Sabtu, Mei 09, 2009
Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan kimia sintetis) yang dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk mengobati tanamannya yang terserang hama, ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri. Catatan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya terjadi keracunan pestisida antara 44.000 - 2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi lingkungan, manusia serta ternak.
Cukup tingginya bahaya dalam penggunaan pestisida sintetis, mendorong usaha untuk menekuni pemberdayaan pestisida alami yang mudah terurai dan tidak mahal. Penyemprotan terhadap hama yang dapat mengakibatkan rasa gatal, pahit rasanya atau bahkan bau yang kurang sedap ternyata dapat mengusir hama untuk tidak bersarang di tanaman yang disemprotkan oleh pestisida alami. Oleh karena itu jangan heran bila penggunaan pestisida alami umumnya tidak mematikan hama yang ada, hanya bersifat mengusir hama dan membuat tanaman yang kita rawat tidak nyaman ditempati.
Bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia bibit secara gratis. Contohnya seperti tanaman bunga kenikir yang masih dapat di temui ditanah-tanah kosong pada daerah yang cukup tinggi.. Jenis lain yang digunakan pun harus sesuai dengan karakter dari bahan yang akan digunakan serta karakter dari hama yang ada. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, sehingga menjadi: tak kenal bahan dan jenis hama maka tak dapat mengusir dan mengendalikan hama. Bahan lainnya adalah kunyit, sereh, bawang putih, daun jatropa, daun diffen, jenis rempah-rempah dan lainnya.
Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya.
Selain harus mengenal karakter dari bahan yang akan digunakan, karakter hamanya sendiri pun harus diperhatikan dengan baik. Dengan mencari informasi karakter hidup hama, mendengarkan dari pengalaman orang lain serta mengamati sendiri, kita dapat mencari kelemahan dari hama tersebut. Contohnya untuk kutu yang menempel kuat di batang atau daun dapat diatasi dengan menggunakan campuran sedikit minyak agar kutu tidak dapat menempel. Selain itu, untuk semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, dapat disemprotkan air sari dari daun yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, daun diffen, dan lainnya.
Berikut beberapa contoh hama dan pestisida alaminya:
1. Kutu Putih pada daun atau batang. Dapat digunakan siung bawang putih yang ditumbuk dan diperas airnya serta dicampurkan dengan air sesuai dosis yang diperlukan. Jika kutu melekat erat pada tanaman, dapat digunakan campuran sedikit minyak kelapa. Semprotkan campuran tersebut pada tanaman yang terserang hama.
2. Tikus. Buah jengkol dapat ditebarkan di sekitar tanaman atau di depan lubang sarang tikus. Atau dengan merendam irisan jengkol pada air selama 2 hari. Lalu semprotkan pada tanaman padi yang belum berisi akan menekan serangan walang sangit.
3. Berbagai serangga. Air rebusan cabai rawit yang telah dingin dan dicampur dengan air lagi serta disemprotkan ke tanaman akan mengusir berbagai jenis serangga perusak tanaman.
4. Aphids. Air rebusan dari campuran tembakau dan teh dapat mengendalikan aphid pada tanaman sayuran dan kacang-kacangan. Air hasil rebusan di campurkan kembali dengan air sehingga lebih encer.
5. Berbagai serangga. Air rebusan daun kemangi atau daun pepaya yang kering ataupun yang masih segar, dapat disemprotkan ke tanaman untuk mengendalikan berbagai jenis serangga.
6. Nematoda akar. Dengan menggunakan bunga kenikir (Bunga Tahi Kotok) yang direndamkan oleh air panas mendidih. Biarkan semalam lalu saring. Hasil saringan tersebut disiramkan ke media tanaman. Penting diperhatikan media yang digunakan mudah dilalui oleh air.
7. Mengendalikan serangga, nematoda dan jamur. Dengan membuat air hasil rendaman tumbukan biji nimba dengan air selama tiga hari. Lalu siram pada tanaman, umumnya efektif pada tanaman sayuran.
Banyak resep yang dapat ditemukan dari pengalaman. Selain itu, perhatikan teknis saat memberikan pestisida alami. Perhatikan curah hujan dan saat penyemprotannya. Usahakan menyemprot setelah hujan agar tidak luntur oleh air hujan. Selamat mencoba. n
Mona Sintia, 2006
Arsitek Lanskap
Note: Data jenis pestisida alami dari berbagai sumber.
Menghasilkan Pupuk Organik Dgn Praktis & Biaya Murah
| CARA AJAIB MEMBUAT PUPUK ORGANIK ( KOMPOS ) | | |
| Senin, 24 Desember 2007 | |
| Menghasilkan Pupuk Organik Dgn Praktis & Biaya Murah ( semudah membuat tempe kedelai )
Telah ditemukan terobosan baru dalam pembuatan kompos/pupuk organik yang lebih sederhana, lebih murah dan hemat tenaga (bisa dibilang sebagai “Cara Ajaib“ dalam pembuatan kompos). Teknologi ini ditemukan oleh Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, MSc.( Kepala Balai penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia ), dan telah dihadirkan oleh Bidang TPH Dispertanhut Purbalingga dalam acara “ Apresiasi Pembuatan Pupuk Organik Kab. Purbalingga “ tanggal 6 Desember 2007 di Aula Hotel Kencana yang digadiri oleh Wakil Bupati Purbalingga. Pupuk organik ternyata bisa dibuat dengan biaya murah, hanya sekitar Rp. 15.000,- per ton bahan baku yang mau dibuat kompos, tidak ada tambahan bahan/materi dan biaya lain selain untuk pembelian formula yang harganya hanya sekitar Rp. 15.000,- / kg untuk pembuatan 1 ton bokasi. Formula ini dinamai “PROMI” yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Bentuknya seperti bubuk atau butiran tanah, hanya saja formula ini mengandung mikroba unggul asli Indonesia dan mikroba tsb bisa bertahan hidup sampai 1 (satu) tahun. Hebatnya kompos/pupuk organic yang dihasilkan dengan formula Promi kaya dengan dengan mikroba yang bias mempercepat tunbuh tanaman serta mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Pengomposan dengan Promi lebih murah dan lebih praktis dari pada pengomposan dengan EM4, karena ada beban yang perlu ditanggung oelh petani bila membuat kompos dengan EM4 antara lain teknologi EM4 memerlukan bahan –bahan tambahan yang bisa membuat biaya pengomposan cukup tinggi dan membutuhkan tenagas lebih banyak serta tempat yang luas. Kalau pengomposan memakai promi punya kelebihan : tidak menggunakan bahan tambahan, hemat tempat (tinggi tumpukan hanya cukup 1,5 m ) ,biaya lebih murah dan lebih mudah/praktis ( semudah membuat tempe kedelai ).Seiring dengan program percepatan penerapan pupuk organik di Purbalingga, sudah selayaknya teknologi pembuatan pupuk organik dengan formula PROMI ini perlu disosialisasikan, kqarena para petani bias membuat sendiri pupuk organic/kompos-nya dengan hanya membeli PROMI untuk 1 ton bahan bakau pembuatan kompos, yang tentunya sangat lebih murah daripada parqa petani membeli pupuk organic di pasaran yang relative lebih mahal. Apalagi tidak memerlukan tambahan bahan/materi seperti pada teknologi EM4 ( perlu tambahan dedak dan molase ), cukup dengan jerami di lahan-lahan-lahan sawah yang sangat berlimpah. (Ir. Arief Khoiruddin. MSi, bersumber dari paparan Dr.Ir. Darmono pada acara "Apresiasi Pembuatan Pupuk Organik" tanggal 6 Desmber 2007 di Aula Hotel Kencana Purbalingga). |
/www.purbalinggakab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1088&Itemid=159&lan