Aplikasi teknologi EM bidang pertanian dapat dilakukan dalam bentuk :
1. Bokashi Padat
2. Bokashi Cair
3. EM Aktif
4. Fermentasi Ektrak Tanaman
5. Fermentasi Sari Buah
6. Fermentasi Kaldu Ikan
7. EM-5
1. Bokashi Padat
Merupakan pupuk organic yang dibuat dari kotoran hewan, sampah, organic, jerami, sekam, serbuk kayu, serasah dan lain – lain, dicampur ( dedak, disiram, dengan EM dan Molase, selanjutnya difermentasi. Setelah difermentasi 1-2 minggu campuran bahan organic telah menjadi pupuk siap pakai, ditandai dengan adanya bau tape serta miselium putih dari cendawan mukor. Penggunaannya dibenamkan kedalam tanah disekitar daerah perakaran tanaman. Pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman akan lebih baik lagi bila disertai siraman EM-aktif setiap 1 – 2 minggu sekali.
2. Bokashi Cair
Dibuat dari kencing hewan ( sapi, babi, kelinci ) diberi/dicampu dengan EM dan molase difermentasi selama kurang lebih seminggu. Cara penggunaanya dicampur dengan air disiramkan ke tanah disekitar daerah perakaran. Sangat baik disiramkan diatas taburan bokashi. Enggunaan secara rutin selain memperbaiki fisik dan kimia tanah, dapat menekan berbagai pathogen secara efektif.
3. Fermentasi Ektrak Tanaman
Formula ini lebih dikenal dengan nama fermented plant ekstrak (FPE) FPE dapat dibuat dari campuran berbagai tanaman rempah dan obat, tanaman yang berbau khas diambil daunnya saja, batang, kulit akar maupun buah. Bagian-bagian tanaman ini diektrak dan difermentasi dengan EM dan molase selama seminggu.
4. EM Aktif
Dibuat dari EM asli dan molase yang dicampur dengan air sampai mencapai 20 kali kemudian difermentasi selama seminggu. Dalam pemanfaatannya diencerkan lagi dengan air sampai mencapai konsentrasi 1-2 permil disemprotkan pada daun tanaman atau disiramkan kedalam tanah. FPE dapat dipergunakan sebagai pengganti pestisida maupun fungisida, disemprotkan pada daun diatas tanah. Setiap hama biasanya peka terhadap ramuan tertentu. Meramu FPE merupakana seni tersendiri.. Banyak petani membuat ramuan sendiri untuk memberantas hamanya, tetapi Pak Oles telah membuat ramuan siap pakai yang diberi nama SAFERTO-5 ( Sari Fermentasi Tanaman Obat ) FPE disemprotkan pada tanaman secara berkesinambungan setiap 2 minggu. Karena pengaruh antioksidan dan bau yang khas, hama tidak kerasan dan pergi meninggalkan tanaman dengan tidak akan ada eksplosi dari hama.
5. Fermentasi Sari buah
Pada musim buah-buahan yang terbuang Buah-buah yang telah masak ini banyak mengandung nutrisi. Buah ini dapat diolah menjadi pupuk cair disemprotkan pada daun setelah buah-buahan diekstrak dan difermentasi dengan EM dan Molase. Produksi yang serupa namun bahannya dari rumput laut, telah dibuat oleh pak Oles dengan merek dagang SARULA-3. Penyemprotan tanaman secara rutin dengan formula ini dapat memacu pertumbuhan tanaman, merangsang pembentukan bunga dan buah.
6. Fermentasi Kaldu Ikan
Seperti halnya sari buah, kaldu ikan juga kaya akan nutrisi, kaldu ikan dapat dibuat menjadi pupuk cair disiramkan kedalam tanah untuk memperbaiki fisik, kimia, dan biologi tanah. Dalam pembuatannya ikan dipotong kecil-kecil direbus dan setelah kaldunya dingin difermentasi dengan air dan molase. Fermentasinya lebih lama sekitar 1 bulan. Fermented Fish Emulsion ini siap pakai bila telah tercium bau alcohol. Bila busuk berarti pembuatannya gagal karena terkontaminasi pathogen.
7. EM-5
EM-5 adalah campuran dari arak, cuka EM-4 molase dan air. Cara pembuatan dan pengemasannya dengan FPE. EM-5 ini adalah pestisidaorganik dengan teknologi EM untuk memberantas hama khusus untuk EM-5 dapat disimpan sampai 3 bulan asalkan tidak terkontaminasi pathogen. Berdasarkan jenis tanaman yang diusahakan serta type tanah, aplikasikan teknologi EM dibidang pertanian dibedakan dalam 3 cara :
1. Aplikasi EM dilahan basah untuk tanaman padi sawah
2. Aplikasi EM dilahan kering untuk tanaman palawija, sayuran dan tanaman semusim
3. Aplikasi EM dilahan kering untuk tanaman tahunan seperti buah-buahan, cengkeh, kopi, kakau dan lain-lain.
Bahan-bahan untuk dijadikan makanan ikan June 19, 2009
Posted by angah08 in Uncategorized.
add a comment
1. Bahan Hewani
1. Tepung Ikan
Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan menjadi bekasem untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan. Lama penyimpanan < 11-12 bulan, bila lebih dapat ditumbuhi cendawan atau bakteri, serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan asam amino essensial yang paling essensial sampai 8%. Kandungan gizi: protein=22,65%; lemak=15,38%; Abu=26,65%; Serat=1,80%; Air=10,72%; Nilai ubah=1,5–3
1. Telur Ayam dan Itik
1.
1. Bahan: telur mentah atau telur rbus.
2. Penggunaan: Telur mentah langsung dikopyok dan dicampur dengan bahan lain. Telur rebus, diambil kuningnya, dihaluskan dan dilarutkan sampai membentuk emulsi atau suspensi.
3. Kandungan gizinya: Protein=12,8%, Lemak=11,5%, Karbohidrat=0,7%, Air=74%
2. Dedak
Bahan dedak padi ada 2, yaitu dedak halus (katul) dan dedak kasar. Dedak yang paling baik adalah dedak halus yang didapat dari proses penyosohan beras, dengan kandungan gizi: Protein=11,35%, Lemak=12,15%, Karbohidrat=28,62%, Abu=10,5%, Serat kasar=24,46%, Air=10,15%, Nilai ubah= 8.
1. Tepung Ampas Tahu
Kandungan gizinya: Protein=23,55%, Lemak=5,54%, Karbohidrat=26,92%, Abu=17,03%, Serat kasar=16,53%, Air=10,43%.
2. Tepung Bungkil Kacang Tanah
Bungkil kacang tanah adalah ampas pembuatan minyak kacang. Kelemahannya: dapat menyebabkan penyakit kurang vitamin, dengan gejala sirip tidak normal dan dapat dicegah dengan membatasi penggunaannya. Kandungan gizi: Protein=47,9%, Lemak=10,9%, Karbohidrat =25,0%, Abu=4,8%, Serat kasar=3,6%, Air=7,8%, Nilai ubah=2,7-4.
1. Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa adalah ampas dari proses pembuatan minyak kelapa. Sebagai bahan ramuan dapat dipakai sampai 20%. Kandungan gizi: Protein=17,09%, Lemak=9,44%, Karbohidrat=23,77%, Abu=5,92%, Serat kasar=30,4%, Air=13,35%.
2. Tepung Daun Turi(Geti)
Kelemahannya: mengandung senyawa beracun : asam biru (HCN), lusein, dan alkoloid-alkoloid lainnya. Kandungan gizinya: Protein=27,54%, Lemak=4,73%,
Karbohidrat=21,30%, Abu=20,45%, Serat kasar=14,01%, Air=11,97 %
1. Tepung Daun Ketela Pohon
Kelemahannya: racun HCN/asam biru. Kandungan gizi: Protein=34,21%, Lemak=4,6%, Karbohidrat=14,69%, Air=0,12.
1. Kiambang Kecil 43 protien
2. Ulat hampassoya dan sawit 45% protien
June 19, 2009
Posted by angah08 in Uncategorized.
add a comment
MENJADI PAKAN ALTERNATIF PENGGANTI PELET.
Harga pelet yang terus melambung bak buah simalakama bagi peternak lele. Di satu sisi pelet menjamin ukuran konsumsi tercapai dalam waktu singkat. Di lain pihak harga yang tinggi Rp190.000-Rp200.000 per 30 kg membuat keuntungan peternak berkurang jauh. ‘Biaya pakan pelet menyerap 80% ongkos produksi,’ kata Mirsi, peternak lele paiton di Cilegon, Provinsi Banten.
Menurut Purnama Sukardi larva lalat-selanjutnya disebut maggot-sangat potensial mengurangi pemakaian pelet. ‘Substitusinya bisa mencapai 50%,’ kata dekan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto, Jawa Tengah, itu. Yang istimewa maggot memiliki kadar protein tinggi sekitar 43%; pelet 30-40%. Nah, lele tumbuh baik jika mendapat asupan protein berkadar 30% atau lebih.
Penelitian Purnama menunjukkan maggot efektif bila diberikan bersama tepung ikan dengan perbandingan 1:1. Di sini laju pertumbuhan lele bakal melambung hingga 2,9% per hari. Bila hanya maggot percepatan tumbuh 2,5% per hari; tepung ikan tunggal 2% per hari. ‘Kombinasi ini sudah dicoba meski belum dibuat untuk skala komersial,’ katanya.
Murah
Maggot mudah dibuat. Ia dapat dibiakkan memakai media ampas tahu. Untuk menarik lalat, ampas tahu dicampur ikan kering, 8:2. Ampas tahu mudah didapat dan murah, Rp200-Rp500 per kg. Harga ikan rucah kering sekitar Rp1.000 per kg. Jadi untuk menyiapkan 1 kg media maggot hanya mengeluarkan biaya Rp600.
Sebelum dipakai, media perlu difermentasi selama 3-4 minggu. Setelah itu, lalat akan datang dan bertelur. Maggot dipanen setelah sepekan. Sekilo media menghasilkan 180 gram maggot. Bila ingin menghasilkan 1 kg maggot dibutuhkan 5,5 kg media. Nah, pakan yang dibuat dari kombinasi maggot dan tepung ikan hanya membutuhkan biaya Rp4.150 per kg. Angka itu tentunya jauh lebih murah dibandingkan harga pelet Rp6.500 per kg.
Sayangnya larva lalat bersifat agresif. Jika terkena sinar matahari maggot malah bermigrasi dari media dan mencari tempat berteduh. Sebab itu pula menurut Purnama tempat membiakkan maggot sebaiknya dibangun di atas kolam yang diberi peneduh. Selain itu, wadah media perlu berlubang. Tujuannya agar maggot yang bergerak jatuh langsung ke kolam dan disantap lele. ‘Jadi maggot tidak sempat tumbuh menjadi lalat,’ kata Purnama. Ampas tahu pun sebetulnya dapat dijadikan pakan karena mengandung nutrisi penting seperti 23,55% protein, 5,54% lemak, dan 26,92% karbohidrat.
Nabati
Di luar maggot yang berbasis protein hewani, kiambang Lemna minor juga potensial menjadi pakan lele. Kadar proteinnya setara maggot, 43%. Itu yang terungkap dari penelitian pascasarjana R Zaenal Arifin di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB). Menurut Zaenal kiambang yang dibuat tepung dapat menggantikan tepung ikan hingga 45%.
Pada percobaan pelet yang dibuat dari campuran 55% tepung ikan dan 45% kiambang memacu pertumbuhan lele sangkuriang hingga 2,91% bobot tubuh per hari. Jika digunakan dalam budidaya lele pada kolam seluas 1.000 m2 dengan padat tebar 200 ekor/m2, pemakaian pelet ini dapat menekan biaya pakan sampai Rp400.000/siklus budidaya.
Jumlah itu terbilang kecil, sekitar 8% dari total biaya pakan. Namun, sejatinya penggunaan kiambang sebagai pengganti pelet bisa dioptimalkan jika difermentasi dulu. ‘Kiambang segar masih kaya serat, sehingga sulit dicerna ikan karnivor seperti lele,’ ujar Dr Gede Suantika, peneliti akuakultur SITH ITB. Fermentasi bertujuan menurunkan kadar oligosakarida dan menghilangkan Anti Nutrition Factor (ANF)-nutrisi yang sulit dicerna dan menghambat pertumbuhan ikan.
Pilih-pilih
Sejatinya peternak sudah mencoba beragam pakan alternatif untuk lele. Bangkai unggas, ikan rucah, hingga limbah restoran dipakai. Wahyudi Tisnaatmaja di Klender, Jakarta Timur, misalnya, menggunakan limbah rumah makan yang direbus lalu dicincang. Hasilnya, ukuran konsumsi 7-10 ekor/kg dicapai 3 bulan dari bibit ukuran 10 cm.
Menurut Suantika meski menggunakan pakan alternatif, kecukupan nutrisi lele harus terjamin. Idealnya pakan mengandung 30% protein, 5% lemak, 10-20% karbohidrat, 0,25-0,5% vitamin, dan maksimal 6% serat kasar. Jika gizi tidak terpenuhi, pertumbuhan lele jauh dari sempurna. Jangan seperti yang dialami Mirsi. Dengan memberi pakan 50% roti sisa pabrik dan 50% pelet komersial, ‘Kepala lele jadi besar, tetapi tubuhnya kecil,’ katanya. (Tri Susanti/Peliput: Nesia A, & Lastioro AT)
makanan alternative ternakanan ikan June 19, 2009
Posted by angah08 in Uncategorized.
add a comment
Ulat Pengganti Pelet
Ulat ternyata mampu menggantikan pelet sebagai makanan ternak alternatif untuk ikan. Selain kandungan gizinya tinggi, larva serangga itu juga ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan pengawet dalam pembiakannya. Berikut temuan penelitian selengkapnya.
——–
Selain mengetahui seluk-beluk bibit ikan yang bagus, beternak ikan juga harus memahami kondisi fisik air kolam pemeliharaan. Lalu, kejelian dalam memilih juga diperlukan untuk menunjang keberhasilan budi daya ikan. Makanan berfungsi sebagai sumber energi dan materi kehidupan dalam budi daya ikan. Karena itu,makanan mempunyai pengaruh penting terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.
Selama ini hampir sebagian besar peternak ikan masih mengandalkan pelet sebagaim pakanan ikan. Selain mudah didapat dan awet, proses pembua Sayang, pelet berbahan pengawet dan mengakibatkan rusaknya lingkungan perairan. Pelet yang tidak termakan oleh ikan pun akan meninggalkan sisa. Ini menjadikan air keruh dan kotor.
Untuk itu, diperlukan alternatif makanan ikan alami. Salah satunya adalah maggot. Inilah yang mendorong Hartoyo dan Purnama Sukardi, peneliti dari Pusat Ahli Teknologi dan Kemitraan (Pattra) Lembaga Penelitian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, meneliti makanan alternatif untuk ikan peliharaan. Peneliti ingin mencari mpakanan ikan alami yang ramah lingkungan. Memproduksi makanan ikan alami memang bukan hal mudah. Tapi, hal itu bukanlah pekerjaan sulit. Persoalannya terletak pada sarana dan prasarana yang tergolong cukup mahal untuk ukuran ekonomi masyarakat pedesaan secara umum. Selain itu, diperlukan keahlian khusus dalam pengoperasiannya. Makanan sebagai makanan ikan yang baik harus mengandung nilai gizi tinggi dan seimbang. Gizi utama dalammakanan ikan setidaknya mengandung unsur protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air. Meski begitu, kebutuhan nutrisi ikan berubah-ubah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Misalnya, jenis, ukuran, dan aktivitas ikan, dan macam makanan. Faktor lingkungan tempat ikan hidup juga berpengaruh. Misalnya, suhu air dan kadar oksigen terlarut dalam kolam. Jumlah makanan yang dibutuhkan ikan setiap hari berhubungan berat dengan badan dan umurnya. Namun, persentase jumlahnya semakin berkurang dengan bertambahnya ukuran dan umur ikan. Rata-rata jumlah makanan harian yang dibutuhkan seekor ikan adalah 3 persen – 5 persen dari bobot total tubuhnya. Ikan berukuran kecil dan berumur muda membutuhkan jumlah makanan lebih banyak daripada ikan dewasa berukuran besar. Kebutuhan akan nutrisi ikan kecil juga lebih tinggi. Terlebih pada kebutuhan unsur proteinnya. Misalnya, ikan dengan berat 250 gram, kebutuhan makanan harian 1,7 persen – 5,8 persen dari biomassanya. Sementara ikan yang beratnya 600 gram, kebutuhan makanan hariannya hanya 1,3 persen – 3 persen dari biomassanya.
Protein berfungsi membentuk dan memperbaiki jaringan dan organ tubuh yang rusak. Pada kondisi tertentu protein digunakan sebagai sumber energi pada proses metabolisme. Karena itu, kadar protein makanan yang rendah akan menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat. Daya tahan ikan juga menurun sehingga ikan akan mudah terserang penyakit. Lalat berasal dari telur lalat yang mengalami metamorfosis pada fase kedua setelah fase telur dan sebelum fase pupa yang kemudian berubah menjadi lalat dewasa. Larva itu hidup pada daging yang membusuk. Kadang juga menginvestasi pada luka hewan yang masih hidup. Termasuk pada manusia. Dalam prosesnya, penambahan ikan baja tidak boleh melebihi separo atau 50 persen dari berat ampas tahu. Pembiakan paling efektif jika ditambahkan 20 persen ikan baja dari berat ampas tahu. Bagaimana bila ampas tahu tidak ditambah dengan ikan baja? Atau ampas tahu dicampur ikan baja yang melebihi 50 persen dari ampas tahu? Yang terjadi adalah percuma karena tidak dapat menghasilkan ulat.
Artinya, hal itu mengindikasikan bahwa lalat membutuhkan perbandingan ampas tahu dan ikanbaja dengan komposisi perbandingan tertentu secara tepat. Ikan baja berfungsi sebagai makanan ulat yang telah jadi. Keberadaannya juga diperlukan sebagai daya tarik lalat untuk bertelur pada media tersebut. Walaupun demikian, perbandingan ampas tahu dan ikan baja tidak berpengaruh terhadap kandungan protein pada ulat.
Mengapa ampas tahu? Salah satu alasannya, selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya perairan, pada tepung ampas tahu masih terdapat kandungan gizi. Yaitu, protein (23,55 persen), lemak (5,54 persen), karbohidrat (26,92 persen), abu (17,03 persen), serat kasar (16,53 persen), dan air (10,43 persen).
Ketika ampas tahu dipilih untuk dijadikan media, diharapkan terjadi transfer energi dari ampas tahu pada ulat yang dihasilkan. Selain itu, sebagai limbah, ampas tahu mudah didapatkan dengan harga relatif terjangkau. Hal itu menjadikan teknologi pembiakan maulat merupakan teknologi yang murah dan mudah diaplikasikan.
Diharapkan ada teknologi yang lebih aplikatif dan sederhana untuk memanfaatkan limbah ampas tahu sebagai makaanan ikan, sehingga masyarakat mudah melakukannya.
Selama ini para petani ikan sudah memanfaatkan limbah ampas tahu untuk makanan ikan. Namun, hal itu dilakukan secara langsung tanpa melalui proses terlebih dahulu. Padahal, ampas tahu tidak bisa diberikan kepada semua jenis ikan. Selain itu, hal ini dapat berdampak negatif, baik pada ikan maupun lingkungan hidup. Terlebih limbah tahu cair, yaitu sisa air tahu yang tidak menggumpal sehingga mengandung padatan tersuspensi maupun terlarut. Selanjutnya, terjadi perubahan secara fisika, kimia, dan hayati yang menghasilkan zat beracun. Tentu hal itu menjadi media potensial bagi tumbuhnya kuman penyakit
June 19, 2009
sumber http://angah08.wordpress.com/