74%
2. Dedak
Bahan dedak padi ada 2, yaitu dedak halus (katul) dan dedak kasar. Dedak yang paling baik adalah dedak halus yang didapat dari proses penyosohan beras, dengan kandungan gizi: Protein=11,35%, Lemak=12,15%, Karbohidrat=28,62%, Abu=10,5%, Serat kasar=24,46%, Air=10,15%, Nilai ubah= 8.
1. Tepung Ampas Tahu
Kandungan gizinya: Protein=23,55%, Lemak=5,54%, Karbohidrat=26,92%, Abu=17,03%, Serat kasar=16,53%, Air=10,43%.
2. Tepung Bungkil Kacang Tanah
Bungkil kacang tanah adalah ampas pembuatan minyak kacang. Kelemahannya: dapat menyebabkan penyakit kurang vitamin, dengan gejala sirip tidak normal dan dapat dicegah dengan membatasi penggunaannya. Kandungan gizi: Protein=47,9%, Lemak=10,9%, Karbohidrat =25,0%, Abu=4,8%, Serat kasar=3,6%, Air=7,8%, Nilai ubah=2,7-4.
1. Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa adalah ampas dari proses pembuatan minyak kelapa. Sebagai bahan ramuan dapat dipakai sampai 20%. Kandungan gizi: Protein=17,09%, Lemak=9,44%, Karbohidrat=23,77%, Abu=5,92%, Serat kasar=30,4%, Air=13,35%.
2. Tepung Daun Turi(Geti)
Kelemahannya: mengandung senyawa beracun : asam biru (HCN), lusein, dan alkoloid-alkoloid lainnya. Kandungan gizinya: Protein=27,54%, Lemak=4,73%,
Karbohidrat=21,30%, Abu=20,45%, Serat kasar=14,01%, Air=11,97 %
1. Tepung Daun Ketela Pohon
Kelemahannya: racun HCN/asam biru. Kandungan gizi: Protein=34,21%, Lemak=4,6%, Karbohidrat=14,69%, Air=0,12.
1. Kiambang Kecil 43 protien
2. Ulat hampassoya dan sawit 45% protien
June 19, 2009
Posted by angah08 in Uncategorized.
add a comment
MENJADI PAKAN ALTERNATIF PENGGANTI PELET.
Harga pelet yang terus melambung bak buah simalakama bagi peternak lele. Di satu sisi pelet menjamin ukuran konsumsi tercapai dalam waktu singkat. Di lain pihak harga yang tinggi Rp190.000-Rp200.000 per 30 kg membuat keuntungan peternak berkurang jauh. ‘Biaya pakan pelet menyerap 80% ongkos produksi,’ kata Mirsi, peternak lele paiton di Cilegon, Provinsi Banten.
Menurut Purnama Sukardi larva lalat-selanjutnya disebut maggot-sangat potensial mengurangi pemakaian pelet. ‘Substitusinya bisa mencapai 50%,’ kata dekan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah, itu. Yang istimewa maggot memiliki kadar protein tinggi sekitar 43%; pelet 30-40%. Nah, lele tumbuh baik jika mendapat asupan protein berkadar 30% atau lebih.
Penelitian Purnama menunjukkan maggot efektif bila diberikan bersama tepung ikan dengan perbandingan 1:1. Di sini laju pertumbuhan lele bakal melambung hingga 2,9% per hari. Bila hanya maggot percepatan tumbuh 2,5% per hari; tepung ikan tunggal 2% per hari. ‘Kombinasi ini sudah dicoba meski belum dibuat untuk skala komersial,’ katanya.
Murah
Maggot mudah dibuat. Ia dapat dibiakkan memakai media ampas tahu. Untuk menarik lalat, ampas tahu dicampur ikan kering, 8:2. Ampas tahu mudah didapat dan murah, Rp200-Rp500 per kg. Harga ikan rucah kering sekitar Rp1.000 per kg. Jadi untuk menyiapkan 1 kg media maggot hanya mengeluarkan biaya Rp600.
Sebelum dipakai, media perlu difermentasi selama 3-4 minggu. Setelah itu, lalat akan datang dan bertelur. Maggot dipanen setelah sepekan. Sekilo media menghasilkan 180 gram maggot. Bila ingin menghasilkan 1 kg maggot dibutuhkan 5,5 kg media. Nah, pakan yang dibuat dari kombinasi maggot dan tepung ikan hanya membutuhkan biaya Rp4.150 per kg. Angka itu tentunya jauh lebih murah dibandingkan harga pelet Rp6.500 per kg.
Sayangnya larva lalat bersifat agresif. Jika terkena sinar matahari maggot malah bermigrasi dari media dan mencari tempat berteduh. Sebab itu pula menurut Purnama tempat membiakkan maggot sebaiknya dibangun di atas kolam yang diberi peneduh. Selain itu, wadah media perlu berlubang. Tujuannya agar maggot yang bergerak jatuh langsung ke kolam dan disantap lele. ‘Jadi maggot tidak sempat tumbuh menjadi lalat,’ kata Purnama. Ampas tahu pun sebetulnya dapat dijadikan pakan karena mengandung nutrisi penting seperti 23,55% protein, 5,54% lemak, dan 26,92% karbohidrat.
Nabati
Di luar maggot yang berbasis protein hewani, kiambang Lemna minor juga potensial menjadi pakan lele. Kadar proteinnya setara maggot, 43%. Itu yang terungkap dari penelitian pascasarjana R Zaenal Arifin di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB). Menurut Zaenal kiambang yang dibuat tepung dapat menggantikan tepung ikan hingga 45%.
Pada percobaan pelet yang dibuat dari campuran 55% tepung ikan dan 45% kiambang memacu pertumbuhan lele sangkuriang hingga 2,91% bobot tubuh per hari. Jika digunakan dalam budidaya lele pada kolam seluas 1.000 m2 dengan padat tebar 200 ekor/m2, pemakaian pelet ini dapat menekan biaya pakan sampai Rp400.000/siklus budidaya.
Jumlah itu terbilang kecil, sekitar 8% dari total biaya pakan. Namun, sejatinya penggunaan kiambang sebagai pengganti pelet bisa dioptimalkan jika difermentasi dulu. ‘Kiambang segar masih kaya serat, sehingga sulit dicerna ikan karnivor seperti lele,’ ujar Dr Gede Suantika, peneliti akuakultur SITH ITB. Fermentasi bertujuan menurunkan kadar oligosakarida dan menghilangkan Anti Nutrition Factor (ANF)-nutrisi yang sulit dicerna dan menghambat pertumbuhan ikan.
Pilih-pilih
Sejatinya peternak sudah mencoba beragam pakan alternatif untuk lele. Bangkai unggas, ikan rucah, hingga limbah restoran dipakai. Wahyudi Tisnaatmaja di Klender, Jakarta Timur, misalnya, menggunakan limbah rumah makan yang direbus lalu dicincang. Hasilnya, ukuran konsumsi 7-10 ekor/kg dicapai 3 bulan dari bibit ukuran 10 cm.
Menurut Suantika meski menggunakan pakan alternatif, kecukupan nutrisi lele harus terjamin. Idealnya pakan mengandung 30% protein, 5% lemak, 10-20% karbohidrat, 0,25-0,5% vitamin, dan maksimal 6% serat kasar. Jika gizi tidak terpenuhi, pertumbuhan lele jauh dari sempurna. Jangan seperti yang dialami Mirsi. Dengan memberi pakan 50% roti sisa pabrik dan 50% pelet komersial, ‘Kepala lele jadi besar, tetapi tubuhnya kecil,’ katanya. (Tri Susanti/Peliput: Nesia A, & Lastioro AT)
makanan alternative ternakanan ikan June 19, 2009
Posted by angah08 in Uncategorized.
add a comment
Ulat Pengganti Pelet
Ulat ternyata mampu menggantikan pelet sebagai makanan ternak alternatif untuk ikan. Selain kandungan gizinya tinggi, larva serangga itu juga ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan pengawet dalam pembiakannya. Berikut temuan penelitian selengkapnya.
——–
Selain mengetahui seluk-beluk bibit ikan yang bagus, beternak ikan juga harus memahami kondisi fisik air kolam pemeliharaan. Lalu, kejelian dalam memilih juga diperlukan untuk menunjang keberhasilan budi daya ikan. Makanan berfungsi sebagai sumber energi dan materi kehidupan dalam budi daya ikan. Karena itu,makanan mempunyai pengaruh penting terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.
Selama ini hampir sebagian besar peternak ikan masih mengandalkan pelet sebagaim pakanan ikan. Selain mudah didapat dan awet, proses pembua Sayang, pelet berbahan pengawet dan mengakibatkan rusaknya lingkungan perairan. Pelet yang tidak termakan oleh ikan pun akan meninggalkan sisa. Ini menjadikan air keruh dan kotor.
Untuk itu, diperlukan alternatif makanan ikan alami. Salah satunya adalah maggot. Inilah yang mendorong Hartoyo dan Purnama Sukardi, peneliti dari Pusat Ahli Teknologi dan Kemitraan (Pattra) Lembaga Penelitian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, meneliti makanan alternatif untuk ikan peliharaan. Peneliti ingin mencari mpakanan ikan alami yang ramah lingkungan. Memproduksi makanan ikan alami memang bukan hal mudah. Tapi, hal itu bukanlah pekerjaan sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi masyarakat pedesaan secara umum. Selain itu, diperlukan keahlian khusus dalam pengoperasiannya. Makanan sebagai makanan ikan yang baik harus mengandung nilai gizi tinggi dan seimbang. Gizi utama dalammakanan ikan setidaknya mengandung unsur protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air. Meski begitu, kebutuhan nutrisi ikan berubah-ubah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Misalnya, jenis, ukuran, dan aktivitas ikan, dan macam makanan. Faktor lingkungan tempat ikan hidup juga berpengaruh. Misalnya, suhu air dan kadar oksigen terlarut dalam kolam. Jumlah makanan yang dibutuhkan ikan setiap hari berhubungan berat dengan badan dan umurnya. Namun, persentase jumlahnya semakin berkurang dengan bertambahnya ukuran dan umur ikan. Rata-rata jumlah makanan harian yang dibutuhkan seekor ikan adalah 3 persen – 5 persen dari bobot total tubuhnya. Ikan berukuran kecil dan berumur muda membutuhkan jumlah makanan lebih banyak daripada ikan dewasa berukuran besar. Kebutuhan akan nutrisi ikan kecil juga lebih tinggi. Terlebih pada kebutuhan unsur proteinnya. Misalnya, ikan dengan berat 250 gram, kebutuhan makanan harian 1,7 persen – 5,8 persen dari biomassanya. Sementara ikan yang beratnya 600 gram, kebutuhan makanan hariannya hanya 1,3 persen – 3 persen dari biomassanya.
Protein berfungsi membentuk dan memperbaiki jaringan dan organ tubuh yang rusak. Pada kondisi tertentu protein digunakan sebagai sumber energi pada proses metabolisme. Karena itu, kadar protein makanan yang rendah akan menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Daya tahan ikan juga menurun sehingga ikan akan mudah terserang penyakit. Lalat berasal dari telur lalat yang mengalami metamorfosis pada fase kedua setelah fase telur dan sebelum fase pupa yang kemudian berubah menjadi lalat dewasa. Larva itu hidup pada daging yang membusuk. Kadang juga menginvestasi pada luka hewan yang masih hidup. Termasuk pada manusia. Dalam prosesnya, penambahan ikan baja tidak boleh melebihi separo atau 50 persen dari berat ampas tahu. Pembiakan paling efektif jika ditambahkan 20 persen ikan baja dari berat ampas tahu. Bagaimana bila ampas tahu tidak ditambah dengan ikan baja? Atau ampas tahu dicampur ikan baja yang melebihi 50 persen dari ampas tahu? Yang terjadi adalah percuma karena tidak dapat menghasilkan ulat.
Artinya, hal itu mengindikasikan bahwa lalat membutuhkan perbandingan ampas tahu dan ikanbaja dengan komposisi perbandingan tertentu secara tepat. Ikan baja berfungsi sebagai makanan ulat yang telah jadi. Keberadaannya juga diperlukan sebagai daya tarik lalat untuk bertelur pada media tersebut. Walaupun demikian, perbandingan ampas tahu dan ikan baja tidak berpengaruh terhadap kandungan protein pada ulat.
Mengapa ampas tahu? Salah satu alasannya, selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya perairan, pada tepung ampas tahu masih terdapat kandungan gizi. Yaitu, protein (23,55 persen), lemak (5,54 persen), karbohidrat (26,92 persen), abu (17,03 persen), serat kasar (16,53 persen), dan air (10,43 persen).
Ketika ampas tahu dipilih untuk dijadikan media, diharapkan terjadi transfer energi dari ampas tahu pada ulat yang dihasilkan. Selain itu, sebagai limbah, ampas tahu mudah didapatkan dengan harga relatif terjangkau. Hal itu menjadikan teknologi pembiakan maulat merupakan teknologi yang murah dan mudah diaplikasikan.
Diharapkan ada teknologi yang lebih aplikatif dan sederhana untuk memanfaatkan limbah ampas tahu sebagai makaanan ikan, sehingga masyarakat mudah melakukannya.
Selama ini para petani ikan sudah memanfaatkan limbah ampas tahu untuk makanan ikan. Namun, hal itu dilakukan secara langsung tanpa melalui proses terlebih dahulu. Padahal, ampas tahu tidak bisa diberikan kepada semua jenis ikan. Selain itu, hal ini dapat berdampak negatif, baik pada ikan maupun lingkungan hidup. Terlebih limbah tahu cair, yaitu sisa air tahu yang tidak menggumpal sehingga mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut. Selanjutnya, terjadi perubahan secara fisika, kimia, dan hayati yang menghasilkan zat beracun. Tentu hal itu menjadi media potensial bagi tumbuhnya kuman penyakit
June 19, 2009
sumber http://angah08.wordpress.com/
Sabtu, November 21, 2009
Cara membuat pupuk cair organik
1 liter bakteri
5 kg hijau-hijauan/daun-daun segar (bukan sisa dan jangan menggunakan daun dari pohon yang bergetah berbahaya seperti karet, pinus, damar, nimba, dan yang sulit lapuk seperti jato, bambu, dan lain-lainnya)
0,5 kg terasi dicairkan dengan air secukupnya
1 kg gula pasir/merah/tetes tebu (pilih salah satu) dan dicairkan dengan air
30 kg kotoran hewan
Air secukupnya
Ember/gentong/drum yang dapat ditutup rapat
Cara Pembuatan:
Kotoran hewan dan daun-daun hijau dimasukkan ke dalam ember.
Cairan gula dan terasi dimasukkan ke dalam ember.
Larutkan bakteri ke dalam air dan dimasukkan ke dalam drum, kemudian ditutup rapat.
Setelah 8-10 hari, pembiakan bakteri sudah selesai dan drum sudah dapat dibuka.
Saring dan masukkan ke dalam wadah yang bersih (botol) untuk disimpan/digunakan.
Ampas sisa saringan masih mengandung bakteri, sisakan sekitar 1 sampai 2 liter, tambahkan air, terasi, dan gula dengan perbandingan yang sama. Setelah 8-10 hari kemudian bakteri sudah berkembang biak lagi dan siap digunakan. Demikian seterusnya.
Kegunaan:
Mempercepat pengomposan dari 3-4 bulan menjadi 30-40 hari.
Dapat digunakan langsung sebagai pupuk semprot, apabila tanah sudah diberi kompos (subur), tetapi apabila tanah kurang subur/tandus, penggunaan langsung sebagai pupuk tidak dianjurkan.
Pupuk cair (larutan bakteri) ini tidak diperbolehkan untuk dicampur dengan bakteri lain, terutama bahan kimia atau bahan untuk pestisida lainnya seperti tembakau.
sumber :http://petanidesa.wordpress.com)
Para Menteri Pertanian ASEAN dan ASEAN+3 Menyepakati Kerjasama Mengatasi Dampak perubahan Iklim dan Keamanan Pangan Regional. Sumber Berita : Sekretar
Sumber Berita : Sekretariat Jenderal Pertemuan tingkat Menteri Pertanian & Kehutanan ASEAN (AMAF) ke-31 dan AMAF+3 (plus China, Japan dan Korea) ke-9 telah berlangsung tanggal 10-11 Nopember 2009 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Berhasil menyetujui peningkatan kerjasama pada 2 area yaitu: Kerjasama Regional untuk ketahanan pangan, dan kerjasama untuk mengatasi dampak perubahan iklim global. Kedua agenda pokok tersebut merupakan cerminan tindak lanjut dari kesepakatan para pemimpin ASEAN (ASEAN Summit) yang telah berlangsung akhir Oktober 2009 di Hua Hin, Thailand.
Kerjasama ketahanan pangan regional ASEAN Plus Three ditandai dengan disetujuinya membentuk ASEAN Plus Three Energy Rice Reserve (APTERR) berupa lembaga permanent untuk mengatasi masalah pangan dalam keadaan darurat (bencana). APTERR berasal dari pilot proyek EAERR ASEAN+3 (East Asia Emergency Rice Reserve) yang dibiayai Jepang dan China. Namun demikian diperlukan pembahasan yang lebih rinci oleh masing-masing Negara guna merealisasikan APTERR tersebut yang akan dilakukan dalam jangka 1 tahun ke depan. Selain dari itu, untuk memperkuat ketahanan intra ASEAN, para Menteri juga mengesahkan AIFS Policy beserta dan Framework ASEAN Food Security yang akan menjadi panduan kerja di masing-masing Negara anggota. Untuk mengatasi dampak perubahan iklim dibidang pertanian dan kehutanan, para Meteri juga mengesahkan kerangka kerjasama ASEAN Multi sectoral framework on Climate Change: Agriculture and Forestry toward Food Security. Para Menteri memposisikannya sebagai kerangka kerjasama yang strategis dan memerlukan penanganan yang berkesinambungan dan terintegrasi dengan sektor lain. Untuk hal tersebut Indonesia telah mengusulkan dibentuknya Regional Centre for Adaptation and Mitigation of the Impact of Climate Change in Agriculture and Forestry, serta menyampaikan kesediaan sebagai tuan rumah senter tersebut. Para Menteri juga mengesahkan enam dokumen yang terkait dengan harmonisasi standard dan criteria produk pertanian dan kehutanan, juga batas maksimum residu pestisida untuk lima jenis pestisida dan standar criteria ASEAN untuk akreditasi unit pengolahan susu. Dalam rangka meningkatkan kerjasama promosi pertanian dan kehutanan serta memperkuat posisi tawar ASEAN, para Menteri telah menandatangani MOU ASEAN Cooperation in agriculture and forest products promotion scheme, yang berlaku selama 5 tahun (2010-2014). Para Menteri Pertanian dan kehutanan ASEAN juga menyetujui beberapa kegiatan yang akan dikerjasamakan dengan plus three terutama yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas dan kelembagaan baik untuk menunjang keamanan pangan, maupun yang berkaitan dengan bioenergy. Dibidang ketahan pangan pelatihan akan difokuskan pada system informasi kerawanan pangan, dan perencanaan keamanan pangan, sedangkan yang terkait dengan bio energi pelatihan akan difokuskan pada pemanfaatan biomas sebagai energy.
Sumber : http://www.deptan.go.id/news/detail.php?id=613
Sabtu, Oktober 24, 2009
Terima Kasih Pak Anton, Selamat Datang Pak Sus
Sumber Berita : Tim Meerima Kasih Pak Anton, Selamat Datang Pak Sus
Sumber Berita : Tim Mediadia
JAKARTA - Hanya beberapa jam setelah pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu II di Istana, Deptan menggelar acara serah terima jabatan Menteri Pertanian dari pejabat lama Dr. Ir. H. Anton Apriyantono MS kepada pejabat baru Ir. H. Suswono MMA.
Berangsung sederhana namun cukup khidmat, acara sertijab di Aula Gedung D Deptan, Kamis (22/10) sore, itu disaksikan oleh dua mantan Mentan (Prof. Dr. Ir. Syarifuddin baharsjah dan Prof. Dr. Ir. Justika Baharsjah), beberapa anggota Komisi IV DPR RI, segenap pejabat eselon I dan II Deptan, tokoh dan perwakilan masyarakat pertanian. Usai dilantik Presiden SBY, Mentan Suswono langsung bergerak menuju Deptan. Tiba di kompleks perkantoran Deptan sekitar pukul 15.50, Mentan dan rombongan disambut hangat para pejabat Deptan, kemudian langsung menuju Mushola untuk shalat Ashar berjamaah. Usai shalat, Mentan didampingi istri dan keluarga bergerak ke ruang tunggu VIP Deptan. Di sini telah menunggu Mentan lama Anton Apriyantono, dua mantan menteri, para pejabat eselon I dan tamu undangan. Tak lama berselang, sertijab pun berlangsung ditandai dengan penandatanganan berita acara dan penyerahan dokumen memory akhir jabatan dari Anton ke Suswono. Dokumen itu berisi gambaran kinerja pertanian dalam periode 2004-2009, program dan rencana kerja pembangunan pertanian 2010, serta kajian pola organisasi Deptan. Dalam sambutannya, Anton menyampaikan ucapan selamat datang kepada pejabat baru serta apresiasi dan ucapan terima kasih kepada para pejabat dan aparat pertanian yang telah bekerja keras membantunya selama ini. Dia mengajak seluruh jajaran Deptan menyambut dan membantu Mentan baru dengan menunjukkan kinerja lebih baik lagi. "Saya dan kelurga juga mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan dalam interaksi selama 5 tahun terakhir," tambahnya.
Mentan Suswono, dalam sambutan tanpa teks, menegaskan bahwa dirinya tak pernah melamar menjadi Menteri Pertanian. "Saya hanya diminta CV oleh PKS, kemudian dipanggil ke Cikeas dan akhirnya diamanahi menjadi Mentan KIB II." Bagi Suswono, jabatan bukanlah kehormatan yang harus dikejar-kejar. "Jabatan ini amanah yang didalamnya terkandung beban dan pekerjaan yang harus dipertanggungjawabkan. Tak hanya kepada Presiden dan rakyat di dunia. Tapi juga kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui." Suswono mengakui, Deptan dibawah kepemimpinan Anton telah membuat banyak prestasi membanggakan. Mulai dari capaian swasembada beras, jagung, gula konsumsi, telur dan daging unggas, kinerja ekspor dan kontribusi pertanian terhadap PDB, dan lain-lain. Untuk itu, dia menyampaikan terima kasih kepada Anton dan jajaran pejabat Deptan 2004-2009 yang telah bekerja dan membuat prestasi. "Terima kasih juga kepada para Mentan pendahulu saya, yang telah meletakan pondasi pembangunan pertanian hingga kita meraih capaian-capaian yang menggembirakan." Suswono mengajak segenap pejabat dan jajaran Deptan untuk melanjutkan kerjasama. "Ke depan, mari kita bekerja lebih keras lagi agar prestasi-prestasi baik itu berlanjut." Kita ingin, swasembada pangan bisa berkelanjutan menciptakan ketahanan dan kemandirian pangan. "Bahkan ke depan, kita ingin menjadi negara lumbung dan eskportir pangan." Mentan Suswono juga mengajak kepada para stake holder perhatian untuk sama-sama membangun pertanian lebih baik lagi ke depan. Masalah dan tantangan ke depan tak mungkin dijawab oleh Deptan sendirian. "Saran, kritik dan masukan silakan disampaikan untuk membangun pertanian kota ke depan." Mentan mengajak semua pihak berpartisipasi membangun pertanian yanga tidak saja sukses meningkatkan produksi dan ketahanan pangan, tapi juga mensejahterakan petani dan rakyat Indonesia pada umumnya. Mentan menyatakan, meski berlatar politik, sebagai pejabat publik dia akan bekerja profesional; melahirkan kebijakan dan program pro-rakyat, dan loyalitasnya ditujukan kepada presiden dan seluruh rakyat Indonesia. (dj)
Berita Terkait :
Badan Litbang - Suswono, Menteri Pertanian Periode 2009 - 2014
Sumber : http://www.deptan.go.id/news/detail.php?i
Sumber : http://
Kamis, Oktober 15, 2009
Peresmian Pusat Informasi Agribisnis (PIA) Deptan untuk Mendorong Investasi di Bidang Pertanian
Sumber Berita : Sekretariat Jenderal
Jakarta, 7 Oktober 2009. Pada hari Senin, tanggal 5 Oktober 2009, Menteri Pertanian Dr. Ir. Anton Apriyantono, M.S. meresmikan penggunaan Gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA). Acara peresmian tersebut dihadiri oleh tidak kurang dari 250 orang hadirin yang mewakili berbagai kalangan, mulai dari para pemangku kepentingan pembangunan pertanian, wakil-wakil asosiasi, wakil-wakil kementerian dan lembaga negara, wakil dari LSM serta undangan lainnya. Mengawali kata sambutannya, Menteri Pertanian menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT, dan berterimakasih kepada para pemangku kepentingan pertanian, terutama para petani yang telah berkontribusi terhadap kemajuan pertanian beberapa dekade terakhir ini. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada para Menteri Pertanian sebelumnya yang telah ikut meletakkan landasan kemajuan dan sangat membantu dalam capaian gemilang pertanian beberapa tahun terakhir ini. Pada bagian lain sambutannya Menteri Pertanian mengatakan bahwa PIA dapat dipandang sebagai salah satu pintu masuk (entry point) bagi masyarakat pertanian maupun masyarakat secara umum untuk mengenal secara lebih mendalam “dunia pertanian”, sekaligus dapat menjadi sarana edukasi bagi dunia pendidikan, serta sarana hiburan dan rekreasi bagi masyarakat. Gedung PIA ini dharapkan dapat menjadi land-mark bagi kawasan perkantoran Departemen Pertanian, dan menjadi pemicu kreatifitas dan daya inovasi insan pertanian. Gedung PIA adalah gedung milik publik, dimana seluruh lapisan masyarakat dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Terdapat 3 (tiga) kegiatan utama yang diharapkan dapat berlangsung secara berkesinambungan di dalam gedung PIA ini, yaitu Pertama adalah kegiatan yang sifatnya pembelajaran (edukasi), yaitu dengan tersedianya informasi yang mendukung dalam mengedukasi masyarakat umum, khususnya di bidang pertanian, antara lain berupa perpustakaan digital, koleksi peraga di bidang pertanian, koleksi tanaman di area luar gedung (out door) dan beberapa program multimedia yang menggambarkan pelaksanaan kegiatan pembangunan pertanian. Kedua adalah kegiatan layanan informasi tentang pelaksanaan program pembangunan pertanian secara menyeluruh yang dikemas dalam bentuk semi detail sebagai penunjang pengembangan bisnis di bidang pertanian. Layanan informasi ini diharapkan mampu memberikan gambaran iklim investasi yang kondusif dan prospektif, sehingga dapat memberi semangat kepada pemangku kepentingan untuk meningkatkan investasinya di sektor pertanian. Ketiga adalah kegiatan yang sifatnya rekreatif, yaitu dengan tersedianya berbagai peragaan baik dalam bentuk pameran atau display, maupun kegiatan yang telah dikemas dalam bentuk program multimedia. Di samping itu, disiapkan pula area rekreasi di luar gedung PIA yang berisi koleksi berbagai tanaman, serta lahan yang disediakan untuk bertanam tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai. Menteri Pertanian selanjutnya menekankan perlunya kesinambungan kerjasama dengan pemerintah daerah dalam pemanfaatan gedung PIA ini untuk memajukan program pembangunan pertanian.
(Sumber: Biro Hukmas Deptan).
Peranan IMO dalam Pemasaran Produk Pertanian Organik Sumber Berita
Sumber Berita : Ditjen PPHP
Jakarta/ Baru baru ini berita ekspor perdana beras organik yang dilengkapi dengan sertifikasi memberikan kebanggaan tersendiri, bahwa Indonesia mampu memenuhi standar keamanan pangan Negara maju yang terkenal sangat ketat dan tidak kompromi terhadap impor pangan yang tidak memenuhi standar. Keberhasilan PT. Bloom Agro yang bermitra dengan Gapoktan Simpatik Tasikmalaya mengekspor 18 ton beras organik ke Amerika adalah bentuk pengakuan terhadap produk pertanian organik nasional. Keberhasilan ini karena produk dilengkapi dengan sertifikat produk organik dan Fair Trade yang dikeluarkan oleh Institute Marketocology organization ( IMO) yang berbasis di kota Weinfelden, Swiss. Kemampuan menghasilkan Produk Organik tidak terlepas dari pembinaan yang dilakukan Pemda dan Dinas Pertanian Tasikmalaya mendorong Gapoktan Simpatik, mampu menerapkan System of Rice Intensification (SRI) yang sudah dilakukan para petani sejak 2002 dan diakui sebagi metode produksi yang ramah lingkungan karena mengoptimalkan fungsi tanah sebagai media pertumbuhan dengan memanfaatkan mikroorganisme sebagai nutrisi tanaman. Metode ini pertama kali diterapkan 21 tahun lalu di Madagascar oleh Henri de Laulanié, S.J. Selain Sertifikat Organik, PT.Bloom Agro sebagai mitra Gapoktan Simpatik juga mendapat sertifikat Fair Trade karena menerapkan perdagangan yang adil dengan petani. Eksisitensi IMO sebagai Lembaga Sertifikasi dan akreditasi taraf internasional telah diakui kredibilatasnya oleh Jepang, Amerika dan Beberapa Negara Uni Eropa, dengan memegang sertifikat IMO jalan menuju pasar Global terbuka. Saat ini IMO telah memberikan sertifikat lebih kepada 300 kelompok petani di seluruh dunia yang menghasilkan sejumlah besar tanaman organik (kopi, rempah-rempah, kakao, buah-buahan segar atau kering, beras, kapas, kacang-kacangan, dll) mengharapkan tidak hanya pangan yang aman untuk dikonsumsi, tetapi juga suatu bentuk kerjasama yang saling menguntungkan seperti yang disampaikan CEO IMO, Rainer Bachi. “We are optimistic that this partnership will help us to continue to ensure more sustainable and fair conditions for farmers and workers worldwide”. Sekilas Tentang IMO Institute for Marketecology (IMO) adalah lembaga sertifikasi internasional yang didirikan di Swiss pada tahun 1990 dan merupakan salah satu yang tertua dan paling dihormati sebagai organisasi inspeksi, sertifikasi jaminan mutu dan layanan untuk produk ramah lingkungan. IMO diakreditasi oleh Swiss Accreditation Service (SAS) dengan EN 45004 , EN 45004 dan EN 45011 (ISO 65) merupakan standar internasional untuk sertifikasi dan diakreditasi untuk menawarkan berbagai jenis standar organik, termasuk peraturan standar pemerintah Amerika seperti USDA National Organic Program (NOP) dan Peraturan Uni Eropa EEC No. 2092/91 dan standar pribadi seperti Krav dan Bio Suisse Beberapa produk sertifikasi ditujukan untuk program-program pembangunan berkelanjutan seperti Global organic, Standar Textile, Organic Exchange, IVN Social and Fair Trade, FSC, MSC, GlobalGAP, AquaGAP, Regulasi Eropa EC 837/2007. (hn.humas PPHP)
Sumber : http://agribisnis.deptan.go.id/
Gambar : ilustrasi
Kamis, Oktober 08, 2009
1. MENINGKATKAN UNSUR HARA TANAH
2. MENINGKATKAN HASIL PERTANIAN
3. TANAMAN HORTIKULTURA, PANGAN, TANAMAN PERKEBUNAN
4. MENINGKATKAN SIFAT FISIK TANAH
KALAU ANDA BERMINAT HUB
ALINUDIN HUKUBUN, SP
JL SEDAP MALAM 1 NO 14 BLOK 9 PERUMNAS RANCAEKEK KENCANA
KABUPATEN BANDUNG TELP (022) 87700794 TELP (022) 76717801
Senin, September 21, 2009
konsultasi online
SAYA MENERIMA KONSULTASI
1. KONSULTASI PELUANG BISNIS PERTANIAN'
2. KONSULTASI PEMAMFAATAN PEKARANGAN
3. ANALISA USAHA TANI
4. KONSULTASI CARA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR
5. PENJUALAN PUPUK ORGANIK CAIR
6. KONSULTASI TENTANG PERTANIAN ORGANIK
5. KONSULTASI TENTANG PENGOLAHAAN SAMPAH
6. PROYEK
KALAU YANG BERMINAT HUB
alinudin@yahoo.com. alinudina@yahoo.com
alinudin hukubun, sp
jl sedap malam 1 no 14 blok 9 perumnas rancaekek kencana
kelurahaan rancaekek kecamatan rancaekek wetan kabupaten bandung jawa barat
telp (022) 87700794 (022) 76717801
web alialampersada.blogspot.com
Minggu, Agustus 30, 2009
Menteri Pertanian Maroko sepakat membuat kerjasama dibidang Pertanian dengan Indonesia
Sumber Berita : Sekretariat Jenderal
Rabat-Maroko, 25/08/09. Bapak Menteri Pertanian dan delegasi RI terdiri dari Direktur Jenderal Tanaman Pangan beserta pejabat Deptan lainnya seperti Direktur Utama PT. Pupuk Kaltim, Pupuk Sriwijaya serta Direktur PT. Petrokimia Gresik, wakil dari pengusaha vaksin hewan dan exportir/importir pupuk telah berkunjung ke Rabat - Maroko, 23-24 Agustus 2009. Kunjungan ini merupakan rangkaian kunjungan kerja Menteri Pertanian RI ke negara Magribhi lainnya yaitu ke Tunisia dan Yordania hingga tanggal 29 Agustus 2009. Tujuannya adalah untuk menjajaki kemungkinan kerjasama agribisnis, vaksin hewan dan investasi perdagangan antara swasta Indonesia dengan swasta pemerintah kerajaan Maroko, kerjasama penelitian pertanian khususnya pengembangan varietas gandum di lahan tropis dan pendekatan kepada produsen rock phosphat di Maroko sebagai upaya untuk menjamin pasokan bahan baku pupuk NPK bagi produsen pupuk di Indonesia dalam jangka waktu panjang. Di Rabat ibu kota Maroko, Delegasi berkunjung ke Institut Agronomi dan Veterinari Hassan-II, Nasional Institut Penelitian Agronomi berdiskusi tentang pengembangan disektor pertanian dan melihat fasilitas penelitian pertanian. Kunjungan kepada Menteri Pertanian Kerajaan Maroko, berlangsung di Kementrian Pertanian Maroko menghasilkan kesepakatan untuk membuat kerjasama teknik dibidang penelitian pertanian dengan mengirimkan tenaga ahli peneliti ke Maroko. Menyepakati kerjasama dibidang promosi dan investasi antara swasta kedua belah pihak. Disamping itu, dukungan pasokan bahan baku rock phosphat bagi produsen pupuk NPK di Indonesia dan selanjutnya pihak produsen bahan baku dalam hal ini OCP Maroko akan dilaksanakan feasibility study phosphate processing dan produk phosphoric acid dalam waktu dekat.Sehubungan dengan hal-hal tersebut pihak Pemerintah Kerajaan Maroko akan mengirimkan Initial Draft MoU kerjasama bidang pertanian kepada pemerintah Indonesia dan apabila kedua belah pihak sepakat, maka MoU akan ditandatangani pada kesempatan kunjungan Menteri Pertanian Maroko berkunjung ke Indonesia.
Sumber: Biro KLN/Sekretariat Jenderal
sumber : http://www.deptan.go.id/news/detail.php?id=575
Kamis, Agustus 27, 2009
Petani sekarang untuk menyuburkan tanaman khususnya tanaman padi banyak dimanjakan oleh pupuk organik. Padahal pemakaian pupuk buatan pabrik yang berlebihan bila mencapai puncaknya tidak baik bagi tanah.
Tanah sawah dalam pemakaian pupuk organik akan mencapai puncak dan akhirnya merusak unsur hara, sehingga kesuburan tanah sawah tersebut pada masa mendatang makin berkurang. Wakil Bupati Grobogan H. Icek Baskoro, SH mengatakan hal tersebut, ketika membuka Gelar Teknologi dan Expo Pertanian, yang berlangsung di halaman Kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Jalan Diponegoro Purwodadi, Kamis (14/8). Pembukaan Gelar Teknologi dan Expo Pertanian ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan dari Menteri Pertanian RI, oleh Wabup H. Icek Baskoro, SH kepada Kelompok Tani dan penyuluh pertanian berprestasi Tingkat Nasional. Hadir pada acara itu Ketua DPRD, Kepala Dinas/ Instansi terkait Tingkat Propinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Grobogan, tampak pula Pengusaha di Bidang Pertanian dan undangan. Lebih lanjut H.Icek Baskoro, SH menjelaskan, untuk menyuburkan tanah sawah dalam mencapai peningkatan produksi padi, beberapa tahun lalu, petani cukup hanya menggunakan pupuk organik 250 Kg/Ha. Namun sekarang kebutuhan itu meningkat menjadi 250- 300 Kg/Ha. Pemakaian pupuk seperti itu tidak baik bagi tanah sawah. Untuk menyuburkan tanah sawah, petani lambat laun harus diperkenalkan pemakain pupuk yang ramah lingkungan. Seperti halnya menggunakan pupuk kandang dan pupuk lain yang wajar, sehingga menjaga kelestarian kesuburan tanah. Disisi lain dikatakan, di era globalisasi saat ini, jika ingin survive,petani dituntut tidak hanya mengejar pada tingkat on form saja, mereka atau kelompok tani harus menguasai subsistem lain dari hulu sampai hilir. Petani akan sulit bila tidak mau atau mampu mengembangkan diri menjadi wirausaha agrobisnis (tidak hanya pandai berproduksi). Petani wirausaha adalah petani yang dapat memproduksi apa yang bisa dijual, sedang petani produksi ialah petani yang hanya bisa menjual apa yang dihasilkan. Petani wirausaha dituntut tidak hanya berorientasi produksi, tetapi juga berorientasi bisnis.
Untuk itulah, petani harus berusaha mulai on form (budidaya produk primer) sampai off form (paska panen, pengolahan, pengemasan, pemasaran serta pembiayaan). Untuk menciptakan petani wirausaha seperti itu, diperlukan peran serta aktif dari Pemerintah, Pengusaha/Mitra bidang pertanian serta organisasi pertani. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Grobogan, Ir. Moh Sumarsono, Msi melaporkan, Gelar Teknologi dan Expo Pertanian yang berlangsung selama 5 hari dari tanggal 17 dan berakhir pada 21 Juli 2008 mempunyai beberapa tujuan. Diantaranya memberikan kesempatan kepada para petani untuk menilai kesesuaian teknologi yang direkomendasikan dengan kebutuhan, kemampuan modal dan tenaga. Meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap sektor pertanian.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 32 stand. Terdiri dari unsur instansi pemerintah 5 stand, perusahaan swasta 18 stand dan pecinta tanaman 9 stand. Disamping itu, dilahan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Grobogan seluas 1,5 Ha digelar penanaman berbagai komoditi tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura unggulan. Dilaporkan pula bahwa, untuk meningkatkan produksi pangan pada Tahun 2008 Grobogan menerima bantuan benih dari Pemerintah Pusat langsung ke masyarakat dengan pendekatan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (SL-PTT), sebesar Rp 7.157.736.000,-. Bantuan sebesar itu untuk disalurkan kepada 690 kelompok tani. Dipergunakan meliputi untuk komoditi kedelai seluas 10.000 Ha, jagung hibrida 200 Ha, padi non hibrida 6.000 Ha dan padi hibrida 1.000 Ha. Selain itu, Kabupaten Grobogan telah terpilih 5 petani dan seorang penyuluh pertanian berperstasi Tingkat Nasional. Mereka menerima piagam penghargaan dan hadiah transfer uang dari Menteri Pertanian RI, masing-masing sebesar Rp 20 Juta. Transfer uang langsung ke masing-masing rekening penerima. (AS)
sumber : http://www.grobogan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=116&Itemid=2
Wednesday, 25 March 2009 09:23 Danny J.S
Pupuk organik menjadi alternatif penting pengganti pupuk kimiawi dalam memperbaiki kualitas tanah pertanian. Pupuk organik pun jauh lebih mudah pembuatannya hingga memungkinkan banyak pihak memproduksinya dalam skala kecil maupun besar. Namun, bagaimana pengguna pupuk mengetahui kualitas pupuk yang digunakannya. Sutarto Alimuso, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian kepada 89.2 FM Green Radio mengatakan, produsen pupuk harus mendaftarkan pupuk yang mereka produksi agar apa yang mereka produksi sesuai dengan label yang tertera. Produsen pupuk mesti mendaftarkan produknya ke Pusat Perijinan dan Investasi Departemen Pertanian. Disana produk akan diuji dan diukur apakah kandungan dalam produknya sesuai dengan labelnya. Dengan begitu, konsumen memperoleh jaminan perlindungan kualitas produk sesuai dengan yang dibeli. Saat ini sudah ratusan produk pupuk yang terdaftar baik yang dihasilkan oleh UMKM, produsen yang relatif besar, ataupun BUMN. Pendaftaran produknya sesuai spesifikasi produknya masing-masing. Dengan begitu tidak hanya konsumen yang dilindungi, tapi produsen pun terlindungi dari klaim spesifikasi produk dari pihak lain. Departemen Pertanian yang menetapkan standar kualitas pupuk berdasarkan penelitian, kemudian ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian kalau itu digunakan untuk pertanian. Prinsipnya, jika pupuk organik yang diproduksi diperdagangkan, konsumen dan produsen perlu dilindungi. Untuk itulah standarisasi dibutuhkan, sehingga ada jaminan bagi konsumen dan produsen.
http://www.greenradio.fm/index.php?option=com_content&view=article&id=403:standarisasi-pupuk-organik-melindungi-konsumen&catid=83:smart-living&Itemid=200
Comments
Thursday, 13 December 2007
Makassar, Dinas Pertanian Sulawesi Selatan melalui para petani mendorong pemanfaatan limbah jerami dan bahan-bahan dan limbah organik lainnya untuk dimanfaatkan sebagai pupuk. Ini untuk mengurangi ketergantungan penggunaan pupuk bersubsidi dan juga memperbaiki struktur tanah.
"Penggunaan pupuk bersubsidi atau pupuk kimia selama ini oleh petani, kian besar setiap musim tanam. Padahal, pupuk yang disubsidi kadang bermasalah dalam hal penyediaan. Karena itu, kami mendorong petani memanfaatkan jerami dan bahan-bahan atau sampah organik untuk dijadikan pupuk agar tidak terlalu tergantung pada pupuk bersubsidi. Pupuk organik juga bisa memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk serta pestisida terus-menerus," kata Luthfi Halide, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel di Makassar, Rabu (12/12).
Menurut Luthfi, untuk memudahkan program ini, petani atau kelompok tani diberi bantuan alat pengolah pupuk organik. Alat yang bernilai Rp 1 juta per unit ini untuk merajang jerami dan sisa-sisa batang padi serta sampah atau bahan organik untuk dibuat menjadi pupuk kompos.
SP-36 langka
Ketergantungan pada pupuk kimia yang tinggi menyebabkan kelangkaan pupuk sering terjadi. Seperti di Jawa Barat saat ini, pupuk SP-36 sulit didapatkan akibat kebutuhan melonjak. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Jawa Barat Rudi Gunawan, Rabu (12/12), menyatakan, akibat hujan terlambat, banyak petani hortikultura baru mulai tanam. Akibatnya, kebutuhan pupuk SP-36 bertambah. (REN/CHE-kcm
Sumber :http://www.makassarkota.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1032&Itemid=97&date=2009-09-01
Yudi Sutomo
26/06/2009 14:49
Liputan6.com, Grobogan: Sedikitnya lima ton pupuk jenis phonska yang diduga palsu beredar di Grobogan, Jawa Tengah. Akibatnya, panen petani holtikultura di daerah ini jauh dari memuaskan. Menanggapi keluhan petani, petugas Dinas Pertanian setempat, Jumat (26/6), mengambil dan membawa sampel pupuk untuk diteliti. Kepala Dinas Pertanian Grobogan, Nasrun, menjelaskan, selama ini kemasan pupuk yang beredar di pasaran berwarna hijau. Tapi yang diduga palsu kemasannya berwarna putih. Ciri yang meragukan keasliannya juga terdapat pada warna butiran pupuk yang lebih merah ketimbang aslinya. Butiran pupuk asli jika dimasukkan ke dalam air mudah larut. Namun kalau yang palsu masih utuh.(IAN/YUS)
http://berita.liputan6.com/daerah/200906/234934/Pupuk.Phonska.Palsu.Beredar.di.Grobogan
Rabu, Agustus 26, 2009
Menurut Djoko Kirmanto, menyusutnya volume air waduk saat musim kemarau merupakan fenomena alam yang tak bisa ditolak. Djoko menambahkan, dalam kondisi curah hujan tinggi saja kemampuan waduk di seluruh Indonesia untuk mengairi sawah hanya sekitar 15 persen dari luas lahan pertanian yang ada.
Lebih jauh lagi, Djoko Kirmanto menjelaskan bahwa satu-satunya cara untuk menekan angka gagal panen adalah dengan pengairan sawah yang dilakukan bergilir sesuai dengan volume air waduk. Djoko Kirmanto mengatakan, jika musim kemarau berlangsung panjang maka pemerintah akan membuat hujan buatan untuk mencegah terjadinya bencana kekeringan di Tanah Air.(JUM/LUC)
sumber :http://berita.liputan6.com/ekbis/200908/240113/Sejumlah.Waduk.Kritis.Panen.Terancam.Gagal
PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2008
Pekarangan sebagian besar hanya dimanfaatkan sebagai penunjang konsumsi sehari-hari serta belum banyak mempehatikan aspek keragaman dan budidaya. Untuk mensinergikan antara potensi pekarangan yang ada dengan permasalahan pangan dan gizi yang terjadi, maka fungsi pemanfaatan pekarangan perlu ditingkatkan lagi, baik dipedesaan maupun di perkotaan.
Lahan pekarangan yang dikelola secara optimal dapat memberikan manfaat bagi rumah tangga dan keluarga yang mengelolanya. Lahan pekarangan yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat antara lain adanya peningkatan gizi keluarga, tambahan pendapatan keluarga, lingkungan rumah asri, teratur, indah dan nyaman.
Tujuan dari pemanfaatan pekarangan adalah :
1. Memenuhi kebutuhan gizi mikro keluarga secara berkesinambungan melalui pemanfaatan pekarangan.
2. Meningkatkan ketrampilan keluarga tani-nelayan dalam budidaya tanaman, ternak dan ikan serta pengolahannya dengan teknologi tepat guna.
3. Meningkatkan pendapatan keluarga tani-nelayan mellui kerjasama pemanfaatan pekarangan dengan berkelompok dalam skal usaha ekonomi.
Sasaran dari pemanfaatan pekarangan Kelompok Wanita Tani (KWT), sebagai upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan ditingkat rumah tangga dan tercapainya penurunan kemiskinan melalui pemberdayaan perempuan. Kegiatan Pemanfaatan pekarangan dilaksankan sejak tahun 2002 sampai tahun 2008
sumber : http://www.sekretdkplampung.org/index.php?option=com_content&task=view&id=73&Itemid=161
Kamis, Agustus 20, 2009
Pameran pangan ini diadakan oleh departemen perdagangan yang bekerjasama dengan metro dan persatuan istri -istri menteri yang bertempat di balai sidang Jakarta pada tanggal 6 - 9 Agustus 2009 yang dihadiri oleh semua pengusaha dan peserta pangan dari seluruh Indonesia. Pameran tersebut merupakan ajang untuk mempromosikan produk-produk unggulan dari daerah sebgai ciri khas, apalagi pameran ini diresmikan oleh ibu negara yaitu istri presiden SBY dan dihadiri juga oleh Menteri perdagangan dan Menteri Peranan Wanita.
Salah yang disajikan disana makanan-makanan khas daerah misalkan dari Sumatera Barat, NTT, NTB dan lainya diseluruh Indonesia. Dengan diadakan pameran pangan ini warga jakarta menyambut baik dengan banyak pengujung yang merasakan dan mencicipi makanan-makanan khas daerah yang di indoensia. Acara ini juga mengadakan lomba-lomba seperti kuliner, perlombaan makanan khas daerah-daerah, perlombaan stan terbaik, dll.
Oleh karena Asosiasi Perdagangan Komoditi Agro Jawa barat perparsipasi sebagai peserta Pameran pangan. Yang dipamerkan oleh APKA Jawa barat yaitu sayur-sayuran, buah-buahan, stroberry dari asal Ciwidey yang peserta dari anggota-anggota APKA sendiri. Dengan diadakan pameran ini produk-produk kita bisa dikenal oleh masyararat yang ada di Kota Jakarta dan sekitarnya dan saling bertukar informasi dengan para pengusaha pangan di seluruh Indonesia. Dengan tulisan ini saya berharap untuk memajukan produk-produk dalam negeri kita sendiri dan memajukan Indoensia sebagai negara agraris yang subur makmur.
Rabu, Agustus 19, 2009
SNI UNTUK PUPUK ORGANIK
Pemerintah Akan Tertibkan Pupuk Organik
JAKARTA. Pemerintah akan menertibkan pupuk organik yang beredar di pasar saat ini. Caranya, pemerintah akan membuat standar nasional (SNI) komposisi pupuk organik yang diproduksi usaha kecil dan menengah (UKM). Juru bicara Departemen Pertanian Syukur Iwantoro menyatakan, dasar penyusunan standar itu adalah Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian tahun 2005 tentang batas minimal kandungan yang terdapat pada pupuk organik. Tujuannya adalah melindungi para petani dengan menertibkan para penjual yang masih seenaknya membuat pupuk dengan komposisi yang belum sesuai. "Selama ini banyak penjual pupuk yang mengatakan pupuknya merupakan organik tapi kandungannya masih di bawah batas minimum," katanya. Selain itu, perlu ada standar karena pemerintah akan mengkampanyekan penggunaan pupuk organik. Kampanye ini dilakukan sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Selama ini petani kurang suka pakai pupuk organik dan lebih suka menggunakan pupuk kimia seperti UREA, ZA, NPK atau Superphos.
Alasan mereka karena takut dengan bakteri dalam pupuk organik. "Tetapi mereka tidak sadar efek pupuk kimia dalam jangka panjang yang mencemari lahan dan mengurangi kesuburan," ujar Syukur. Sebaliknya, penggunaan pupuk organik bisa mengembalikan kesuburan dan meningkatkan produksi lahan. Syukur mencontohkan pemberian pupuk organik pada sawah. Pemberian pupuk organik 500 kilogram per hektare mampu meningkatan produksi padi 15%-22%.
Adanya standar pupuk organik juga akan memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada industri UKM pembuat pupuk tentang formula pupuk organik yang tepat. Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin), Adi Sasono mengatakan saat ini baru 15% dari jutaan hektare lahan pertanian yang memakai pupuk organik. Padahal dari peternakan sapi yang sudah ada saat ini, Indonesia mampu menghasilkan 800.000 liter pupuk cair organik per bulan. Sedangkan pupuk padat organik yang diperoleh, dapat dipakai untuk pemupukan 90.000 hektare lahan.
Anna Suci Perwitasari KONTAN
sumber : http://www.kontan.co.id/index.php/nasional/news/10233/Pemerintah-Akan-Tertibkan-Pupuk-Organik
Senin, Agustus 17, 2009
Cipayung, Kompas
Meledaknya serangan hama di daerah pertanian, antara lain disebabkan oleh perubahan komunitas alami dengan diversitas tinggi,menjadi komunitas pertanian monokultur dengan diversitas rendah."Selain itu, penggunaan insektisida kimia merupakan salah satu penyebab terjadinya pergeseran keseimbangan ekologi di dalam suatu ekosistem." Demikian Ketua Umum Pusat Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) Dr Ir Sudarwohadi Sastrosiswojo dalam sambutannya saat membuka simposium Keanekaragaman Hayati tropoda pada Sistem Produksi Pertanian, awal pekan ini, di Cipayung, Bogor. Saat ini, tambah Sudarwohadi, ekosistem produksi di Indonesia dicirikan oleh keseragaman spesies atau jenis tumbuhan, binatang, dan jasad renik, serta keseragaman genetik. "Keseragaman tersebut didorong oleh usaha pemerintah dan petani untuk mencapai sasaran peningkatan produksi dan pendapatan petani dalam rangka pertumbuhan ekonomi nasional," paparnya.Ekosistem produksi pertanian seragam, lanjutnya, merupakan ekosistem yang tidak stabil atau tidak seimbang. Hal itu sangat rawan terhadap ledakan hama/ penyakit tanaman, menurunkan keanekaragaman hayati dan kualitas hidup setempat, serta dapat membahayakan kesehatan manusia akibat penggunaan pestisida
kimia yang berbahaya. Adapun dampak negatif keseragaman ekositem terhadap lingkungan,
menurut Sudarwohadi, antara lain adalah menurunkan kesuburan tanah, terbunuhnya banyak organisme bermanfaat-seperti serangga parasitoid, predator, penyerbuk tanaman, lebah madu, dan binatang pengurai sisa-sisa tanaman-serta memberi dampak negatif terhadap atmosfer. Sudarwohadi juga mengungkapkan, pada ekosistem pertanian,
banyak kelompok dan jenis antropoda/serangga yang sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian dan keamanan pangan, yaitu serangga-serangga pengurai bahan organik dan penyubur tanah, serangga air sebagai indikator pencemaran
lingkungan, serangga penyerbuk tanaman, dan serangga-serangga yang dapat mendegradasikan limbah. "Banyak serangga dan antropoda bermanfaat, yang kehidupan dan erkembangannya terhambat di ekosistem produksi pertanian yang seragam dan banyak menggunakan bahan kimia berbahaya," tambahnya. (pun)
sumber : http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/message/1109
Kompas Kamis, 04 Mei 2006
Sayuran Organik yang Tak Lagi Organik
Sembiring (40) dibantu keponakannya sibuk menyiapkan lahan seluas 10 x 20 meter yang rapat tertutup kelambu, semacam jaring rapat berwarna putih pudar. Tanah di dalam lahan tertutup tersebut dibagi dalam petak-petak berukuran 1 x 5 meter. Sembiring adalah satu dari 25 kepala keluarga binaan Balai Penyuluhan Pertanian Terpadu (BPPT) Dinas Pertanian Pekanbaru yang diberi kesempatan mengelola lahan sayur organik di kawasan Marpoyan, Pekanbaru, Riau, sejak tahun 2002. Dengan jatah lahan per kepala keluarga 2.000 meter persegi, total luas kebun sayur organik di Marpoyan mencapai 50.000 meter persegi. Proyek perkebunan sayur organik ini adalah program percontohan dan juga menjadi andalan untuk memenuhi target hasil kebun 30 ton per minggu. Sayuran hasil perkebunan Sembiring memang diekspor ke Singapura. Tentu kualitas sayurannya harus benar-benar prima sesuai dengan kriteria yang diminta negara tujuan sebagai sayuran organik, dalam arti tanpa ada campur tangan bahan kimia sama sekali.
"Namun, sejak satu sampaidua tahun ini, petani terpaksa memakai pupuk dan desinfektan berbahan kimia aktif. Hal ini untuk mengefektifkan kerja kami karena tidak ada lagi subsidi untuk pengelolaan kebun. Padahal, mengelola sayuran organik ini amat mahal," kata Sembiring. Laki-laki asal Kota Medan, yang menetap di Pekanbaru sejak 10 tahun terakhir, ini menambahkan, keluarga-keluarga petani sayur ini difasilitasi dan diizinkan menggarap lahan milik pemerintah daerah selama lima tahun. Mereka melaksanakan ini dengan sistem kontrak. Perhitungan sewa kontrak lahan seluas 2.000 meter persegi per kepala keluarga ditambah biaya pengadaan bibit, pupuk, serta pengelolaan harian. Setiap petani, per bulannya membutuhkan dana Rp 1,9 juta.
Dengan target panen mencapai 3,5 ton sekali panen per 30 hari, para petani seharusnya mampu meraup untung Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Namun, ternyata perhitungan tersebut meleset, dan para petani paling banyak hanya mendapatkan Rp 600.000 per bulan, itu pun kalau beruntung tidak gagal panen. Menurut Sembiring, mengelola sayur organik dibutuhkan ketelatenan dan keahlian tertentu. Kondisi lahan, seperti tanah, air, serta kelambu harus selalu steril. Dengan pengelolaan yang hati-hati tersebut, penggunaan obat pembasmi hama dengan kandungan zat kimia berbahaya dapat dihindari. Pada tahun pertama, BPPT membantu pengadaan kelambu dan pupuk organik. Bahkan, BPPT menempatkan petugas pendamping untuk membantu warga mengelola pertanian organik ini. Pada tahun pertama, target awal memang terpenuhi. Mulai tahun kedua, petani harus berusaha sendiri mengelola kebunnya. Akan tetapi, ternyata lahan yang diperuntukkan bagi pemberdayaan sayur organik ini tidak bebas hama. Ditemukan hama siput pada tanaman serta binatang kecil, dengan bagian ekor mirip gunting, yang merusak akar tanaman. Di samping itu, kelambu yang telah berusia empat tahun lebih telah berlubang-lubang, menyebabkan hama dari luar mudah masuk. Sayuran pun sering tumbuh dengan daun menguning, keriting, atau dipenuhi ulat. Keterbatasan dana menyebabkan para petani ini tidak dapat membeli obat antihama yang aman untuk sayur organik. Tidak hanya Sembiring, petani lainnya di kawasan Marpoyan, Yanto (35) dan kawan-kawan, juga mengerjakan pertanian organiknya dengan seadanya. Yanto memang mengikuti cara bertani Sembiring yang awalnya terlihat berhasil. Namun, dengan kondisi tanah seperti lahan yang dikerjakan Sembiring, pengembangan usaha Yanto pun gagal. Akibatnya, demi mengejar hasil sayur yang dapat dipanen dan dijual, semua petani yang mengelola sayur organik tak segan menggunakan pupuk serta pembasmi hama biasa. Selain produksi tidak sesuai target, sayuran yang dihasilkan pun sebenarnya tidak lolos kualitas ekspor. Kini, hanya sekitar 60 persen hasil produksi sayur organik yang tak lagi organik, berupa bayam, selada air, sawi, dan beberapa jenis lainnya, yang masih ditampung para importir Singapura. Selebihnya, dijual ke pasaran lokal dengan harga rendah. (neli triana
Tags: tak organik
Prev: Tanpa Jaminan, Petani Organik Masih Enggan
Next: Makan Sehat Sambil "Berevolusi"
sumber : http://amiere.multiply.com/reviews/item/85 dan
Jumat, Juli 24, 2009
Lampiran: 1 Lembar
Perihal : Profosal penawaran kerjasama pupuk
Kepada yth,
Pimpinan/Direktur/Direksi /Kel. Tani/Asosiasi
Di
Tempat
Dengan Hormat,
Dengan surat ini usaha kami yang bergerak di bidang pertanian untuk mempromosikan pupuk organic cair yang bernama “Punik” yang bertujua : meningkatkan hasil pertanian ramah lingkungan, meningkatkan unsur hara tanah, meningkatkan kesuburan tanah. Oleh sebab usaha kami ingin mengajak kepada pimpinan/direktur/direksi perusahaan yang bergerak dibidang pertanian untuk bekerjasama dengan pihak usaha kami. Dan kalau ibu/bapak berminat untuk membuka distributor/perwakilan di daerah-daerah dalam memperkenalkan produk pupuk ini kepada para petani dan pengusaha pertanian.
Dengan surat ini Bapak/ibu berkenan untuk menindaklanjuti surat kerjasama ini, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih
Hormat saya
alinudin Hukubun,SP
Minggu, Juli 12, 2009
NUSA DUA, KAMIS – Buruh harian lepas (BHL) di perkebunan kelapa sawit khususnya perempuan rentan bahaya keracunan pestisida, pupuk dan proses penyerbukan sawit. Sistem kerja yang tidak adil juga menyebabkan banyak anak-anak buruh yang putus sekolah demi membantu orangtuanya. Hal ini diungkap dalam diskusi bertajuk Labours, Women, Children and Agrochemical, diselenggarakan Sawit Wacth, sebagai kegiatan back to back dengan Pertemuan tahunan Roundtable On Sustainable Palm Oil (RSPO) VI, Bali (19/11).
"Banyak pekerjaan berbahaya yang melibatkan bahan kimia berbahaya dikerjakan buruh perempuan, seperti penyemprotan pestisida dan pemupuk serta penyerbukan tanpa perlengkapan dan informasi yang memadai,” Jelas Lili Pintauli Siregar, dari Komisioner Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.
Dampak kesehatan yang dirasakan mulai dari iritasi ringan, kulit terbakar hingga terburuk adalah kematian janin pada buruh perempuan yang sedang hamil. Lili menambahkan, buruh harian lepas perempuan juga kerap mengalami pelecehan dari kelompok mandor.
Dalam empat bulan terakhir di Sumatra Utara saja tercatat ada 47 kecelakaan yang dicatat oleh Kelompok Petani Sejahtera terjadi di perkebunan sawit dan karet. Diantaranya 32 korban masuk dalam kategori kecelakaan ringan, 11 korban cacat total terkena getah, tertimpa buah sawit dan terkena getah karet dan kotoran kedalam mata sehinggabuta dan 2 korban meninggal akibat tertimpa tanda buah segar dan terkena sengatan listrik di areal perbatasan kebun.
Seorang buruh perempuan yang bekerja pada PT Lonsum selama 3 tahun sudah tiga kali mengalami gatal-gatal setelah menyemprot herbisida, tetapi tidak sekali pun diganti biaya kesehatannya oleh perusahaan tempatnya bekerja.
”Tugas saya membasmi rumput dengan RoundUp, dengan upah Rp.23.000,- kalau bekerja dari pukul 7-12 siang.” ungkapnya. Hingga kini perusahaan tidak pernah memberikan masker yang diminta oleh buruh.
Sebagian besar buruh harian lepas di perkebunan sawit tidak mendapatkan perlindungan dan informasi yang layak dalam melakukan pekerjaan terkait dengan bahan kimia berbahaya. Buruh harus bisa memenuhi keselamatan kerja sendiri untuk dapat bekerja di perusahaan sawit. Bahkan anak-anak buruh (12-18 tahun) memiliki kerentanan yang sama.
”Pada masa panen, banyak orang tua mengajak anaknya untuk mengejar target waktu dan target produksi. Anak-anak ini tidak dibayar karena status membantu orang tua mereka. Akibatnya mereka putus sekolah.” papar Gindo Nadapdap, Direktur Eksekutif KPS Medan, yang bekerja pada isue buruh sawit.
Kelompok ini mengharapkan Pertemuan RSPO VI, mau melihat kenyataan yang ada di lapangan dan secara serius menerapkan prinsip dan kriteria tentang perkebunan sawit berkelanjutan. ”Kalau masih banyak buruh harian lepas, masih banyak buruh yang mengalami keracunan dan masih banyak anak-anak yang putus sekolah, saya pikir RSPO tidak serius mewujudkan keberlanjutan dalam praktek dilapangan.” tegas Gindo
”Perusahaan jangan lagi menggunakan sistem kontrak dan Buruh Harian Lepas, tetapi mengangkat sebagai buruh tetap dengan fasilitas kesehatan dan pendidikan bagi BHL dan keluarganya," tambah Lili.
http://tekno.kompas.com/read/xml/2008/11/20/2131405/awas.buruh.sawit.rentan.keracunan.pestisida
Selasa, Juli 07, 2009
Senin, Juli 06, 2009
Bokasi tidak lain adalah pupuk organik yang dapat dibuat sendiri dari campuran beberapa bahan dan difermentasikan (dipeuyeum, B.Sunda = red). Adapun bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat bokasi adalah berbagai jenis bahan organik seperti : dedak padi, dedak jagung, dedak gandum,tepung jagung, sekam padi, kulit kacang, amplas kelapa, ampas biji kapas, rumput , serbuk gergaji, sabut dan tempurung kelapa, tepung ikan, tepung tulang, kotoran ternak, sampah dapur, rumput laut, kulit kerang dan lain-lain. Bahan- bahan tersebut diperlakukan dengan efektif mikroorganisme (EM) sebagai mikroba pengaktif (aktivator) sehingga terjadi proses fermentasi. Bokasi itu sendiri terdiri dari dua jenis yaitu bokasi aerobik dan anaerobik. Bokasi aerobik dapat diproduksi dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Sedangkan bokasi anaerobik, energi dan bahan organiknya dapat dipertahankan , namun bila pengelolaannya salah akan menimbulkan keracunan/pencemaran pada tanah. Sebaiknya dalam membuat bokasi digunakan berbagai macam bahan organik agar mendapatkan mikroba yang beragam. Hal ini penting bagi kesuburan tanah. Penambahan arang kayu / arang sekam, zeolite maupun abu kayu juga baik untuk membantu memperbaiki kondisi tanah, disamping bahan tersebut juga sebagai tempat hidup bagi mikroorganisme.
Cara Pembuatan
Langkah pertama yang dilakukan adalah mencampurkan bahan-bahan organik tadi sebanyak 2 – 3 macam. Kemudian kita siapkan larutan EM (saat ini sudah ada beberapa produk EM yang beredar di pasaran) dengan perbandingan larutan EM : molases : air yaitu 1 : 1 : 100. Larutan EM yang telah dibuat tersebut kemudian dituangkan ke dalam campuran bahan organik, diaduk merata sampai terbentuk adonan dengan kandungan air sekitar 40%. Bahan organik yang telah diaduk tadi selanjutnya ditumpuk diatas lantai semen dan ditutup dengan karung goni dan dijaga agar tidak terkena air hujan. Dalam kondisi aerobik, proses fermentasi berlangsung cepat sehingga suhu bokasi akan naik (meningkat). Suhu ideal untuk pembentukan fermentasi tersebut sekitar 34 – 45 o C dan usahakan harus terus dipertahankan. Bila suhunya naik melebihi 50 oC, maka bokasi dibolak-balik agar udara masuk dan suhunya turun. Lama fermentasi bokasi aerobik ini berkisar antara 2 – 4 hari dan bokasi dianggap sudah jadi (siap pakai) bila memberikan bau khas fermentasi dan ditumbuhi jamur putih. Bila berbau busuk, menandakan fermentasi gagal. Perbedaan pembuatan bokasi aerobik dengan anaerobik adalah adonan yang telah dicampur antara bahan organik dengan larutan campuran EM, molases dan air tersebut dimasukkan ke dalam kantok plastik yang kedap udara, kemudian dimasukkan lagi ke dalam kantong plastik lain untuk mencegah terjadinya peredaran udara. Kantong plastik ditutup rapat untuk mempertahankan kondisi anaerobik, kemudian disimpan di tempat yang tidak terkena matahari langsung. Adapun lama proses fermentasinya lebih lama dibandingkan bokasi aerobik. Bokasi yang sudah jadi yang memberikan bau fermentasi harus segera digunakan. Bila ingin disimpan sebaiknya dikeringkan dahulu diatas lantai semen yang terlindung dari sinar matahari. Adapun beberapa jenis bokasi dengan komposisi bahan dan pemanfaatannya dapat dilihat pada Tabel 1.
Penggunaan/Aplikasi
Aplikasi ME dan pemberian bokasi pada tanah yang kurang subur merupakan langkah yang tepat dalam memulihkan kembali kesuburan tanah terutama di daerah kering. Hal ini disebabkan ME dapat melarutkan unsur hara dari bahan induk yang kelarutannya rendah, mereaksikan logam berat menjadi senyawa untuk proses penghambatan penyerapan logam berat pada akar tanaman, menyediakan molekul organik sederhana sehingga dapat diserap langsung oleh tanaman, memacu pertumbuhan tanaman dengan cara mengeluarkan zat pengatur tumbuh, serta memperbaiki struktur/dekomposisi bahan organik dan sisa (residu) tanaman sehingga mempercepat proses daur ulang unsur hara dalam tanah (Wididana,1995). Aplikasi EM itu sendiri dapat dilakukan pada beberapa kegiatan, diantaranya :
1.Perlakuan Sebelum Penanaman
Bokasi dapat diberikan pada tanaman musiman sebelum tanam dengan cara menyebarkannya ke tanah dengan dosis 2 – 2,5 ton/ ha sekitar 2- 3 minggu sebelum tanam, kemudian disiram dengan EM4 yang diencerkan dengan konsentrasi 0.1 %. Setelah diberikan bokasi dan cairan EM, tanah ditutup mulsa jerami atau rumput kering untuk memelihara kelembaban tanah dan mengurangi gulma. Untuk tanaman tahunan, lubang tanam diisi dengan bokasi sebanyak 10 kg dan dicampur pupuk kandang secukupnya 1 – 2 minggu sebelum tanam.
2.Perlakuan untuk benih
EM dapat pula diaplikasikan pada benih yang akan ditanam yaitu dengan cara merendamnya pada larutan EM 0,1% selama 30 menit untuk melapisi benih. Adapun tujuan dari pelapisan dengan EM itu sendiri adalah untuk proses Inokulasi benih.
3. Perlakuan Sesudah Penanaman
Bibit yang telah dipindah serta tumbuh akarnya dilakukan penyiraman dengan larutan ME 0.1 % secara merata. Adapun dosis jumlah larutan yang digunakan dilakukan dengan perbandingan tepat sesuai dengan jumlah air yang diperlukan untuk menggenangi lahan. Pada tanaman tahunan, setelah bibit ditanam yang telah ditutup mulsa jerami/daun-daunan kering dapat disiram dengan EM 0.1 %.
4. Perlakuan Selama Masa Pertumbuhan
Larutan EM 0.1% disiramkan atau disemprotkan ke tanah dan tanaman setiap minggu 1-2 kali selama satu bulan. Kebutuhan untuk setiap kali penyiraman kurang lebih 5 – 10 liter/Ha. Penambahan perlakuan EM tidak akan menimbulkan masalah, namun perlu diperhitungkan biayanya. Biasanya pada masa pertumbuhan frekuensi pemberian EM lebih sering, sedangkan bila pertumbuhan tanaman sudah baik, maka waktu (interval) pemberian EM lebih diperpanjang. Untuk menjaga agar tidak terjadi keracunan yang ditandai dengan bercak kuning pada daun sebagai akibat keasaman larutan tersebut sebaiknya pengenceran EM tidak kurang dari 1 : 500. Perlakuan EM yang dilakukan bersama-sama dengan pestisida maupun pupuk anorganik sangat tidak dianjurkan, karena akan mengurangi efektivitas dan pengaruh positif dari EM. Sebaiknya pernyemprotan EM dilakukan setelah aplikasi pestisida/pupuk anorganik dilakukan.
5.Perlakuan Setelah Panen
Setelah dilakukan pemanenan pada tanaman kita, maka bagian tanaman yang tidak diperlukan (biomas) dikembalikan ke dalam tanah. Larutan EM 0.1 % disiramkan ke biomas dan dicampur dengan bokasi, kemudian ditutup dengan mulsa jerami atau bahan lainnya. Perlakuan ini sangat dianjurkan karena dapat menambah bahan organik tanah, memperbaiki struktur tanah, mencegah terjadinya erosi, memperkaya mikroorganisme menguntungkan, serta memper-tahankan kondisi tanah yang cocok untuk kehidupan ME, menekan pertumbuhan gulma dan menambah unsur hara terutama kalium.
Hasil Uji Coba Penggunaan EM dan Bokasi pada Usahatani
Pengujian di lapangan dengan menggunakan EM dan Bokasi telah dilakukan di beberapa tempat. Pada tanaman kentang dan bawang merah di daerah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur oleh BPTP Karangploso Malang. Pada buncis dan kacang hijau di Srilangka dan pada tanaman jagung di wilayah China bagian Timur. Pada tanaman Jeruk varietas Lemon yang dilakukan oleh Wibisono et. al. (1996). Seluruh penelitian menunjukkan adanya peningkatan produksi baik secara morfologis tanaman maupun produksinya.
Kondisi lahan yang telah
disiram larutan ME
Hasil percobaan yang dilakukan pada tanaman kentang dan bawang merah di pacet yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh EM dan bokasi serta efektifitasnya dalam mengurangi kerusakan oleh gangguan OPT menunjukkan : Penggunaan EM dan bokasi dapat memacu pertumbuhan tanaman kentang dan bawang putih selama fase autotropi mulai umur 1 – 5 minggu, produksi umbi kentang meningkat 35% dan bawang putih 26% pada perlakuan EM dan bokasi. Pendapatan bersih usahatani kentang dengan perlakuan EM dan bokasi dapat mencapai 1.95 kali lipat dibandingkan tanpa menggunakan EM dan bokasi serta 3.25 kali lipat dari cara petani. Hasil percobaan yang dilakukan di Srilangka pada tanaman buncis (Phasealus vulgaris) dan kacang hijau menunjukkan bahwa pemberian EM yang diberikan bersama-sama dengan pupuk organik dapat meningkatkan meningkatkan efektifitas dan manfaat EM dalam tanah. Disamping itu untuk memperoleh tingkat produksi yang maksimal, diperlukan pemberian pupuk anorganik, khususnya pada tanah yang tingkat kesuburannya rendah.
Sedangkan hasil percobaan penggunaan bokasi dan EM yang dilakukan di China pada tanaman jagung dan gandum menunjukkan adanya peningkatan jagung dan gandum. Dan terakhir percobaan EM pada tanaman jeruk Lemon menunjukkan bahwa penggunaan EM 4 secara nyata dapat meningkatkan jumlah akar, panjang akar, berat basah dan berat kering akar.
(Ir. Ruly Hardianto, Petunjuk Teknis Rakitan Tekhnologi BPTP Karangploso)
Pendahuluan
Krisis pangan yang terjadi di negara kita telah memacu pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pengembangan perekonomian yang berbasis pada pertanian termasuk di dalamnya intensifikasi pertanian dan pemanfaatan lahan-lahan tidur untuk mencapai peningkatan kebutuhan pupuk, sehingga keberadaan pupuk di pamasaran menjadi langka. Kebijakan lain yaitu sehingga subsidi terhadap pupuk organik telah mengakibatkan pula melambungnya harga pupuk tersebut , sehingga sulit terjangkau oleh petani. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan penyediaan pupuk agar terjangkau oleh petani adalah melalui pemanfaatan bahan baku organik alami menjadi pupuk organik cair. Upaya ini sangat tepat dan kebijaksanaan karena bukan hanya permasalahan lingkungan saja yang dapat ditanggulangi, tetapi produk pupuk organik yang dihasilkan dapat pula membantu menjawab kelangkaan dan mahalnya harga pupuk anorganik saat ini.
Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan, bahwa tanaman dan limbah, misalkan : pupuk kandang (ternak besar dan kecil), hijauan tanaman rerumputan, semak, dan pohon, limbah tanaman (jerami padi, bidang jagung, sekam padi dll) dan limbah agroindustri. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan tanah yang kecukupan bahan organik mempunyai kemampuan mengikat air lebih besar dari pada tanah yang kadungan bahan organiknya rendah. Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami daripada bahan pembenah buatan (sintesis pada umumnya pupuk organik mengandung unsur hara N, P,K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan pertumbuhan tanaman sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik mencegah terjadinya erosi tanah, pupuk organik mencegah terjadi erosi, pengerakan permukaan tanah, memprtahankan pengatasan dakhil. Nitrogen dan usur hara yang lain di lepaskan oleh bahan organik secara perlahan-lahan melalui proses mineralisasi. Dengan demikian apabila diberikan secara berkesinambungan, maka akan banyak membantu dalam membangun kesuburan tanah. Pemebpatan pupuk organik kedalam tanah dapat dilakukan seperti pupuk kimia, misalkan untuk kompos, pupuk kandang, azolla, daun lamtoro, limbah agroindustri (bambu masak, limbah pengelohan minyak sawit dll). Pupuk organik dapat memasak sebagai hara yang dikandung pupuk kimia.
Karakteristik umum yang dimiliki pupuk organik adalah sebagai berikut:
1. Kandungan hara rendah, kadungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung pada jenis bahan dasarnya
2. Ketersediaan dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikroba tanah untuk dilihrupakan dari bentuk ikatan kompleks organik yang tidak dapat dimamfaatkan oleh tanaman menjadi bentuksenyawa organik dan organik sederhanan yang dapat diserap oleh tanaman.
3. Menyediakan hara dalam jumlah terbatas penyediaan hara yang berasl dari pupuk organik biasanya terbatas dan tidak cukup dalam meyediakan hra yang diperlukan tanaman.
Pengaruh pupuk organik
Secara garis besar, keuntungan yang diperoleh memanfaatkan pupuk organik adalah sebagai berikut:
1. Mempengaruhi sifat fisik tanah warna tanah dan cerah akan berubah menjadi kelam
2. Mempengaruhi sifat kimia tanah kapsitasn hara meningkat penggunaan bahwa organik.
3. Mempengaruhi sifat biologi tanah bahan organik akan menambah energi yang diperlukan kehidupan mikroorganisme tanah
4. Mempengaruhi kondidi sosial. Daur ulang limbah perkotaan maupun pemukiman akan mengurangi dampak pencemaran dan meningkatkan peyediaan pupuk organik.
Pupuk organik berasal dari ternak dari ternak damn tanaman seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, itik, dedaunan, jerami padi, batang jagung, sekam padi dll. Pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi atau ayam merupakan pupuk organik yang umum digunakan dalam pemupukan organik, tetapi hanya mampu memberikan unsur hara dalam jumlah terbatas. Pupuk organik memacu dan miningkatkan populasi mikrobab di dalam tanah jauh lebih besar daripada hanya memberikan pupuk kimia. Pupuk organik merupakan bahan pembenah yang paling baik dibandingkan bahan pembenah lainnya. Pada umumnya nilai pupuk yang dikandung pupuk organik terutanma unsur makro nitrogen (N), Fosfor (P) dan kalium (k) rendah, tetapi pupuk organik juga mengandung unsur mikro esessial yang lain. Sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik membantu dalam mencegah terjadinya retakan tanah. Pemberian bahan organik mampu meningkatkan kelembapan tanah dan memperbaiki pangtusan dakthil.
Nitrogen dan unsur hara lain yang dikadang pupuk organik dilepaskan secara perlahan-lahan. Penggunaan secara berkesimbungan akan banayak membantu dalam membangun kesuburan tanah, terutama apabila dilaksanakan dalam waktu yang nisbi panjang.
Bahan organik sebagai sumber hara tanaman
Untuk mengetahui kebutuhan hara tanaman secara lebih teapt diperlukan analisis labotorium. Segera setelah dilakukan analisis tanah maka kebutuhan hara suatu jenis tanah dapatt ditemukan. Petani harus kreatif untuk memformulasikan campuran pupuk yang berasal dari bermacam-macam sumber bahan pupuk makin banyak bahan campuran yang digunakan, makin baik kualitas pupuk organik.
Pengertian dari pupuk organic cair
Pengertian pupuk dibahas di beberapa literature memang ditampilkan dalam kalimat yang berbeda, tetapi bias dikatakan memiliki pengertian yang sama. Pupuk Adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsure-unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman. Pengolongan pupuk umumnya didasarkan pada sumber bahan yang digunakan, cara aplokiasi, bentuk, kandungan unsur haranya. Bersadarka bentuknya, pupuk organic dibagi menjadi dua cair dan padat. Pupuk cair adalah larutan mudah larut berisi satu atau lebih pembawa unsure yang dibutuhkan tanaman. Kelebihannya dari pupuk cair adalah dapat memberikan hara sesuai dengan kebutuhan tanaman. Selaian itu, pemberiannya dapat lebih merata dan kepekatannya dapt diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman. Namum, jika dilihat bersadarkan sumber bahan yang digunakan, pupuk dibedakan menjadi pupuk anorganik dan pupuk organic. Dalam pengertian lain pupuk organic cair adalah laruran dari pembusukan bahan-bahan organic yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsure haranya lebih dari satu unsure. Kelebihan dari pupuk organic ini adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara, tidak masalah dalam pencucian hara, dan mampu menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik, pupuk organic cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk ini juga memiliki bahan pengikat, sehingga larutan pupuk yamg diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman.
Karateritik Pupuk organic cair
Seperti halnya pupuk yang padat, pupuk kandang cair juga berasal dari kotoran hewan, namum pupuk kandang cair berasal dari urine ternak
Tabel, Kandungan hara makro kotoran padat dan cair beberapa jenis ternak
Jenis ternak Jenis Kotoran Kandungan Hara Makro (%)
Nitrogen Fosfor Kalium Kalsium
Kuda Padat 0,56 0,13 0,23 0,12
Cair 1,24 0,004 1,26 0,32
Kerbau Padat 0,26 0,08 0,14 0,33
Cair 0,62 - 1,34 -
Domba Padat 0,65 0,22 0,14 0,33
Cair 1,43 0,01 0,55 0,11
Sapi Padat 0,33 0,11 0,13 0,26
Cair 0,52 0,01 0,56 0,007
Babi Padat 0,57 0,17 0,38 0,06
Cair 0,31 0,05 0,81 -
Penelitian pupuk organic cair
Pupuk organik cair ditemukan pada tahuan 2005 dari hasil penelitian di balai hortikultura lembang dan sekarang pupuk itu dalam tahap proses penelitian. Proses pembuatan pupuk ini dilakukan dengan cara fermentasi dan tidak menggunakan bahan-bahan yang berbau kimiawi. Bahan yang digunakan dari sampah – sampah industri dan bahan mentah yang banyak di buang oleh masyarakat disekitar kota besar misalkan Bandung, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya yang ada di Indonesia. apabila sampah tersebut tidak dimanfaatkan akan mengakibatkan sampah menjadi banyak dan terjadinya wabah penyakit dimana-mana Dalam pembuatan pupuk ini kita dilakukan dengan pengumpulan bahan - bahan sampah disekitar kita atau pasar yang tidak terpakai, lalu digunakan untuk bahan pembuatan pupuk organik ini. Fungsinya untuk meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan hasil pertanian, meningkatkan sifat fisik tanah, meningkatkan sifat kimia tanah, menaikan PH dan kesuburan tanah. Karena dengan pemakaian pupuk kimia yang berlebihan akan mengakibatkan tanah menjadi padat dan tidak ada unsur hara bisa juga menurunkan produktifitas tanaman pada saat panen. Unsur – Unsur yang terdapat pupuk cair (punik) ini dari hasil penelitian di Balai Hortikultura Kabupaten Lembang pada tahun 2005 kandungan meliputi N, K, H2O, CL .
Pupuk Kambing
Menurut Balai Penelitian Ternak Bogor bahwa salah ternak yang cukup berpotensi sebagi sumber pupuk organik adalah kambing dan domba. Petani umumnya memelihara ternak tersebut sebagai usaha sampingan. Didaerah Cirebon, Bogor dan Garut, setiap petani rata-rata memiliki kambing-domba 6,32 ekor. Rata-rata setiap ekor ternak memerlukan pakan hijuan segar 5,35 kg/hari atau 33,3 kg/peternak. Berdasarkan hasil perhitungan, dari jumlah pakan yang dikonsumsi tersebut, 4 kg akan dikeluarkan sebagai fases (bahan kering fases 45 %) per hari per 6,32 ekor. Selain itu, sisa pakan hijauan yang terbuang berkisar 40-50% atau 14,2 kg,. Dengan demikian, fases dan sisa pakan hijauan yang dapat dikumpulkan setiap hari sebagai bahan kompos mencapai 18,2 kg untuk setiap peternak. Fases kambing-domba mengandung bahan kering dan berturut-turut 40-50 % dan 1,2 - 2,1 %. Kandungan tersebut bergantung pada bahan penyusunan ransum, tingkat kelarutan nitrogen pakan, nilai biologis ransum , dan kemampuan ternak untuk mecerna ramsum. Produksi urin kambing-domba mencapai 0,6-2,5 l/hari dengan kandungan 0,51-0,71 %. Variasi kandungan nitrogen tersebut tergantung pada pakan yang dikonsumsi, tingkat kelarutan protein kasar pakan, serta kemampuan ternak untuk memanfaatkan nitrogen asal pakan. Kotoran kambing-domba yang tersusun dari fases, urin dan sisa pakan mengandung nitrogen lebih tinggi dari pada yang hanya berasal dari fases.
Pemeliharaan ternak dengan dikandangkan dan pemberian pakan sistem “potong angkut” kemudahan petani untuk mengumpulkan kotoran ternak. Apabila pengumpulan dan pengambilan kotoran kambing-domba dilakukan setiap tiga bulan maka produksi kotoran kambing-domba mecapai 1.728 setiap peternak.
Pengolahan kotoran kambing Domba menjadi Pupuk Organik Padat
Kotoran kambing-domba dapat dimamfaatkan secara langsung dengan memcampurkannya pada saat pengolahaan tanah. Namum untuk mendapatkan hasil lebih baik, disarankan agar kotoran diolah terselibih dahulu. Hasil olahan tersebut dikenal dengan pupuk kandang. Cara pengolahan kotoran tersebut digolongkan dengan sistem terbuka dan tertutup. Pada sitem terbuka kotoran dibiarkan sekitar 3 bulan dalam lubang penampung yang tersedia di bawah kandang panggung. Cara ini cukup murah dan mudah. Kotoran yang telah tertimbun dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik. Pengolahaan dengan sistem tertutup dilakukan dengan cara menimbun kotoran dalam suatu lubang yang diberi atap dan terhindar dari genangan air. Lantai dan dinding lubang sebaiknya disemen untuk mencegah kehilangan unsur hara. Selajutnya lubang ditutup dengan tanah setebal 30 cm dan biarkan selama 3 bulan. Pupuk organik kemudian dikeluarkan dan siap digunakan.
Pengolahan kotoran kambing Domba menjadi Pupuk Organik Cair
Pengolahaan kotoran kambing domba menjadi pupuk organik cair dengan cara fermentasi
Daun Babadotan
Tanaman Babadoatan (Ageratum Conyzoides Linn) merupakan tumbuhan dari Famili Asteraceae. Tumbuhan ini diberbagai daerah di Indonesia memiliki naman yang berbada antara laian di Jawa di sebut babadotan, di Sumetera dikenal daun tombak, dan di madura disebut wedusan. Tumbuhan ini merupakan herba menahun, tegak dengan ketinggian 30 -8 cm dan mempunyai daya adaptasi yang tinggi, sehingga mudah tumbuh dimana-mana dan sering menjadi gulma yang merugikan para petani. Namum dibalik Ageratum dapat digunakan sebagai obat, pestisida dan herbisida, bahkan untuk pupuk dapat meningkatkan hasil produksi tanaman. Disisi lain Ageratum yang menunjukkan gejala lurik kekuningan dapt menjadi sumber tanaman lain yang diusahakan di sekitarnya. Ageratum telah digunakan secara luas dalam pengobatan trasional oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Di India Ageratum banyak digunakan sebagai bakterisida, antidisentri dan antilitnik. Sedangkan di Brazil, perasan/eksrak tanaman ini sering untuk menagani kolik, flu dan deman, diare, rheumatic dan efeketif mengobati luka bakar. Di Indoensia, Ageratum banyak digunakan untuk obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Yang telah dibuktikan secara ilimiah sebagai obat anti-inflamasi. Prof. Elin Yulinah Sukandar menemukan bahawa ekstrak babadotan yang dicampur dengan ekstrak jahe terbukti efektif mengobati radang yang disebabkan bakteri Stayhylococcis aureus pada kelince percobaan.
Pengaruh Tanaman babadotan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman
Tabel 1. Pengaruh daun Ageratum terhadap petumbuhan dan perkembangan tanaman padi
Perlakuan Tinggi Tanaman (mm) Jumlah biji/bulir/ranting Hasil Panen (ton/ha)
Kontrol 85,6 108,0 4,3
A. Conyzoides 90,0 125,0 5,3
Herbisida 83,3 110,0 4,7
Sumber : Xuan et al., 2004, Crop Protection 2004, 23 : 915 - 922
Bila kita perhatikan dengan teliti, tanaman Argeratum sebagai populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya dalam suatu lahan. Ageratum diduga kuat mempunyai allelopathy, suatu keadaan dimana tanaman/ bahan tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman lainnya. Hasil Penelitian Xuan et al. yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang (Crop Protection ,2004, 23 : 915 – 922).
Gambar : Hasil penelitian dengan menggunakan pupuk organic cair pada Tanaman Padi Ciherang di Kecamatan Ciwidey Kabuapaten Bandung Propinsi Jawa Barat
Sumber
1. Alinudin Hukubun, SP, Modul Pupuk Organik cair, 2005
2. Sukanto Hadisuwito, Membuat Pupuk Kompos Cair, Agromedia Pustaka, 2007.
3. Xuan et al., 2004, Crop Protection 2004, 23 : 915 – 922
Disusun Oleh Alinudin Hukubun, SP
Profesi : Konsultan pertanian
Alamat Kantor : JL. Sedap malam I no 14 Blok 9 Perumnas Rancaekek Kencana Kelurahaan Rancaekek Wetan Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung Propinsi Jawa Barat Telp (022) 87700794 atau (022) 76717801 email alinudin@yahoo.com, alinudina@yahoo.com , www.alialampersada.blogspot.com dan facebook Alinudin Hukubun , No Rek 000501033107500 BRI Cabang Asia afrika
Kamis, Juni 11, 2009
Sampah merupakan bahan yang terdiri sampah plastik, sampah rumah tangga, limbah-limbah pasar dan limbah pabrik .Sampah juga menimbulkan pemasalahan-permasalahaan yang sangat besar. Misalkan saja untuk kota Bandung saja yang menghasikan sampah kota sekitar 4 ton perhari belum dengan daerah-daerah lain yang di luar Bandung. Sampah juga akan membuat lingkungan menjadi kotor dan bau tidak enak, oleh sebab itu sampah yang dikota-kota besar harus dibuang jauh dengan menyediakan tempat-tempat khusus untuk menampungan sampah.
Tempat penampungan itu harus jauh dari lokasi pemukiman penduduk, sebab kalau dekat dengan penduduk akan menimbulkan pencemaran lingkungan dan wabah penyakit, karena sampah adalah sumber dari wabah penyakit yang bisa sewaktu-waktu menyerang pada manusia. Pemerintah juga sekarang sedang mengambil langkah-langkah untuk mamfaatkan sampah kota menjadi pupuk organik, karena dengan diolahnya sampah menjadi pupuk organik maka bahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah. Sampah kota itu dibagi atas dua jenis yaitu bahan tidak bisa dihancurkan misalkan limbah plastik dan bahan yang bisa diolah misalkan limbah rumah tangga. Sampah yang tidak bisa diolah bisa digunakan untuk didaur ulang menjadi bahan yang bisa dimanfaatkan bagi masyarakat kota, misalkan sampah plastik bisa diolah menjadi hiasan rumah, alat-alat rumah tangga. Pada tahun 2002 sekarang pemerintah juga mencari investor untuk bisa menginvetasikan dananya dalam mengolah sampah yang menjadi masalah sampai sekarang. Sampah kota ini merupakan tanggung jawab kita bersama sebab kalau tidak maka akan menjadi masalah serius.
Kondisi lingkungan juga ditentukan oleh sampah, karena dengan adanya sampah maka lingkungan akan menjadi kotor dan tidak sehat. Kota-kota besar harus juga menyediakan bak-bak sampah dijalan-jalan supaya kalau membuang sampah tidak sembarang membuangnya. Sampah juga banyak terdapat di pasar-pasar tradisional atau pasar modern, karena sampah dipasar kebanyakan hasil 75 % merupakan sampah dari sisa-bahan-bahan yang mudah diolah menjadi bahan yang bermanfaat dan bisa menguntungkan bagi masyarakat luas. Pasar juga menghasilkan sampah yang begitu besar dan berton-ton, oleh karena itu sampah pasar juga menjadi suatu masalah yang besar dan rumit. Dalam mengatasi masalah ini pemerintah menyediakan bak-bak untuk penempungan sampah pasar dan tiap bulannya para pedagang membayar untuk distribusi sampah. Selain sampah pasar yang menjadi masalah ada juga sampah dari pabrik.
Sampah pabrik merupakan menjadi masalah juga untuk daerah perkotaan, karena sampah pabrik sendiri hasil pengolahaan pabrik dibuang langsung ke bantaran sungai. Dari hasil limbah pabrik itu akan terjadi pencemaran dan mengakibatkan sungai itu akan kotor dan tidak bisa digunakan lagi oleh masyarakat perkotaan misalkan sungai yang berada di Ibu kota Jakarta kadar pencemarannya sudah sangat menprihatinkan. Dalam hal ini juga pemerintah daerah perkotaan membuat peraturan untuk tidak membuang sampah ke aliran sungai dan memberikan sangsi kepada masyarakat apabila masyarakat melanggarnya. Tapi dari peraturan pemerintah itu masyarakat, pabrik di daerah perkotaan masih ada juga yang membuang sampah kesungai, karena dengan masalah sampah tersebut akan mengakibatkan bencana yang sangat besar misalkan terjadinya banjir, penyumbatan aliran sungai dan masalah-masalah yang lainnya.
Selasa, Juni 09, 2009
Tarif Jembatan Suramadu belum Jelas
SURABAYA-MI:Pemerintah belum menetapkan tarif jembatan Surabaya-Madura (Suramadu), meski menurut rencana jembatan yang pembangunannya menelan dana Rp5 triliun itu akan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (10/6).
Hingga Selasa (9/6)Departemen Pekrjaan Umum dan instansi terkait masih membicarakan masalah tarif. Sampai sekarang masih belum ada keputusan pasti berapa tarif untuk Jembatan Suramadu, kata Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto kepada wartawan di Surabaya, Selasa.
Ia membantah batalnya penetapan tarif disebabkan tekanan dari pihak lain yang tidak setuju tarif Suramadu lebih murah jika dibandingkan dengan penyeberangan. Menurut Djoko, besaran tarif itu sebenarnya sudah ditetapkan, namun hingga kini masih belum bisa diumumkan karena peraturan mengenai jalan tol mensyaratkan uji kelayakan.Selain karena adanya aturan tersebut, katanya, saat ini masih berlangsung diskusi antara Menteri Perhubungan dan Menteri PU terkait keberlangsungan angkutan penyeberangan feri.Yang pasti, menurutnya, tarif tol Jembatan Nasional Suramadu berkisar antara 40 hingga 60 dari tarif penyeberangan feri. Saat ini tarif penyeberangan feri untuk mobil sebesar Rp65 ribu, sedangkan sepeda motor Rp5.800.
Kami tunggu saja bagaimana hasil keputusan pemerintah. Yang pasti semuanya masih dalam pembicaraan agar semua pihak bisa menerima keputusan nanti, ujarnya.Selain itu, lanjutnya, tarif tol Jembatan Suramadu akan diumumkan setelah uji kelayakan. Selama uji kelayakan, Jembatan Nasional Suramadu itu dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya.Uji kelayakan diperkirakan baru dilakukan satu minggu sampai satu bulan setelah peresmian. Setelah uji kelayakan, tarif segera diumumkan.Sementara itu, peresmian Suramadu akan dilakukan secara besar-besaran. Sedikitnya 6.500 undangan bakal hadir dalam acara tersebut ersebut.Pembukaan dipusatkan di sekitar jembatan pada sisi wilayah Madura, tepatnya di pintu masuk menuju Jembatan Suramadu. Pada Selasa seluruh persiapan selesai dilakukan, termasuk
Jembatan yang siap dilalui rombongan Presiden.(FL/OL-01)
http://www.koranindonesia.com/2009/06/09/tarif-jembatan-suramadu-belum-jelas/Pabrik Pupuk Organik Hadir di Karanganyar
KARANGANYAR–MI:PT Pusri meresmikan operasional pabrik pupuk organik di Desa Kali Wuluh, Kecamatan Kebakramat, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (16/1).
Kehadiran pupuk organik tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi degradasi lahan pertanian di wilayah eks Kerisidenan Surakarta.
Peresmian dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Turut hadir menyaksikan antara lain Bupati Sragen Untung Wiyono, dan Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Ali Muso.
Dalam penjelasan singkatnya Direktur Utama PT Pusri Dadang Heru Kodri mengatakan pabrik yang berdiri di lokasi gudang pupuk sragen ini berkapasitas 10 ton per hari. Dengan demikian, dalam satu tahun ditargetkan menghasilkan produksi sebesar 3.000 ton.
Ini dalam rangka memenuhi kebutuhan pupuk organik 2009 yang ditetapkan pemerintah sebesar 450 ribu ton, kata Dadang.
Pabrik yang menelan investasi total Rp2,6 miliar itu merupakan yang keempat. Tiga pabrik serupa terdapat di Palembang, Sumatra Selatan; Cianjur, Jawa Barat; dan Lumajang, Jawa Timur.
Selain untuk memenuhi target kebutuhan pupuk organik nasional, keberadaan pabrik itu diharapkan dapat membantu memberdayakan masyarakat sekitar. Terutama mereka yang selama ini telah berkecimpung memproduksi pupuk organik.
Pemberdayaan masyarakat pembuat pupuk organik itu dilakukan melalui pola kemitraan. Dalam hal ini PT Pusri akan membeli pupuk organik produksi warga untuk kemudian diolah dan disempurnakan menggunakan teknologi canggih, sehingga berapa pun pupuk organik yang diproduksi warga dapat terserap. Warga juga diberikan kesempatan untuk menjadi distributor.
Sementara itu, Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Ali Muso berharap kehadiran pabrik pupuk organik dapat membantu mengatasi persoalan degradasi lahan sebagai akibat berlebihannya penggunaan pupuk kimia oleh petani.
Sekarang, kata Sutarto, sudah saatnya petani mengubah kebiasaan seperti itu. Dengan cara meningkatkan sistem penggunaan pupuk berimbang ditambah pupuk organik. Dengan cara demikian, secara berangsur-angsur sifat fisik tanah pertanian bisa dipulihkan.
Itulah mengapa sejak 2007 lalu Pemerintah memberikan subsidi untuk pupuk organik. Kalau tahun lalu 345 ribu ton, 2009 ini dinaikkan 450 ribu ton. Demikian pula besarannya, tahun ini naik menjadi Rp1.000 per kilogram. Harapannya penyerapan bisa lebih besar dibanding tahun lalu yang hanya 20, kata Sutarto. (FR/OL-01)
http://www.koranindonesia.com/2009/01/16/pabrik-pupuk-organik-hadir-di-karanganyar/
Kamis, Mei 28, 2009
Senin, Mei 25, 2009
Menanam sayuran organik dalampot atau polybag mempunyai beberapa keuntungan antara lain
- Dapat diusahakan dalam skala kecil atau rumah tangga
- Mudah dalam pemeliharaan karena setiap tanaman ditanam dalam wadah tersendiri
- Kemungkinan penularan penyakit lewat akar kecil sekali, tanaman yang sakit mudah ditanami
- Menghemat pemakaian pupuk karena tidak terbuang percuma
- lebih mudah bila menanam beberapa jenis tanaman
- lahan yang digunakan lebih sempit karena pot atau polybag dapat diletakkan dalam rak yang bersusun
- memerlukan biaya untuk penyediaan polybag dan pot
- pengangkutan lebih lanjut
- memerlukan tempat penjualan yangluas bila akan menjual sayuran beserta wadahnya
- Penanam dapat digunakan polybag, pot, ember plastik, kaleng bekas biskuit diameter 20 -30 em dan tinggi sekitar 30 cm
- Media tanam untuk sayurab pada umumnya berupa campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos
- Perbandingan dapat 1 : 1 , 1 : 2 , 1 : 3
- Ukuran biji berukuran kecil, seperti selda, sawi, cabai, dan tomat
- Tempat persemaian berupa kotak kayu, polybag, pot, daun pisang atau wadah lainnya yang berdiameter 10 cm dan wadah persemaian yang belum berlubang.
- persemaian dapat digunakan campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1 : 3
- Biji atau benih ditanam pada wadah persemaian yang telah didisi media tanam yang dengan jarak 1 -3 cm
- lamanya persemaianya tergantung dari jenis tanaman misalnya 2 -3 minggu untuk sawi
- Untuk tanaman disemai dahulu
- untuk tanaman yang tidak disemai di pot atau poly bag diisi oleh media tanam
- Beberapa perawatan rutin yang perlu dilakukan sebagai berikut
- setiap hari tanaman diperiksa jangan sampai ada hama atau penyakit
- bila masih kelihatan kurang subur, tanaman dapat dipupuk dengan pupuk kadang atau kompos yang telah matang
- Bila tanah terlihat kering, tanaman dapat disiram
- Untuk tanaman tomat, cabai, terung, dan tanaman lain yang menghasilan buah


