Senin, Agustus 17, 2009

Insektisida Kimia Penyebab Pergeseran Keseimbangan Ekologi
Cipayung, Kompas

Meledaknya serangan hama di daerah pertanian, antara lain disebabkan oleh perubahan komunitas alami dengan diversitas tinggi,menjadi komunitas pertanian monokultur dengan diversitas rendah."Selain itu, penggunaan insektisida kimia merupakan salah satu penyebab terjadinya pergeseran keseimbangan ekologi di dalam suatu ekosistem." Demikian Ketua Umum Pusat Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) Dr Ir Sudarwohadi Sastrosiswojo dalam sambutannya saat membuka simposium Keanekaragaman Hayati tropoda pada Sistem Produksi Pertanian, awal pekan ini, di Cipayung, Bogor. Saat ini, tambah Sudarwohadi, ekosistem produksi di Indonesia dicirikan oleh keseragaman spesies atau jenis tumbuhan, binatang, dan jasad renik, serta keseragaman genetik. "Keseragaman tersebut didorong oleh usaha pemerintah dan petani untuk mencapai sasaran peningkatan produksi dan pendapatan petani dalam rangka pertumbuhan ekonomi nasional," paparnya.Ekosistem produksi pertanian seragam, lanjutnya, merupakan ekosistem yang tidak stabil atau tidak seimbang. Hal itu sangat rawan terhadap ledakan hama/ penyakit tanaman, menurunkan keanekaragaman hayati dan kualitas hidup setempat, serta dapat membahayakan kesehatan manusia akibat penggunaan pestisida
kimia yang berbahaya. Adapun dampak negatif keseragaman ekositem terhadap lingkungan,
menurut Sudarwohadi, antara lain adalah menurunkan kesuburan tanah, terbunuhnya banyak organisme bermanfaat-seperti serangga parasitoid, predator, penyerbuk tanaman, lebah madu, dan binatang pengurai sisa-sisa tanaman-serta memberi dampak negatif terhadap atmosfer. Sudarwohadi juga mengungkapkan, pada ekosistem pertanian,
banyak kelompok dan jenis antropoda/serangga yang sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian dan keamanan pangan, yaitu serangga-serangga pengurai bahan organik dan penyubur tanah, serangga air sebagai indikator pencemaran
lingkungan, serangga penyerbuk tanaman, dan serangga-serangga yang dapat mendegradasikan limbah. "Banyak serangga dan antropoda bermanfaat, yang kehidupan dan erkembangannya terhambat di ekosistem produksi pertanian yang seragam dan banyak menggunakan bahan kimia berbahaya," tambahnya. (pun)

sumber : http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/message/1109
Category: Other
Kompas Kamis, 04 Mei 2006
Sayuran Organik yang Tak Lagi Organik

Sembiring (40) dibantu keponakannya sibuk menyiapkan lahan seluas 10 x 20 meter yang rapat tertutup kelambu, semacam jaring rapat berwarna putih pudar. Tanah di dalam lahan tertutup tersebut dibagi dalam petak-petak berukuran 1 x 5 meter. Sembiring adalah satu dari 25 kepala keluarga binaan Balai Penyuluhan Pertanian Terpadu (BPPT) Dinas Pertanian Pekanbaru yang diberi kesempatan mengelola lahan sayur organik di kawasan Marpoyan, Pekanbaru, Riau, sejak tahun 2002. Dengan jatah lahan per kepala keluarga 2.000 meter persegi, total luas kebun sayur organik di Marpoyan mencapai 50.000 meter persegi. Proyek perkebunan sayur organik ini adalah program percontohan dan juga menjadi andalan untuk memenuhi target hasil kebun 30 ton per minggu. Sayuran hasil perkebunan Sembiring memang diekspor ke Singapura. Tentu kualitas sayurannya harus benar-benar prima sesuai dengan kriteria yang diminta negara tujuan sebagai sayuran organik, dalam arti tanpa ada campur tangan bahan kimia sama sekali.

"Namun, sejak satu sampaidua tahun ini, petani terpaksa memakai pupuk dan desinfektan berbahan kimia aktif. Hal ini untuk mengefektifkan kerja kami karena tidak ada lagi subsidi untuk pengelolaan kebun. Padahal, mengelola sayuran organik ini amat mahal," kata Sembiring. Laki-laki asal Kota Medan, yang menetap di Pekanbaru sejak 10 tahun terakhir, ini menambahkan, keluarga-keluarga petani sayur ini difasilitasi dan diizinkan menggarap lahan milik pemerintah daerah selama lima tahun. Mereka melaksanakan ini dengan sistem kontrak. Perhitungan sewa kontrak lahan seluas 2.000 meter persegi per kepala keluarga ditambah biaya pengadaan bibit, pupuk, serta pengelolaan harian. Setiap petani, per bulannya membutuhkan dana Rp 1,9 juta.

Dengan target panen mencapai 3,5 ton sekali panen per 30 hari, para petani seharusnya mampu meraup untung Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan. Namun, ternyata perhitungan tersebut meleset, dan para petani paling banyak hanya mendapatkan Rp 600.000 per bulan, itu pun kalau beruntung tidak gagal panen. Menurut Sembiring, mengelola sayur organik dibutuhkan ketelatenan dan keahlian tertentu. Kondisi lahan, seperti tanah, air, serta kelambu harus selalu steril. Dengan pengelolaan yang hati-hati tersebut, penggunaan obat pembasmi hama dengan kandungan zat kimia berbahaya dapat dihindari. Pada tahun pertama, BPPT membantu pengadaan kelambu dan pupuk organik. Bahkan, BPPT menempatkan petugas pendamping untuk membantu warga mengelola pertanian organik ini. Pada tahun pertama, target awal memang terpenuhi. Mulai tahun kedua, petani harus berusaha sendiri mengelola kebunnya. Akan tetapi, ternyata lahan yang diperuntukkan bagi pemberdayaan sayur organik ini tidak bebas hama. Ditemukan hama siput pada tanaman serta binatang kecil, dengan bagian ekor mirip gunting, yang merusak akar tanaman. Di samping itu, kelambu yang telah berusia empat tahun lebih telah berlubang-lubang, menyebabkan hama dari luar mudah masuk. Sayuran pun sering tumbuh dengan daun menguning, keriting, atau dipenuhi ulat. Keterbatasan dana menyebabkan para petani ini tidak dapat membeli obat antihama yang aman untuk sayur organik. Tidak hanya Sembiring, petani lainnya di kawasan Marpoyan, Yanto (35) dan kawan-kawan, juga mengerjakan pertanian organiknya dengan seadanya. Yanto memang mengikuti cara bertani Sembiring yang awalnya terlihat berhasil. Namun, dengan kondisi tanah seperti lahan yang dikerjakan Sembiring, pengembangan usaha Yanto pun gagal. Akibatnya, demi mengejar hasil sayur yang dapat dipanen dan dijual, semua petani yang mengelola sayur organik tak segan menggunakan pupuk serta pembasmi hama biasa. Selain produksi tidak sesuai target, sayuran yang dihasilkan pun sebenarnya tidak lolos kualitas ekspor. Kini, hanya sekitar 60 persen hasil produksi sayur organik yang tak lagi organik, berupa bayam, selada air, sawi, dan beberapa jenis lainnya, yang masih ditampung para importir Singapura. Selebihnya, dijual ke pasaran lokal dengan harga rendah. (neli triana

Tags: tak organik
Prev: Tanpa Jaminan, Petani Organik Masih Enggan
Next: Makan Sehat Sambil "Berevolusi"

sumber : http://amiere.multiply.com/reviews/item/85 dan