Selasa, Juni 09, 2009

Tarif Jembatan Suramadu belum Jelas

9 June 2009, 07:15 pm | No Comments

SURABAYA-MI:Pemerintah belum menetapkan tarif jembatan Surabaya-Madura (Suramadu), meski menurut rencana jembatan yang pembangunannya menelan dana Rp5 triliun itu akan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (10/6).

Hingga Selasa (9/6)Departemen Pekrjaan Umum dan instansi terkait masih membicarakan masalah tarif. Sampai sekarang masih belum ada keputusan pasti berapa tarif untuk Jembatan Suramadu, kata Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto kepada wartawan di Surabaya, Selasa.

Ia membantah batalnya penetapan tarif disebabkan tekanan dari pihak lain yang tidak setuju tarif Suramadu lebih murah jika dibandingkan dengan penyeberangan. Menurut Djoko, besaran tarif itu sebenarnya sudah ditetapkan, namun hingga kini masih belum bisa diumumkan karena peraturan mengenai jalan tol mensyaratkan uji kelayakan.Selain karena adanya aturan tersebut, katanya, saat ini masih berlangsung diskusi antara Menteri Perhubungan dan Menteri PU terkait keberlangsungan angkutan penyeberangan feri.Yang pasti, menurutnya, tarif tol Jembatan Nasional Suramadu berkisar antara 40 hingga 60 dari tarif penyeberangan feri. Saat ini tarif penyeberangan feri untuk mobil sebesar Rp65 ribu, sedangkan sepeda motor Rp5.800.

Kami tunggu saja bagaimana hasil keputusan pemerintah. Yang pasti semuanya masih dalam pembicaraan agar semua pihak bisa menerima keputusan nanti, ujarnya.Selain itu, lanjutnya, tarif tol Jembatan Suramadu akan diumumkan setelah uji kelayakan. Selama uji kelayakan, Jembatan Nasional Suramadu itu dibuka untuk umum tanpa dipungut biaya.Uji kelayakan diperkirakan baru dilakukan satu minggu sampai satu bulan setelah peresmian. Setelah uji kelayakan, tarif segera diumumkan.Sementara itu, peresmian Suramadu akan dilakukan secara besar-besaran. Sedikitnya 6.500 undangan bakal hadir dalam acara tersebut ersebut.Pembukaan dipusatkan di sekitar jembatan pada sisi wilayah Madura, tepatnya di pintu masuk menuju Jembatan Suramadu. Pada Selasa seluruh persiapan selesai dilakukan, termasuk

Jembatan yang siap dilalui rombongan Presiden.(FL/OL-01)

http://www.koranindonesia.com/2009/06/09/tarif-jembatan-suramadu-belum-jelas/

Pabrik Pupuk Organik Hadir di Karanganyar

16 January 2009, 04:15 pm | No Comments

KARANGANYAR–MI:PT Pusri meresmikan operasional pabrik pupuk organik di Desa Kali Wuluh, Kecamatan Kebakramat, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (16/1).

Kehadiran pupuk organik tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi degradasi lahan pertanian di wilayah eks Kerisidenan Surakarta.

Peresmian dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Turut hadir menyaksikan antara lain Bupati Sragen Untung Wiyono, dan Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Ali Muso.

Dalam penjelasan singkatnya Direktur Utama PT Pusri Dadang Heru Kodri mengatakan pabrik yang berdiri di lokasi gudang pupuk sragen ini berkapasitas 10 ton per hari. Dengan demikian, dalam satu tahun ditargetkan menghasilkan produksi sebesar 3.000 ton.

Ini dalam rangka memenuhi kebutuhan pupuk organik 2009 yang ditetapkan pemerintah sebesar 450 ribu ton, kata Dadang.

Pabrik yang menelan investasi total Rp2,6 miliar itu merupakan yang keempat. Tiga pabrik serupa terdapat di Palembang, Sumatra Selatan; Cianjur, Jawa Barat; dan Lumajang, Jawa Timur.

Selain untuk memenuhi target kebutuhan pupuk organik nasional, keberadaan pabrik itu diharapkan dapat membantu memberdayakan masyarakat sekitar. Terutama mereka yang selama ini telah berkecimpung memproduksi pupuk organik.

Pemberdayaan masyarakat pembuat pupuk organik itu dilakukan melalui pola kemitraan. Dalam hal ini PT Pusri akan membeli pupuk organik produksi warga untuk kemudian diolah dan disempurnakan menggunakan teknologi canggih, sehingga berapa pun pupuk organik yang diproduksi warga dapat terserap. Warga juga diberikan kesempatan untuk menjadi distributor.

Sementara itu, Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian Sutarto Ali Muso berharap kehadiran pabrik pupuk organik dapat membantu mengatasi persoalan degradasi lahan sebagai akibat berlebihannya penggunaan pupuk kimia oleh petani.

Sekarang, kata Sutarto, sudah saatnya petani mengubah kebiasaan seperti itu. Dengan cara meningkatkan sistem penggunaan pupuk berimbang ditambah pupuk organik. Dengan cara demikian, secara berangsur-angsur sifat fisik tanah pertanian bisa dipulihkan.

Itulah mengapa sejak 2007 lalu Pemerintah memberikan subsidi untuk pupuk organik. Kalau tahun lalu 345 ribu ton, 2009 ini dinaikkan 450 ribu ton. Demikian pula besarannya, tahun ini naik menjadi Rp1.000 per kilogram. Harapannya penyerapan bisa lebih besar dibanding tahun lalu yang hanya 20, kata Sutarto. (FR/OL-01)


http://www.koranindonesia.com/2009/01/16/pabrik-pupuk-organik-hadir-di-karanganyar/