Peluang Kerjasama Luar Negeri Siap Untuk Dimanfaatkan
Penulis : Biro KLN - Sekretariat Jenderal
”Pada dasarnya kita memilih untuk tidak bergantung dengan negara lain dan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri menjadi sebuah alternatif untuk mengurangi gap antara ketersediaan dana dalam negeri dengan dana investasi yang dibutuhkan bagi pembangunan”. Hal itu disampaikan dalam sambutan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian pada seminar Pemanfaatan Peluang Kerjasama Luar Negeri yang diselenggarakan pada tanggal 4 Maret 2010 di Hotel Permata, Bogor. Sekjen juga memberikan arahan agar pembangunan di Indonesia dapat merata sampai ke daerah-daerah terpencil, sektor pertanian ke depan memiliki prioritas di wilayah timur Indonesia, memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan hidup dan diversifikasi pangan. Kebijakan sektor pertanian harus pro rakyat miskin, minimal mengurangi gap antara si kaya dan si miskin.
Pada acara yang diselenggarakan oleh Biro Kerjasama Luar Negeri (KLN), Kementerian Pertanian ini, dihadirkan pembicara dari:Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR): Julien De Meyer, ACIAR Country Manager dan Mirah Nuryati, Stakeholder Relationship Manager,Asisten Kepala Perwakilan The Food and Agriculture Organization (FAO): Dr. Benni H. Sormin, JICA Indonesia Office: Dinur Krismasari, JICA Senior Representative dan Hayato Nakajima, JICA Agriculture Policy Advisor dengan moderator Ir. Farid Hasan Baktir MEc, Kepala Biro KLN. Hadir pada pertemuan tersebut para pejabat dan staf lingkup Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat.
Para Narasumber menjelaskan mengenai peluang kerjasama yang dapat dimanfaatkan, prosedur dan persyaratan yang dibutuhkan dalam pengusulan proposal kerjasama dengan ketiga Lembaga Internasional tersebut.
Program ACIAR yang dapat dimanfaatkan antara lain: Beasiswa John Allwright yaitu kesempatan melanjutkan studi jenjang S2 dan/atau S3 di Australia, Beasiswa John Dillon yang memberikan pelatihan kepemimpinan bagi Manager Madya, serta pelatihan yang terkait program dalam suatu proyek. Sedangkan FAO menegaskan kembali bahwa Keberadaan Indonesia di dunia internasional telah naik tingkat, bukan sebagai negara prioritas yang perlu dibantu lagi tetapi sudah waktunya untuk membantu negara lain. Selanjutnya FAO menjelaskan peluang bantuan yang dapat dimanfaatkan dari FAO antara lain: Technical Cooperation Program (TCP), Telefood dan TCP Facility (TCP-F). Diantara empat program prioritas utama JICA di Indonesia, kegiatan di sektor Pertanian termasuk dalam program Stabilnya Ketersediaan Pangan dan Peningkatan Pendapatan di Pedesaan yang merupakan isu Poverty Reduction dengan bentuk kegiatan Grant Aid, Loan Aid dan Technical Cooperation (Policy Advisor Dispatch, Technical Cooperation Project, Technical Cooperation Development Planning dan Training).
Sumber: bagian PBB untuk pangan dan pertanian/KLN/Setjen
Selasa, Maret 16, 2010
Sektor Pangan Paling Terpukul
Sektor Pangan Paling Terpukul
Subsektor tanaman pangan bakal mengalami dampak paling serius akibat perubahan iklim global. Tanpa langkah antisipasi, produksi akan turun karena menjadi korban perubahan pola curah hujan serta peningkatan suhu udara dan permukaan laut. Subsektor tanaman pangan bakal mengalami dampak paling serius akibat perubahan iklim global. Tanpa langkah antisipasi, produksi akan turun karena menjadi korban perubahan pola curah hujan serta peningkatan suhu udara dan permukaan laut.
Menurut Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Irsal Las di Jakarta, Selasa (8/12), Deptan telah menyusun strategi dan melakukan berbagai langkah antisipasi agar produksi pangan tak turun. Dari kajian yang dilakukan Balitbang Pertanian, perubahan pola curah hujan dan kejadian anomali iklim menyebabkan peningkatan luas area padi sawah yang terkena kekeringan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas areal panen padi 2009 mencapai 12,8 juta hektar dengan produktivitas per hektar 4,97 ton dan produksi padi 63,8 juta ton gabah kering giling. Masih terkait kajian Balitbang Pertanian, dari 3,1-7,8 persen areal tanaman padi yang kekeringan, yang mengalami puso meningkat dari 0,004-0,41 persen menjadi 0,04-1,87 persen. Adapun pada tahun basah saat terjadi La Nina, areal tanaman padi yang bakal terkena banjir naik dari 0,75-2,68 persen menjadi 0,97-2,99 persen. Begitu pula tanaman padi yang puso naik tajam dari 0,24-0,73 persen menjadi 8,7-13,8 persen.Mengacu kajian di atas, penurunan produksi padi sebagai akibat puso terkait kekeringan dan kebanjiran mencapai 365.463 ton GKG tiap tahun dan kecenderungannya terus meningkat.
Belum lagi penurunan produksi sebagai dampak peningkatan suhu udara, yang dapat menurunkan produksi padi, jagung, dan kedelai sekitar 10-19,5 persen selama 40 tahun ke depan. Hal ini terutama karena serangan hama penyakit yang mengganas.
Adapun peningkatan permukaan air laut hingga 2050 akan menyebabkan penciutan lahan sawah hingga 292.000 hektar.
Adaptasi dan mitigasi
Menurut Irsal, program adaptasi tanaman pangan dan hortikultura meliputi, pertama, perbaikan manajemen dan teknologi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air dan irigasi. Kedua, penyesuaian pola tanam terhadap dinamika iklim berdasarkan kalender tanam dinamis. Ketiga, pengembangan teknologi adaptif, seperti jenis dan varietas tanaman yang toleran terhadap kekeringan, banjir atau genangan, salinitas, serta pengelolaan lahan dan tanaman. Keempat, penerapan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Kelima, percepatan reforma agraria. Keenam, pengembangan sistem perlindungan usaha tani dari kegagalan akibat perubahan iklim dengan pengembangan sistem peringatan dini dan crop weather insurance. Adapun program mitigasi meliputi, pertama, pemanfaatan lahan alang-alang atau lahan telantar menjadi lahan perkebunan. Kedua, pemanfaatan limbah tanaman perkebunan sebagai pupuk organik dan bioenergi. Ketiga, peremajaan dan diversifikasi jenis tanaman perkebunan. Keempat, pengelolaan lahan gambut erkelanjutan. Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian Suswono menyatakan bahwa swasembada beras harus terus dilanjutkan. Selain beras, Departemen Pertanian juga menargetkan swasembada daging sapi, kedelai, dan gula pada tahun 2014.
Sumber: (MAS)/jimbon /KCM
Subsektor tanaman pangan bakal mengalami dampak paling serius akibat perubahan iklim global. Tanpa langkah antisipasi, produksi akan turun karena menjadi korban perubahan pola curah hujan serta peningkatan suhu udara dan permukaan laut. Subsektor tanaman pangan bakal mengalami dampak paling serius akibat perubahan iklim global. Tanpa langkah antisipasi, produksi akan turun karena menjadi korban perubahan pola curah hujan serta peningkatan suhu udara dan permukaan laut.
Menurut Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Irsal Las di Jakarta, Selasa (8/12), Deptan telah menyusun strategi dan melakukan berbagai langkah antisipasi agar produksi pangan tak turun. Dari kajian yang dilakukan Balitbang Pertanian, perubahan pola curah hujan dan kejadian anomali iklim menyebabkan peningkatan luas area padi sawah yang terkena kekeringan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, luas areal panen padi 2009 mencapai 12,8 juta hektar dengan produktivitas per hektar 4,97 ton dan produksi padi 63,8 juta ton gabah kering giling. Masih terkait kajian Balitbang Pertanian, dari 3,1-7,8 persen areal tanaman padi yang kekeringan, yang mengalami puso meningkat dari 0,004-0,41 persen menjadi 0,04-1,87 persen. Adapun pada tahun basah saat terjadi La Nina, areal tanaman padi yang bakal terkena banjir naik dari 0,75-2,68 persen menjadi 0,97-2,99 persen. Begitu pula tanaman padi yang puso naik tajam dari 0,24-0,73 persen menjadi 8,7-13,8 persen.Mengacu kajian di atas, penurunan produksi padi sebagai akibat puso terkait kekeringan dan kebanjiran mencapai 365.463 ton GKG tiap tahun dan kecenderungannya terus meningkat.
Belum lagi penurunan produksi sebagai dampak peningkatan suhu udara, yang dapat menurunkan produksi padi, jagung, dan kedelai sekitar 10-19,5 persen selama 40 tahun ke depan. Hal ini terutama karena serangan hama penyakit yang mengganas.
Adapun peningkatan permukaan air laut hingga 2050 akan menyebabkan penciutan lahan sawah hingga 292.000 hektar.
Adaptasi dan mitigasi
Menurut Irsal, program adaptasi tanaman pangan dan hortikultura meliputi, pertama, perbaikan manajemen dan teknologi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air dan irigasi. Kedua, penyesuaian pola tanam terhadap dinamika iklim berdasarkan kalender tanam dinamis. Ketiga, pengembangan teknologi adaptif, seperti jenis dan varietas tanaman yang toleran terhadap kekeringan, banjir atau genangan, salinitas, serta pengelolaan lahan dan tanaman. Keempat, penerapan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Kelima, percepatan reforma agraria. Keenam, pengembangan sistem perlindungan usaha tani dari kegagalan akibat perubahan iklim dengan pengembangan sistem peringatan dini dan crop weather insurance. Adapun program mitigasi meliputi, pertama, pemanfaatan lahan alang-alang atau lahan telantar menjadi lahan perkebunan. Kedua, pemanfaatan limbah tanaman perkebunan sebagai pupuk organik dan bioenergi. Ketiga, peremajaan dan diversifikasi jenis tanaman perkebunan. Keempat, pengelolaan lahan gambut erkelanjutan. Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian Suswono menyatakan bahwa swasembada beras harus terus dilanjutkan. Selain beras, Departemen Pertanian juga menargetkan swasembada daging sapi, kedelai, dan gula pada tahun 2014.
Sumber: (MAS)/jimbon /KCM
Langganan:
Postingan (Atom)