Jumat, Desember 03, 2010

Model Pengembangan Ekologi Berbasis Pertanian Terpadu

Pengaruh jangka panjang dari perkembangan dunia pertanian dan industri dalam sistem petanian moderen, ternyata menghasilkan dampak negatif yang besar terhadap ekosistim alam. Pencemaran oleh bahan-bahan kimia beracun akibat tingginya intensitas pemakaian pupuk, pestisida dan herbisida telah lama diketahui. Demikian pula dengan ketahanan (resistensi) hama yang semakin meningkat terhadap pestisida akibat penyemprotan yang semakin tinggi serta pencemaran air tanah maupun sungai oleh senyawa nitrat akibat peggunaan pupuk yang berlebihan. Pertanian moderen juga telah mengurangi keragaman spesies tanaman secara drastis akibat penerapan sistem monokultur secara besar-besaran. Ekosistem alam yang semula tersusun sangat kompleks, berubah menjadi ekosistem yang susunannya sangat sederhana akibat berkurangnya spesies tanaman tersebut. Hal ini bertentangan dengan konsep pertanian berkelanjutan, yang selain memperhatikan pemenuhan kebutuhan manusia yang selalu meningkat dan berubah, sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam.
sumber : 

pertanian organik di jepang

Pertanian Organik di Jepang

Jepang dikenal sebagai negara paling maju di Asia. Namun tahukah anda, bahwa pertanian disana ternyata masih kuat nuansa ‘tradisional’nya?  Bagaimana itu? Mari kita simak selengkapnya!
Begitu kita berada di luar Tokyo, terjadilah anomali. Ini terjadi karena ternyata Negeri matahari terbit ini juga merupakan negeri para petani lokal/kecil. Di Fukuoka, kota terbesar nomor tujuh di Jepang, ladang padi yang damai terselip diantara rumah dan candi, dalam bayang-bayang pencakar langit yang hanya berjarak 10 mil.
Di iklim yang sangat kondusif ini, pertanian keluarga menanam buat dan sayuran dalam siklus tahunan, untuk memproduksi bahan pangan bagi kota berpenduduk 1,3 juta ini. Di daerah suburban, dimana pertanian lokal jauh lebih banyak, konsumen sering mendapatkan sayuran yang baru dipetik tadi pagi untuk makan malam. Di supermarket pada jantung kota Fukuoka, adalah umum untuk mendapatkan sayuran yang dipanen sehari sebelumnya.
Hasil pertanian segar
Jika anda menggigit tomat atau stroberi disini, maka efek dari kesegarannya akan segera terasa. Mereka sangat penuh cita rasa, sehingga tidak perlu dipersiapkan lebih lanjut lagi. Bahkan anak-anak menyukai sayuran, termasuk juga yang dianggap tidak enak seperti bayam atau kacang-kacangan.
Jepang memiliki istilah untuk hasrat terhadap makanan lokal dan segar: chisan, chishou, yang berarti, ‘produksi lokal, dan konsumsi lokal’.
Preservasi chisan-chisou pada salah satu negara yang paling terurbanisasi di dunia merupakan teladan yang baik, bahwa di negara lain yang terurbanisasi hal ini juga dapat diterapkan.
Dengan perkecualian Hokkaido, pulau Jepang yang paling utara dan paling rural, sebagian besar pertanian di Jepang adalah operasi skala kecil yang dijalankan oleh beberapa anggota keluarga. Hasilnya tidak hanya pada kesegaran makanan lokal, namun juga dedikasi untuk terhadap produk. Anggur dan peach, diantara buah lain, mereka lindungi dengan pelindung, sewaktu masih tumbuh, untuk melindungi mereka dari serangga dan gangguan lain. Tanah pun dipetakkan dengan baik, sehingga sayuran akan tumbuh dari dalam beberapa kaki. Dengan bantuan dari rumah kaca, hal ini membantu pasokan tanaman dari musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sebagian besar pekerjaan dilakukan oleh tangan. Petani Jepang memproduksi semangka kotak, dari trik bonsai dengan membentuk semangka menjadi kubus sewaktu ia tumbuh, sehingga ia dapat dimasukkan kedalam kulkas. Ini menunjukkan dedikasi mereka terhadap pertanian.
Bantuan Pemerintah
Dalam era modern ini, generasi muda sudah mulai tidak tertarik atau mengapresiasi pertanian chisan chishou. Namun, pemerintah Jepang tidak tinggal diam. Mereka memberikan insentif-insentif, untuk mengakselerasi pertanian lokal. Di 20 tahun terakhir ini, pemerintah telah memfasilitasi pertanian lokal untuk memasuki pasar. Menjual tanah pertanian kepada kepentingan komersial, akan dipajaki sangat tinggi oleh pemerintah, sementara memberikan tanah tersebut ke anak untuk pertanian hanya dipajaki sangat minim. Pusat pertanian juga mengundang anak-anak sekolah untuk menanam dan memanen, untuk meningkatkan minat mereka. Pertanian kadang menjadi bagian dari kurikulum sekolah.
Minoru Yoshino dari Pusat Penelitian Pertanian Fukuoka menjabarkan peran pemerintah pada chisan-chishou dalam tiga hal. Makanan lokal yang segar adalah lebih sehat, dan rasa yang nikmat akan meningkatkan konsumsi sayuran. Sementara, pertanian lokal adalah lebih baik bagi kelestarian lingkungan, karena hanya memerlukan air dan pestisida lebih sedikit.
Diterjemahkan secara bebas dari http://www.livescience.com/health/060905_bad_farming.html
Sumber foto: http://genkijacs.com/images/
 

Jumat, Oktober 01, 2010

Rencana Program Kerja CV Ali Alam Persada

CV ALI ALAM PERSADA


A. Rencana Program Kerja CV Ali Alam Persada

Program kerja yang direncanakan dan dilaksanakan oleh CV Ali Alam Persada Kabupaten Bandung mencakup tiga kategori program, yaitu program jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Program-program yang telah disusun dan akan dilaksanakan oleh CV Ali Alam Persada pada Periode 2008 – 2013 adalah sebagai berikut :

1. Program Kerja Jangka Pendek Periode Tahun 2008
Ø  Penyusunan Program kerja
Ø  Penyusunan RAB
Ø  Penyusunan Profosal
Ø  Penyusnan perizinan
Ø  Produksi pupuk organik cair
Ø  Produksi pupuk organik padat
Ø  Penyunan strategi pemasaran
Ø  Mendirikan konsultan pertanin
Ø  Melengkapi peralatan kantor
Ø  Membuat label

2. Program Jangka Menengah periode 2008 - 2010
Ø  Produksi pupuk organik cair (punik)
Ø  Produksi pupuk organik padat
Ø  Memperluas pemasaran pupuk organik cair
Ø  Mempersentasekan pupuk organik cair
Ø  Membuat outlet tanaman hias
Ø  Pembuatan demplot
Ø  Mendirikan Kantor
Ø  Konsultan Pertanian


3. Program  Kerja Jangka Panjang 2008 – 2013
Ø  Membeli rumah untuk kantor
Ø  Membeli tanah untuk penelitian
Ø  Memasarkan pupuk organik cair keseluruh jawa Barat
Ø  Membuat jaringan pemasaran dengan bentuk kemitraan
Ø  Mendiikan pabrik pupuk organik

 B. Tujuan Program

            Tujuan yang diharapkan melalui program kerja CV Ali Alam Persada Adalah :
1.      Meningkatkan hasil pertanian yang berwawasan lingkungan
2.      Meringankan kebutuhan pupuk para petani
3.      Meningkatkan pembangunan pertanian berwawasan lingkungan
4.      Mensejahterakan para petani pada khususnya dan umumnya bagi masyarakat
5.      Membantu dalam proyek-proyek pemerintah khusunya dalam bidang pertanian

C. Hasil Yang Diharapkan
            Hasil yang diharapkan dari program-program CV Ali Alam Persada adalah :
  1. Perusahaan harus mampu memahami dan mengenali masalah-masalah soasil ekonomi yang dihadapinya , memahami dan mengenali potensi dan kekuatan yang dimilikinya, memahami dan mengenali lingkungannya yang dapat membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi, serta mampu merumuskan apa yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
  2. Menjalin kerjasama dengan petani, koperasi, pengusaha dan pemerintah
  3. Mengurangi ketergantungan petani bahan kimia dan beralih memakai pupuk organik

D. Ruang Lingkup Program Kerja
            Ruang lingkup Program kerja CV Ali Alam Persada adalah
  1. Memproduksi Pupuk organik cair (punik)
  2. Memproduksi pupuk organik padat
  3. Konsultan pertanian
Ø  Menerima Konsultasi pertanian
Ø  Proyek
Ø  Analisa keuangan
Ø  Jurnal
       4 . Menjual tanaman hias
       5.  Pelaku Usaha pertanian
       6.  Menyusun rencana kerja pelaksanaan program
       7.  Monitoring dan evaluasi
       8.  Pelaporan
E. Sasaran Program Kerja
            Sasaran dari program-program yang akan dilaksanakan oleh CV Ali Alam Persada meliputi pihak-pihak yang terkait langsung dengan proses produksi, distibusi dan konsumsi pertanian.

Produsen usaha pertanian, meliputi
a. Petani
Ø  Petani Sayuran
Ø  Petani Buah-buahan
Ø  Petani Tanaman Hias
Ø  Petani Perkebunan
Ø  Petani tanaman pangan
Ø  Petani Obat - obatan
              b. Pengusaha
Ø  Sayuran
Ø  Buah – buahan
Ø  Tanaman Hias
Ø  Perkebunan
Ø  Tanaman Pangan
Ø  Obat-obatan
c.       Asosiasi bidang pertanian
d.      Kelompok tani
e.       Organisasi pertanian
f.       Toko pertanian
g.      Disributor pupuk
h.      Pemerintah (kabupaten, propinsi dan pusat)

Senin, September 20, 2010

Bahaya pestisida terhadap kesehatan manusia

Bahaya pestisida terhadap kesehatan manusia

Kita semua terpapar dengan pestisida pada dasarnya yang berketerusan. Makanan yang kita makan, terutama buah dan sayuran segar, mengandung residu pestisida. The National Academy of Sciences (NAS) tahun 1987 mengeluarkan laporan tentang pestisida dalam makanan. Pada dasar data dalam penelitian, resiko potensial yang diberikan oleh pestisida penyebab kanker dalam makanan kita lebih dari sejuta kasus kanker tambahan dalam masyarakat Amerika selama hidup. Karena sekitar 30 macam pestisida karsinogen terdapat dalam makanan kita, dan selama ini belum menyebutkan potensi pemaparan terhadap pestisida karsinogen dalam air minum
Jenis Pestisida dan potensi bahaya bagi kesehatan manusia
No Jenis Pestisida Jenis Penggunaan Potensi Bahaya Pada Kesehatan Manusia
1 Asefat Insektisida Kanker, mutasi gen, kelainan alat reproduksi
2 Aldikard Insektisida Sangat beracun pada dosis rendah
3 BHC Insektisida Kanker, beracun pada alat reproduksi
4 Kaptan Insektisida Kanker, mutasi gen
5 Karbiral Insektisida Mutasi gen, kerusakan ginjal
6 Klorobensilat Insektisida Kanker, mutasi gen, keracunan alat reproduksi
7 Klorotalonis Fungisida Kanker, keracunan alat reproduksi
8 Klorprofam Herbisida Kanker, mutasi gen, pengaruh kronis
9 Siheksatin Insektisida Karsinogen
10 DDT Insektisida Cacat lahir, pengaruh kronis.
Sumber : Pesticide Action Network (PAN) Indonesia
Badan yang bekerja sebagai pemantau atas pestisida untuk melindungi konsumen (FDA
/The foot and Drug Administration), menyatakan lebih dari 110 pestisida yang berbeda terdeteksi dalam semua makanan ini antara 1982-1985. Dari 25 pestisida yang terdeteksi lebih sering, 9 telah diidentifikasi oleh FDA sebagai penyebab kanker, disamping potensi bahaya lainnya. Pada musim panas 1985, hampir 1000 orang dibebrapa negara bagianWilayah Barat dan Kanada keracunan oleh residu pestisida Temik dalam semangka. Dalam 2-4 jam setelah memakan semangka yang tercemar, orang akan mengalami rasa mual, muntah, pandangan buram, otot lemah dan gejala lain. (Masih untung), tidak ada yang meninggal, biarpun kebanyakan korban dalam kondisi parah. Masih ditempat yang sama laporan juga menyebutkan adanya serangan gangguan hebat, jantung tak teratur, sejumlah orang dirumah-sakitkan, dan paling kurang 2 bayi lahir mati. Tahun 1986, kira-kira 140 kandang sapi perah di Arkansas, Oklahoma dan Missouri dikarantina karena tercemar oleh pestisida terlarang heptaklor.
WHO (World Health Organisation) memperkirakan bahwa setengah juta kasus keracunan pestisida muncul setiap tahunnya, 5000 orang diantaranya berakhir dengan kematian.
Pada akhir tahun 1980 dilaporkan bahwa jumlah keracunan pestisida di dunia dapat mencapai satu juta kasus dengan 20.000 kematian per tahun.
Dr. Nani Djuangsih dalam penelitiannya tahun 1987 di beberapa desa di Jawa Barat menemukan residu DDT dalam Asi sebanyak 11,1 ppd didaerah Lembang. Demikian pula penelitian muthahir yang dilakukan Dr. Theresia membuktikan masih detemukan turunan DDT sebanyak 0,2736 ppm dalam ASI di daerah Pengalengan.
Dampak secara tidak langsung dirasakan oleh manusia, oleh adanya penumpukan pestisida di dalam darah yang berbentuk gangguan metabolisme enzim asetilkolinesterase (AChE), bersifat karsinogenik yang dapat merangsang sistem syaraf menyebabkan parestesia peka terhadap perangsangan, iritabilitas, tremor, terganggunya keseimbangan dan kejang-kejang (Frank C. Lu, 1995). Hasil uji Cholinesterase darah dengan Tintyometer Kit yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur terhadap tenaga pengguna pestisida pada tahun 1999 dari 86 petani yang diperiksa 61,63 % keracunan dan 2000 sebanyak 34,38 % keracunan dari lokasi yang berbeda. Sulistiyono (2002), pada petani Bawang Merah di tiga kecamatan di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur, ditemukan petani yang terpapar pestisida kategori berat 5 orang dan ringan 83 kasus dari 192 responden
Pestisida dapat merusak keseimbangan ekologi
Dinamika pestisida dilingkungan yang membentuk suatu siklus, terutama jenis pestisida
yang persisten. Penggunaan pestisida oleh petani dapat tersebar di lingkungan sekitarnya; air permukaan, air tanah, tanah dan tanaman. Sifat mobil yang dimiliki akan berpengaruh terhadap kehidupan organisme non sasaran, kualitas air, kualitas tanah dan udara.
Kondisi tanah di Lembang dan Pengalengan Jawa Barat berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Theresia (1993) sudah tercemar pestisida. Di daerah Lembang, contoh tanah yang diambil dari sekitar ladang tomat, kubis, buncis dan wortel, mengandung residu organoklorin yang cukup tinggi. Penggunaan pestisida dan tertinggalnya residu dapat sangat menurunkan populasi hewan tanah.
Dibandingkan dengan besarnya kandungan residu pestisida dalam tanah, kandungan pestisida dalam air memang lebih rendah. Meskipun demikian hasil penelitian membuktikan bahwa telah terjadi pencemaran di lingkungan perairan akibat pestisida. Contohnya ialah kematian 13 orang di Aceh Utara akibat mengkonsumsi tiram (Ostrea culcullata) yang tercemar pestisida. Pencemaran itu menurut Kompas 10 Mei 1993 berasal dari tambak udang yang menggunakan Brestan untuk membunuh siput dan hama yang memakan benur.
Lingkungan perairan yang tercemar menyebabkan satwa yang hidup di dalam dan sekitarnya turut tercemar. Ini dapat dibuktikan dari penelitian Dr. Therestia tahun 1993, ia menemukan kandungan Organoklorin dalam tubuh ikan sebanyak 0,0792 ppm di Lembang dan 0,020 ppm di Pengalengan. Selain itu terdapat residu organofosfat sebesar 0,0004-1,1450 ppm di wilayah tersebut.
BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) tahun 1982 sudah melaporkan bahwa ikan,
udang dan kepiting di Delta Cimanuk Jawa Barat tercemar oleh derivat DDT. Air dan Lumpur tanah liat pun tercemar dengan Diazinon dan Thiodan. Penelitian yang lebih intensif, dilakukan oleh Proyek Penelitian Pengembangan Sumberdaya Air dan Pencemaran Perairan Air Tawar menemukan bahwa semua badan air tawar yang diteliti di Jawa Barat mengandung pestisida dengan jumlah berkisar 0,1-6,0 ppm dari 4 jenis Organofosfat dan 1 karbamat yang dianalisis, dan badan-badan air tawar di bagian Indonesia lainnya, seperti di Sumatera, Sulawesi dan Bali hampir tercemar seluruhnya
Peranan pestisida dalam sistem pertanian sudah menjadi dilema yang sangat menarik untuk dikaji. Berpihak pada upaya pemenuhan kebutuhan produksi pangan sejalan dengan peningkatan perumbuhan penduduk Indonesia, maka pada konteks pemenuhan kuantitas produksi pertanian khususnya produk hortikultura pestisida sudah tidak dapat lagi dikesampingkan dalam sistem budidaya pertaniannya. Mengingat penciptaan social culture yang telah tercipta sedemikian rupa oleh pemerintah tahun 1980-an dengan subsidi biaya penggunaan pestisida dan pendewaan pestisida sebagai penyelamat produksi dan investasi petani. Hingga saat ini ketergantungan petani terhadap pestisida semakin tinggi untuk menghasilkan kuantitas dan cosmetic appearance produk, hal ini disebabkan oleh kesimbangan ekologis yang sudah tidak sempurna (populasi hama tinggi musuh alami semakin punah).
Di pihak lain penggunaan pestisida membawa bencana yang sangat hebat terhadap kesehatan petani dan konsumen akibat mengkonsumsi produk hortikultura yang mengandung residu pestisida. Menurut WHO setiap setengah juta kasus pestisida terhadap manusia, 5000 diakhiri dengan kematian. Dampak lain yang tidak kalah pentingnya adalah timbulkan pencemaran air, tanah dan udara yang dapat mengganggu sistem kehidupan organisme lainnya di biosfer ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 1993. Prinsip-prinsip Pemahaman Pengendalian Hama Terpadu. Konsep Pengendalian Hama Terpadu. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Bina
Perlindungan Tanaman.B.I. Jakarta
Bimas, 1990. Surat Keputusan Menteri Pertanian/Ketua Badan Pengendali BIMAS.
Faedah, A. Gayatri, Koesnadi dan Y. Chan, 1993. Awas pestisida “Ngendon” dalam Makanan Kita.
Majalah Terompet (Teropong Masalah Pestisida), Edisi IV Jakarta : Pesticide Action
Network (PAN)- Indonesia.
Frank C. Lu. 1995, Toksikologi Dasar (Azas, Organ Sasaran dan Penilaian Resiko) Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia
Kompas, Feb. 1994. Buah Impor Mengandung Pestisida Terlarang
Pimentel D.,D. Khan (ed), 1997. Environment Aspects of “Cosmetics Satandard” Of Foods and
Pesticides. “Tecniques for Reducing Pesticide Use”. New York: John Wiley and
Sons Ltd.
Riza V.T. dan gayatri. 1994. “Ingatlah Bahaya Pestisida” Bunga Rampai “Residu Pestisida dan Alternatifnya” PAN- Indonesia.
Smith, R.F. 1978. The Role of Pesticide in the Concept of Managemant, in Pesticide Management in
South Eas Asia. Proc. SEA Workshop on Pesticide Management, 1977. Bangkok,
Thailland. P. 47 –51.
Sulistiyono, 2002. Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Petani Bawang Merah dalam Penggunaan Pestisida. (Kasus di Kabupaten Nganjuk Propinsi Jawa Timur). Thesis Program Pascasarjana. IPB
Sumarwoto, et al. 1978. Residu Pestisida dalam Hasil Pertanian, Seminar Pengendalian Pencemaran Air.
Untung K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Sabtu, September 04, 2010

Pertanian Hidupi Belanda

Pertanian Hidupi Belanda
Senin, 30 Agustus 2010 | 05:30 WIB
shutterstock
Ilustrasi
 Oleh Jimmy S Harianto
DEN HAAG, KOMPAS.com - Berkaca dari pengalaman negeri Belanda yang juga hidup dari sektor pertanian, perlu disadari bahwa industri pertanian bisa dijadikan pendorong utama perekonomian Indonesia.
Jika dilihat dari luas wilayah serta potensi yang dimiliki negeri di Nusantara, Indonesia harus bisa melakukan hal serupa. ”Negara kami kecil, tetapi di dunia besaran perekonomian kami ada di urutan ke-16,” tutur Martin J Kropff, Rektor Universitas dan Research Wageningen, Den Haag, Belanda, Jumat (27/8).
Luas wilayah Belanda hanya 41.526 km persegi. Luas wilayah Indonesia 1.919.440 km persegi. Dan, nyaris seluruh wilayah Belanda ada di bawah permukaan laut. Akan tetapi, justru wilayah-wilayah pinggir laut yang dulu semestinya adalah laut kini menjadi lahan pertanian yang subur, peternakan, dan lokasi utama agroindustri yang mampu menyumbang 20 persen terhadap pendapatan nasional (PNB) Belanda. Pendapatan per kapita Belanda pun tercatat 2 persen di atas rata-rata orang Eropa. ”Ekonomi kami ditopang sekitar 20 persen dari agroindustri,” ungkap Martin Kropff pula. Sedemikian canggihnya industri pertanian Belanda sehingga, menurut Kropff, pertanian Belanda tak hanya menguntungkan pasar negeri sendiri, tetapi juga negara lain.
Universitas Wageningen, sebagai pusat studi dan juga pusat riset pertanian Belanda, turut memainkan peran kunci dalam kemajuan pertanian yang dicapai negeri berpenduduk sekitar 17 juta jiwa ini (dibandingkan Indonesia yang 240 juta jiwa). Universitas Wageningen menjadi salah satu pusat riset dengan hasil risetnya diterapkan Pemerintah Belanda dalam menjalankan roda pertanian Negeri Kincir Angin itu.

Kuncinya riset

Belajar dari pengalaman selama perekonomian sulit di masa Perang Dunia ke-2, ungkap Martin Kropff, Belanda pun melakukan investasi di bidang riset. Dari riset-riset ini kemudian digulirkan inovasi-inovasi, di antaranya untuk industri pertanian.

Wageningen, sebagai salah satu pusat studi dan pusat riset pertanian, pada akhirnya tidak hanya menampung mahasiswa-mahasiswa domestik untuk gelar doktor (PhD), tetapi juga menjadi semacam pusat riset yang lebih internasional. ”Mereka tak hanya melakukan riset di sini, tetapi juga riset di negeri masing-masing. Mereka datang dari lebih 100 negara,” ungkap Rektor Wageningen, yang beberapa bulan lalu melakukan perjalanan ke Bogor, Yogyakarta, dan Jakarta untuk penjajakan kerja sama dengan Indonesia. ”Setidaknya ada 104 mahasiswa Indonesia yang belajar di sini,” ungkap Martin Kropff, yang mengungkapkan pula bahwa Wageningen tak lebih adalah kota pelajar dan ilmuwan. Dari sekitar 35.000 penduduknya, 6.500 orang di antaranya adalah para pengajar dan staf Universitas Wageningen dan 10.000 lainnya adalah mahasiswa.
”Bahkan, industri benih merupakan salah satu penghasil utama pertanian kami, di samping tentunya penghasil utama industri bunga,” ungkap Rektor ini pula. Dia memberikan sebuah ilustrasi bahwa sekilogram benih tomat dari Belanda saat ini, misalnya, di Eropa bernilai lebih mahal daripada sekilogram emas. Itu semua merupakan hasil riset dan teknologi yang dikembangkan Belanda sejak lebih dari setengah abad yang silam.
 sumber : http://internasional.kompas.com/read/2010/08/30/05303243/Pertanian.Hidupi.Belanda

Rabu, Juni 16, 2010

PAMERAN PANGAN NUSA 2009


Penyelenggaan pameran pangan nusa 2009 diadakan pada tanggal 7 s/d 9 Agustus 2009 yang bertempat JCC. Peserta yang hadit adalah para pungusaha, asosiasi, para pelaku udaha dibidang pertanian, perkebunan, UKM Dll yang disenggarakan oleh Departeman perdagangan yang diresmikan oleh Ibu Marie Pangestu. Dalam pameran ini Asosiasi pedagang Komoditi Agro Jawa Barat membuka stan yang memamerkan produk-produk AGro yang pesertanya terdiri dari para pelaku usaha seperti Dian Fressm ,PT Alamanda , Pupuk Pakuan dan produk-produk lainnya.

Sebagai salah satu peserta dari APKA dengan diadakan pameran ini kita bisa mencari informasi seperti informasi pertanian, memperkenalkan produk, informasi produk UKM, informasi produk unggulan daerah yang di Indonesia dan segala potensinya. Karena dengan pameran ini kita akan menjalin silaturahmi anata pelaku usaha pertanian dan akan memberikan wawasan bagi kita dan peluang usaha. Dengan adanya peluang usaha bagi pelaku-pelaku usaha yang lain. Dengan pengadakan pameran ini bisa menambah wawasan bagi saya dibidang pertanian (Alinudin Hukubun, SP Profesi Konsultan Pertanian)

Sabtu, Juni 12, 2010

Pemanfaatan pekarangan dengan menanam sayuran sehat yang bebas pestisida


Pemanfaatan pekarangan ini dibuat pada bulan maret 2010 dengan menanam beraneka ragam sayur-sayuran sehat seperti sawi, sosin , cabe dan kangkung dengan menggunakan media dari hasil limbah pupuk organik yang dicampur dengan sekam padi yang di tanam dalam polibag dengan ukuran 1kg. Dalam penanam ini saya memakai pupuk organik hasil penelitian sendiri dengan takaran 10 cc per liter dengan waktu penyiraman 1 minggu satu kali. Pupuk tersebut terbuat dari kotoran kambing yang dicampurkan dengan mikroba untuk menghasilkan pupuk yang sempurna dan hasilnya juga bagus yang fungsinya untuk meningkatkan hasil pertanian,
meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan PH tanah baik unsur mikro dan makro Dengan Pemanfaatan pekarangan ini sebagai saya ingin memanfaatan pekarangan disekitar rumah supaya produktif yang menghasilkan untuk kebutuhan rumah tangga dan menghemat biaya. Dengan memakan sayuran sehat kita terhindar dari penyakit dan terbebas dari bahan kimia yaitu pestisda yang bisa menracuni tubuh kita dan menimbulkan penyakit jantung, kanker, cacat tubuh dan Stroke. Sayuran sehat juga memberikan manfaat bagi kita dan keluarga supaya tidak menkonsumsi sayuran yang terkena pestisida dan terhindar dari penyakit yang bisa sewaktu-waktu menyerang kita dan keluarga di rumah. Dengan saya mengajak untuk memanfaatan pekarangan kita dengan menanam sayuran sehat untuk memnuhi kebutuhan rumah tangga ibu dan bapak dan memberikan nilai ekonomis yang tinggi yang bisa berguna bagi kita keluarga dan masyarakat. Dalam ini juga untuk menggalangkan untuk hidup sehat secara alami. Kalau begitu saya membuka kesempatan untuk mengkonsultasi masalah pemanfaatan pekarangan dengan menanam sayuran sehat untuk memwujudkan masyarakat indonesia sehat
Sumber  :  Alinudin hukubun, SP profesi sebagai konusltan pertanian

Jumat, Mei 28, 2010

Konsultan pertanian

KONSULTAN PERTANIAN

Konsultasi pertanian meliputi
a. Konsultasi online
1. Konsultasi tentang budidaya tamanan pangan
2. Konsultasi tentang budidaya tanaman hortukultura
3. Konsultasi tentang budidaya Tanaman hias
4. Konsultasi tentangbudidaya tanaman buah-buahan
5. Konsultasi tentang pupuk organik
6. Konsultasi tentang pestisida nabati
7. Konsultasi Tentang usaha pertanian
8. Konsultasi tentang pertanian di Pekarangan


b Wirausaha
1. Wirusaha petanian
2. Analisa usaha tani
3. Proyek
5. dll

Untuk biaya konsultasi oline Rp 150.000/paket
biayanya bisa ditransfer BCA KCU Dago
a/n Alinudin Hukubun, SP Rek. 7770879684 untuk biaya biaya proyek atau analisa harganya nego

Minggu, Mei 23, 2010

MACAM – MACAM PESTISIDA NABATI/ALAMI DAN CARA PEMBUATANNYA

MACAM – MACAM PESTISIDA NABATI/ALAMI DAN CARA PEMBUATANNYA

January 6, 2009

Seperti yang sudah pernah saya ulas dalam web-blog saya yang lalu tentang pestisida Nabati/alami, disini saya akan menambahkan tentang macam-macam pestisida nabati/alami yang dapat dipilih dan dipakai oleh para petani/pehobis untuk menanggulangi pengendalian hama penyakit tanamannya. Disini tergantung dengan sumber bahan dasar yang ada di wilayah masing-masing sehingga akan lebih mudah dan biaya pembuatannya pun semakin murah.

Macam – macam Pestisida Nabati/Alami

1. Pestisida Nabati “Daun Pepaya”

Daun pepaya mengandung bahan aktif “Papain”, sehingga efektif untuk mengendalikan “ulat dan hama penghisap”.

Cara Pembuatannya:

- 1 kg daun pepaya segar di rajang

- Hasil rajangan di rendam dalam 10 liter air, 2 sendok makan minyak tanah, 30 gr detergen, diamkan semalam.

- Saring larutan hasil perendaman dengan kain halus.

- Semprotkan larutan hasil saringan ke tanaman.

2. Pestisida Nabati “Biji Jarak”

Biji Jarak mengandung “Reisin dan Alkaloit” , efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap (dalam bentuk larutan ), Juga efektif untuk mengendalikan nematoda/cacing (dalam bentuk serbuk).

Cara Pembuatannya:

- Tumbuk 1 biji jarak dan panaskan selama 10 menit dalam air 2 liter, tambahkan 2 sendok makan minyak tanah dan 50 gr deterjen lalu diaduk.
- Saring larutan hasil perendaman, tambahkan air kembali 10 liter.
- Siap dipergunakan dengan cara di semprot kan ke tanaman.

3. Pestisida Nabati ” Daun Sirsak “

Daun sirsak mengandung bahan aktif “Annonain dan Resin “. Efektif untuk mengendalikan hama ” Trip “

Cara Pembuatan :

- Tumbuk halus 50 – 100 lembar daun sirsak.
- Rendam dalam 5 liter air, + 15 gr detergen, aduk rata dan diamkan semalam.
- Saring dengan kain halus
- Dicairkan kembali 1 liter larutan pestisida dengan 10 – 15 liter air
- Siap disemprotkan ke tanaman.

4. Pestisida Nabati ” Daun Sirsak dan Jeringau “

Rimpang jeringau mengandung ” Arosone, Kalomenol, Kalomen, Kalomeone, Metil eugenol, Eugenol “.

Efektif untuk mengendalikan ” hama wereng coklat “.

Cara Pembuatan:

- Tumbuk halus segenggam daun sirsak , segenggam rimpang jeringau, 20 siung bawang putih.
- Rendam dalam air sebanyak 20 liter, di + 20 gr sabun colek, aduk rata dan di biarkan semalam.

- Saring dengan kain halus.
- Encer kan 1liter pestisida dengan 50 -60 liter air
- siap di semprotkan ke tanaman.

5. Pestisida Nabati ” Pacar Cina “

Pacar Cina mengandung minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoin, dan tanin. Efektif untuk mengendalikan ” Hama ulat “.

Cara Pembuatan:

- Tumbuk 50 -100 gr ranting atau kulit batang pacar cina, tambah 1 liter air, tambah 1 gr detergen kemudian direbus selama 45-75 menit dan diaduk agar menjadi larutan.

- saring dengan kain halus.
- siap disemprotkan ke tanaman.

6. Pestisida Nabati ” Rendaman Daun Tembakau “

Daun tembakau mengandung nikotin. Efektif untuk mengendalikan hama penghisap.

Cara Pembuatan :

- Rajang 250 gr ( sekitar 4 daun ) tembakau dan direndam dalam 8 liter air selama semalam.
- Tambahkan 2 sendok detergen, aduk merata kemudian disaring.
- Siap disemprotkan ke tanaman.

7. Pestisida Nabati ” Daun Sirih Hutan “

Daun sirih hutan mengandung ” fenol dan kavokol “. Efektif untuk hama penghisap.

Cara Pembuatan:

- Tumbuk halus 1 kg daun sirih hutan segar, 3 siung bawang merah, 5 batang serai.
- Tambahkan air 8 – 10 liter air, 50 gr deterjen dan diaduk rata.
- Saring dengan kain halus
- Siap disemprotkan ke tanaman.

8. Pestisida Nabati ” Umbi Gadung “

Umbi gadung mengandung diosgenin, steroid saponin, alkohol dan fenol. Efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap.

Cara Pembuatan :

- Tumbuk halus 500 gr umbi gadung dan peras dengan batuan katong kain halus.
- Tambahkan 10 liter air , aduk rata dan siap di semprotkan ke tanaman.

9. Pestisida Nabati ” Daun Mimba “

Daun mimba mengandung Azadirachtin, salanin, nimbinen dan meliantriol. Efektif mengendalikan ulat, hama penghisap, jamur, bakteri, nematoda dll.

Cara pembuatan

a. Dengan ” Biji Mimba “

- Tumbuk halus 200 -300 gr biji mimba
- rendam dalam 10 liter air semalam
- Aduk rata dan saring, siap disemprotkan ketanaman.

b. Dengan ” Daun Mimba “

- Tumbuk halus 1 kg daun mimba kering bisa juga dengan daun segar.
- Rendam dalam 10 liter air semalam, aduk rata , saring dan siap untuk disemprotkan ke tanaman.

c. Untuk mengendalikan ” nematoda puru akar ” pada tanaman tembakau lakukan 15 -30 gr daun mimba kering atau 5 -10 gr biji mimba ditumbuk halus, kemudian diberikan untuk setiap lubang tanaman tembakau.

d. Untuk mengendalikan ” Jamur Fusarium dan Sclerotium “. sebanyak 2 -6 gr biji mimba ditumbuk lalu rendam selama 3 hari dengan air 1 liter. Lalu disaring dan siap di semprotkan ke tanaman.

10. Pestisida Nabati ” Srikaya dan Nona Seberang “

Srikaya dan nona seberang mengandung annonain dan resin. Efektif untuk mengendalikan ulat dan hama pengisap.

Cara Pembuatan

- Tumbuk hingga halus 15 -25 gr biji srikaya/nona seberang

- Rendam dalam 1 liter air, 1gr deterjen , aduk rata dan biarkan 1 malam, kemudian saring dan siap disemprotkan ketanaman.

11. Pestisida Nabati “ Daun Gamal “

Daun gamal mengandung Tanin. Efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap. Daun gamal bila ditambah dengan minyak tanah dan detergen akan dapat dipakai sebagai insektisida. Penggunaan nya harus hati2 karena dengan adanya minyak tanah mengakibatkan tanaman terbakar dan bau bila mendekati panen.

12. Pestisida Nabati ” Daun Mimba dan Umbi Gadung “.

Efektif untuk mengendalikan ulat dan hama penghisap.

Cara Pembuatan

- Tumbuk halus 1kg daun mimba dan 2 buah umbi gadung racun, ditambah 20 liter air, 10 gr detergen dan aduk rata kemudian diamkan semalam, saring dan siap untuk di semprotkan ke tanaman.

13. Pestisida Nabati “Serbuk Bunga Piretrum “

Serbuk bunga piretrum mengandung bahan “Piretrin “. Efektif untuk mengendalikan ulat.

Cara Pembuatan

- Rendan serbuk bunga piretrum sebanyak 25 gr dalam 10 liter air
- tambah 10 gr detergen, aduk rata dan biarkan semalam kemudian disaring dan siap disemprotkan ke tanaman.


Sumber : – Sinar Tani no: 3281

Kamis, Mei 13, 2010

Petani Organik Butuh Insentif

Petani Organik Butuh Insentif
Selasa, 4 Mei 2010 | 17:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertanian organik terbukti mampu memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan petani. Namun dukungan pemerintah terhadap pertanian organik masih lemah, termasuk dalam sertifikasi. Pertanian organik memperkuat ketahanan pangan nasional. Karena itulah Forum Organisasi Penggiat Pertanian Organik (FOPPO) Indonesia yang merupakan gabungan dari enam asosiasi peduli/penggiat pertanian organik bersatu membentuk FOPPO. Mereka, Selasa (4/5/2010) mendatangi Menteri Pertanian Suswono. Juru Bicara FOPPO Indro Surono menyatakan, pertanian organik memperkuat ketahanan pangan nasional. Selama ini pertanian organik dianggap belum mampu menjawab solusi atas ancaman kerawanan pangan akibat produktivitas yang belum optimal. Padahal banyak pembuktian di lapangan setelah melalui beberapa musim praktik pertanian organik mampu menyamai produktivitas pertanian konvensional. Untuk itu FOPPO mendorong para pihak, khususnya Kementerian Pertanian memperbanyak penelitian dan proyek percontohan pengembangan pertanian organik yang mampu menjawab tantangan ketahanan pangan. Pertanian organik terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Karena itu pemerintah perlu mendorong pemberian insentif kepada petani organik yang telah berperan dalam memperba iki kesuburan tanah, kesehatan lingkungan pertanian, dan penghematan subsidi pupuk anorganik. Insentif tersebut dapat berupa fasilitas produksi pupuk organik di kelompok tani berupa rumah kompos, ternak dan mesin pengolah kompos. Bentuk lain insentif dapat berupa subsidi biaya sertifikasi organik dan harga kepada kelompok tani organik, penerapan demplot organik di desa-desa percontohan, pelatihan kepada para penyuluh dan kelompok tani dan sebagainya. Selain itu mempermudah akses penjaminan/sertifikasi bagi kelompok tani organik. Juga memperluas akses produk organik di pasar domestik dan internasional. FOPPO berharap agar pemerintah aktif memfasilitasi perluasan pasar organik dalam bentuk promosi, pameran, akses pasar utama (supermarket, hypermarket) dan jaringan pelaku pasar organik nasional dan internasional. Dengan demikian pasar organik domestik semakin berkembang dan Indonesia mampu memasok kebutuhan produk organik dunia sambil meraih devisa yang tinggi dari ekspor tersebut. Saat ini anggota FOPPO terdiri dari Aliansi Organis Indonesia (AOI), Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA), Jaringan Kerja Pertanian Organik Indonesia (Jaker PO), Masyarakat Peduli Petani Organik (MPPO), Asosiasi Petani Organik Indonesia (APOI), dan Aliansi Petani Indonesia (A PI).

sumber :http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/05/04/17153749/Petani.Organik.Butuh.Insentif

Kamis, April 29, 2010

ANALISA USAHA PERTANIAN PADI ORGANIK

ANALISA USAHA

ANALISA USAHA PERTANIAN PADI ORGANIK




Apakah Pertanian Organik Layak secara Ekonomi?.

Bicara keberlanjutan dalam pertanian organik, tidak dapat dipisahkan dengan dimensi ekonomi, selain dimensi lingkungan dan dimensi sosial. Pertanian organik tidak sebatas hanya meniadakan penggunaan asupan eksternal sintetis, tetapi juga pemanfaatan sumber-sumber alam secara berkelanjutan, produksi makanan sehat dan menghemat energi. Aspek ekonomi dapat berkelanjutan bila produksi pertaniannya mampu mencukupi kebutuhan dan memberikan pendapatan yang cukup untuk melaksanaan keberlanjutan penghidupan. Tetapi, kerapkali motivasi ekonomi menjadi kemudi yang menyetir arah pengembangan pertanian organik. Di satu sisi dapat mendorong pengembangan pertanian organik di Indonesia, tetapi di sisi lainnya dapat menjadi bumerang yang dapat meruntuhkan pondasi gerakan pertanian organik yang sedang dibangun.

Ekonomi Lahan

Budidaya pertanian organik mengintikan pada keselarasan alam, melalui keragaman hayati dan pengoptimalan penggunaan asupan alami yang berada di sekitar melalui proses daur ulang bahan-bahan alami. Dalam proses budidayanya, dari persiapan lahan hingga pemanenan tidak dapat dilepaskan dengan interaksi kedua hal tersebut.

Pertanian organik yang berasal dari lahan konvensional (lahan yang intensif penggunaan asupan kimia sintetis) perlu masa peralihan. Peralihan dari pertanian yang dikelola secara konvensional ke pertanian organik seharusnya tidak hanya memperbaiki ekosistem lahan, namun juga menjamin kelangsungan hidup (secara ekonomi) lahan tersebut. Karena itu, penyesuaian, kesempatan dan resiko yang dituntut untuk peralihan itu saling berkaitan dan harus diperhatikan.

Peralihan ke pertanian organis memerlukan pola pikir yang baru pula. Seluruh anggota keluarga yang terlibat dalam pengelolaan lahan harus siap dalam melakukan perubahan-perubahan dalam banyak aspek. Yang pertama dan terpenting adalah cara pandang petani itu sendiri terhadap pertanian organik.

Potensi ekonomi lahan pertanian dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berperan dalam perubahan biaya dan pendapatan ekonomi lahan. Setiap lahan memiliki potensi ekonomi bervariasi (kondisi produksi dan pemasaran), karena lahan pertanian memiliki karakteristik berbeda yang disesuaikan dengan kondisi lahan tersebut. Maka faktor-faktornya bervariasi dari satu lahan ke lahan yang lain dan dari satu negara ke negara yang lain. Secara umum, semakin banyak perubahan dan adopsi yang diperlukan dalam lahan pertanian, semakin tinggi pula resiko ekonomi yang ditanggung untuk perubahan-perubahan tersebut.

Kemampuan ekonomi suatu lahan dapat diukur dari keuntungan yang didapat oleh petani dalam bentuk pendapatannya. Keuntungan ini bergantung pada kondisi-kondisi produksi dan pemasaran. Keuntungan merupakan selisih antara biaya (costs) dan hasil (returns). Modal tetap atau fixed costs (yang tidak secara langsung bergantung pada ukuran produksi) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli atau menyewa tanah, bangunan atau mesin-mesin; atau bisa juga biaya yang disediakan untuk menggaji pekerja-pekerja tetap. Upah bagi buruh tani (termasuk bila menggunakan tenaga kerja keluarga) yang bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan khusus (misalnya pada waktu panen) tergantung pada ukuran produksi. Ini disebut sebagai modal tidak tetap (variable costs), termasuk biaya yang dikeluarkan untuk membeli asupan (misalnya benih, manur, pestisida). Sebuah lahan bisa dikatakan layak secara ekonomi jika hasil yang didapat melampaui total modal tidak tetap dan penurunan nilai modal tetap. Hasil utamanya berupa uang yang diterima dari penjualan produk yang dihasilkan. Untuk memperhitungkan keuntungan lahan keluarga dan kegiatan-kegiatan lahan, penghematan pengeluaran untuk makan dan pendapatan yang diperoleh dari luar lahan (misalnya sebagai buruh upahan atau dari kegiatan usaha yang lain) harus turut diperhitungkan.

Pada masa peralihan ini perlu dilihat, apakah biaya produksi dan hasil panenan akan meningkat atau menurun?. Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya-biaya selama dan setelah peralihan tidak selalu sama dan bergantung pada jenis pertaniannya, apakah bertani tradisional atau intensif?, dan jenis produksinya -(tanaman apa yang utama?. Apakah juga memelihara hewan ternak?)- serta kondisi lingkungan dan sosial-ekonomi.

Karena itu, penyamarataan biaya produksi tidak mungkin dilakukan. Dalam kasus-kasus yang sering dijumpai di lahan, biaya asupan awal mengalami kenaikan karena petani harus membeli manur organik untuk membangun materi organik tanah. Selain itu, diperhitungkan pula biaya untuk menggaji pekerja -mengangkut manur, membersihkan semak, dll- yang menjadi rangkaian pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan sistem pertanian organiknya. Ini dapat menaikkan biaya produksi secara keseluruhan. Sementara hasil produksinya dapat menurun sekitar 10-50 persen dari hasil pertanian konvensional, tergantung dari tanaman dan sistem pertaniannya.

Penurunan hasil panen bisa terjadi dalam kondisi-kondisi tertentu, terutama jika kesuburan tanah amat rendah akibat kekurangan materi organik tanah. Hal ini dapat mengecewakan petani yang berharap mengalami peningkatan hasil dari sistem organik. Jika demikian situasinya, perlu dinilai secara individu di setiap daerah dan di setiap lahan. Untuk menghindari kekecewaan yang berlebihan, petani yang tertarik untuk beralih ke pertanian organis harus diingatkan untuk bersiap-siap menghadapi penurunan hasil pada tahun-tahun awal dan tidak perlu khawatir karena setelah tiga hingga lima tahun hasil panen akan naik dan memuaskan. Tampaknya perbaikan hasil panen dapat menjadi lebih tinggi pada daerah yang memiliki iklim lembab dengan tanah yang mengandung banyak materi organisnya.

Berdasarkan studi literatur dan bukti empirik di lapangan, setelah masa peralihan dilalui, hasil panen pertanian organis mengalami peningkatan seperti jumlah semula bahkan dapat melebihi. Jadi, pada waktu proses peralihan dari pertanian konvensional ke organis selesai, hasil panen yang didapat sangat positif karena tidak mengalami penurunan.

Selain itu, setelah masa peralihan usai, tanah lahan telah 'pulih' dan keanekaragaman hayati di lahan telah mengalami keseimbangan, memberikan kontribusi bagi penurunan biaya produksi seperti biaya sebelum perubahan atau mungkin lebih rendah, mengingat saat itu lahan tidak membutuhkan asupan kimia pertanian (agro kimia) yang sangat mahal harganya karena cukup memanfaatkan sumber-sumber yang ada di lahan itu sendiri.

Hasil/keuntungan tidak hanya bergantung pada jumlah panen tetapi juga harga yang diberikan oleh pasar. Meskipun demikian, pada umumnya petani berharap mendapat harga premium untuk produk-produk organis mereka setelah lahan mereka organik. Tetapi, bilapun harga premium tidak terpenuhi, sebenarnya petani organik untung karena biaya produksi organik lebih rendah dibandingkan non organik. Permasalahannya adalah kapan jerih payah petani dihargai lebih dari sekedar angka-angka dalam biaya produksi?

Berikut ini disajikan perbandingan analisis usaha budidaya organik dan konvensional pada padi. Analisis dibuat untuk luasan lahan satu hektar, nilai atau harga yang digunakan berlaku untuk daerah Lubuk Cemara, Kab Serdang Bedagai , Sumatra Utara pada Musim tanam bulan Mei – Agustus Tabel 1

1.Perbandingan Operasional Budidaya Organik dan Konvensional per hektar

No


Organik


Konvensional


1


BENIH


10 kg


Rp 10.000


Rp 100.000


40 Kg


Rp 6.500


Rp 260.000

2


PUPUK DASAR



Kompos

Bahan Fermentasi

KCL

SP36

Pupuk Organik


2000 Kg

2 Kg







10 lt


Rp 750

Rp 40.000







Rp 40.000


Rp 1.500.000

Rp 80.000







Rp 400.000


-

150 Kg

100 Kg

100 Kg

-


-

Rp 1.400

Rp 2.800

Rp 1.850

-


-

Rp 210.000

Rp 280.000

Rp 185.000

-

3


PUPUK SUSULAN



Kompos

Urea

KCL

SP36

Pupuk Organik


-

-







7 kg


-

-







Rp 70.000


-

-







Rp 490.000


-

100 Kg

50 Kg

50 Kg

-


-

Rp 1.400

Rp 2.800

Rp 1.850

-


-

Rp 140.000

Rp 97.500

Rp 92.500

-

4


PENYEMPROTAN



Pupuk Organik


5 lt


Rp 40.000


Rp 200.000


5


PESTISIDA



Pestisida Organik

Pestisida Kimia


2

-


Rp 40.000

-


Rp 80.000-

-


-

10 lt


-

Rp 50.000


-

Rp 500.000

6


TENAGA KERJA



Pengolahan lahan

Penanaman

Penyulaman

Penyiangan

Pemupukan

Penyemprotan

Pemanenan


Rp 625.000

Rp 450.000

Rp 200.000

Rp 150.000

Rp 100.000

Rp 50.000

Rp 1.875.000


Rp 625.000

Rp 450.000

Rp 200.000

Rp 150.000

Rp 100.000

Rp 50.000

Rp 1.125.000


7


Biaya Non Tehnis



Bunga Pinjaman Tengkulak

Potongan hasil Panen


-




-


-




-


-




-


15%




4%


Rp 5.376.704




Rp 11.250.000


Rp 806.506




Rp 450.000


TOTAL MODAL


Rp 6.100.000


Rp 5.721.506


HASIL


7.500 Kg


Rp 2.500


Rp 18.750.000


4.500 Kg


Rp 2.500


Rp 11.250.000


KEUNTUNGAN


Rp 12.650.000


Rp 5.528.494

Terlihat bahwa, biaya operasional budidaya padi dari penyediaan benih hingga penanaman padi organik Pola LMTO dan konvensional tidak terlalu berbeda. Perbedaan tampak pada penggunaan asupan-asupan eksternal bagi perawatan tanaman.

Pada budidaya organik Pola LMTO penggunaan pestisida organik tidak mutlak dibutuhkan, bila di butuhkan cukup dengan pemakaian 2 lt/H dengan harga Rp 40.000/lt

Dengan asumsi tidak terjadi puso dan lahan organik telah terbentuk, setiap hektar sawah akan mampu menghasilkan gabah 7.5 ton, sedangkan sawah konvensional menghasilkan gabah 4.5 ton/H .. Bila harga gabah organik Pola LMTO dan konvensional dihargai sama yaitu Rp. 2.500,- per kilo gram, maka petani organik akan mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 18.750.000,-. Dengan demikian, keuntungan petani organik sebesar Rp. 13.140.000,- dan petani konvensional hasil gabah sebesar Rp. 11.250.000,-, keuntungan Rp 5.528.494. Artinya, dilihat dari sudut asupan pertanian saja dengan cara membandingkan hasil pendapatan, budidaya pertanian organik dengan pola LMTO lebih menguntungkan 50 persen dibandingkan dengan pertanian konvensional.

Dari segi aspek bisnis Kilang Padi, budidaya pertanian organic Pola LMTO lebih menguntungkan karena rendemen gabah lebih tinggi, budidaya konvensional rendenem 50%. Pola LMTO bisa mencapai 60 – 70 %. Jadi ada selisih 10-20%.

Hal lain dari budidaya konvensional yaitu pengaruh dari para tengkulak yang telah lama berperan dalam keterpurukan petani Indonesia, karena memanfaatkan mereka sebagai lahan bisnis dengan cara yang tidak adil.

Dalam data di atas, tidak dimasukannya biaya sewa lahan karena biaya tersebut dapat dianggap sama antara lahan organik Pola LMTO dan non organik.

Ditinjau dari kelayakan usaha, secara finansial dapat dilihat dari BEP (break event point), radio B/C (benefit cost), dan ROI (return of investment) dengan asumsi menggunakan harga beras organis dan non organik saat ini.

Gabah Organik

a. BEP

Suatu usaha budidaya dikatakan berada pada titik impas atau balik modal berarti bahwa besarnya hasil sama dengan modal yang dikeluarkan. Perhitungan BEP ada dua, yaitu BEP volume produksi dan BEP harga produksi.

BEP Volume produksi = Biaya produksi = Rp. 5.610.000,- = Rp. 2.244/Kg

Harga produksi Rp. 2.500,-

Artinya, titik balik modal usaha budidaya organik Pola LMTO dapat tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 2.244 kilogram untuk sekali panen.

BEP harga produksi = Biaya operasional = Rp. 5.610.000,- = Rp.748,-/Kg

Jumlah produksi 7.500,- kg

Artinya, titik balik modal tercapai bila harga gabah organik Pola LMTO yang diperoleh dijual dengan harga Rp.748,- per kilogram.

Rasio B/C

Rasio B/C merupakan ukuran perbandingan antara hasil penjualan dengan biaya operasional. Dengan rasio B/C akan diperoleh ukuran kelayakan usaha. Bila nilai yang diperoleh lebih dari satu maka usaha dapat dikatakan layak untuk dilaksanakan. Namun bila kurang dari satu maka usaha tersebut dikatakan tidak layak.

Rasio B/C = Hasil Penjualan = Rp. 18.750.000,- = 3.34

Biaya Operasional Rp. Rp. 5.610.000,-

Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 18.750.000,- akan diperoleh hasil penjualan sebesar 3.34 kali lipat sehingga sangat layak untuk diusahakan.

ROI (return of investment)

Analisis ROI merupakan ukuran perbandingan antara keuntungan dengan biaya operasional. Analisis ini digunakan untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal.

ROI = Keuntungan x 100% = Rp. 13.140.000 x 100% = 3.34%

Biaya Operasional Rp. 5.610.000,-

Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 100,- akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp. 334,-, sehingga penggunaan modal untuk usaha ini sangat amat efisien.




Gabah Konvensional

a. BEP

BEP Volume produksi = Biaya produksi
=
Rp 5.721.506,- = Rp. 2.288,60 Kg

Harga produksi Rp. 2.500,-

Artinya, titik balik modal usaha budidaya konvensional dapat tercapai pada tingkat volume produksi sebanyak 2.288,60 kilogram untuk sekali panen.

BEP harga produksi= Biaya operasional = Rp. 5.721.506,- = Rp.1.271.44,-/Kg

Jumlah produksi 4.500,-kg

Artinya, titik balik modal tercapai bila harga gabah konvensional yang diperoleh dijual dengan harga Rp. 1.271.44,- per kilogram.

Rasio B/C

Rasio B/C = Hasil Penjualan = Rp. 11.250.000,- = 1.96

Biaya Operasional Rp. 5.721.506,-

Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 5.721.506,- akan diperoleh hasil penjualan sebesar 1.96 kali lipat sehingga layak untuk diusahakan.

ROI (return of investment)

ROI = Keuntungan x 100% = Rp. 5.528.494
x 100% = 96.6%

Biaya Operasional Rp 5.721.506

Artinya biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 100,- akan dihasilkan keuntungan sebesar Rp. 96.6,-, sehingga penggunaan modal untuk usaha ini masih efisien.




Dari hasil analisis finansial terlihat bahwa budidaya organik Pola LMTO lebih layak dibandingkan konvensional. ini dapat dilihat dari titik impas volume dan harga produksi gabah organik Pola LMTO jauh lebih kecil dibanding gabah konvensional. Pembiayaan budidaya organik Pola LMTO juga lebih rendah dari budidaya konvensional walaupun produksi gabah tetap sama.

Berdasarkan rasio B/C, budidaya organik Pola LMTO masih lebih besar dibandingkan konvensional, yaitu 3.34 (Lebih tiga kali) dan 1.96 (hampir dua kali). Sementara untuk perhitungan ROI menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh budidaya organik Pola LMTO sebesar hamper 2 kali lipat keuntungan budidaya padi konvensional. Dengan demikian, modal usaha akan lebih cepat kembali pada pembudidayaan padi organik Pola LMTO.

Aspek Sosial Dan Lingkungan, Efisiensi Dalam Pertanian Organik Pola LMTO

Pertanian organis merupakan strategi pertanian yang ramah lingkungan yang menyandarkan pada keragaman hayati di lahan pertanian. Memelihara alam di lahan dan sekitar lahan menciptakan tempat yang nyaman bagi mahluk hidup.

Karena budidayanya meniru dengan praktek-praktek yang terjadi di alam, pertanian organik berujung pada budidaya yang efisien. Lambat laun, karena keseimbangan ekosistem terjadi sebagai buah terjaganya keragaman hayati mengakibatkan biaya produksi kian menurun. Pertanian organik dimaksudkan menjadi semacam pertanian yang menggunakan asupan luar serendah mungkin.

Dengan memperbesar daur ulang bahan-bahan alami di lahan, menjadi cara yang efektif mengurangi biaya asupan. Misalnya sampah dapur bersama bahan-bahan organik dari lahan dapat dijadikan kompos. Bahan-bahan dari pangkasan pohon dan pagar tanaman dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar, sementara dedaunan dan ranting-ranting dapat dipakai sebagai mulsa atau kompos. Yang terpenting, efisien dari daur ulang nutrisi berupa pengelolaan pupuk hijau. Petani sedapat mungkin mendaur ulang nutrisi yang berasal dari lahan sendiri dan tidak perlu membeli dari luar dengan mencari sumber-sumber pupuk yang tersedia di daerah sekitar ladang, misalnya sampah dari pengolahan hasil pertanian, menanam pangan sendiri misalnya sayur-mayur, makanan pokok, buah-buahan dan tepung-tepungan.

Cara lain untuk mengurangi biaya produksi dengan menerapkan metode tumpang sari/rotasi tanaman sehingga dapat memelihara keragaman species yang dapat mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), menggunakan agen hayati lokal untuk membuat pestisida botani sendiri, memproduksi benih dan semaian sendiri, memelihara ternak (untuk mendapatkan manur, susu, telur, daging, dll), membuat pakan ternak di kebun sendiri, saling pinjam-meminjam peralatan dan mesin-mesin dengan tetangga sesama petani dan membeli peralatan yang dibuat secara lokal daripada membeli yang impor, menggunakan bahan-bahan konstruksi yang tersedia di daerah setempat (misalnya bengkel kompos, kandang ternak, alat-alat dll), bergabung dengan petani lain membentuk usaha simpan pinjam agar terhindar dari jeratan tengkulak dengan bunga yang mencekik leher.

Selain untuk mengendalikan OPT, metode tumpang sari dari sisi ekonomi dapat menjadi cara untuk menjaga kesinambungan produksi/pemasaran dan menghasilkan keragaman produk pertanian. Artinya, dengan menanam beragam tanaman dalam suatu luasan lahan tertentu, dimana tanaman memiliki usia tanam tertentu dan dalam jumlah tak banyak, akan menghasilkan produk pertanian yang beragam dan diperoleh sepanjang tahun –berdasarkan usia tanam- serta dapat mengontrol harga produk agar tidak jatuh karena petani tetap menjaga ketersediaan produk terus menerus tetapi tidak dalam jumlah yang besar.

Keseimbangan alam dan ekosistemnya secara keseluruhan merupakan aset berharga, yang apabila dikuantifikasikan -(tidak bermaksud mereduksi makna dan peran alam)- berkontribusi untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk produksi pertanian organik.

Untuk tenaga kerja, fakta yang terjadi di lapangan, pertanian organik menggunakan tenaga kerja lebih intensif dibanding pertanian konvensional terutama pada masa peralihan. Hal ini dikarenakan pengoptimalan penggunaan bahan-bahan alami di sekitar yang dikelola berdasarkan interaksi biologi dan ekologi, dimana prosesnya dilakukan sendiri dalam komunitas pertanian tersebut. Artinya bahan baku untuk asupan pertanian diperoleh dalam komunitas dengan cara membeli atau barter antar anggota komunitas. Ini dapat menekan biaya produksi yang dikeluarkan, tetapi memerlukan tenaga kerja yang intensif. Kalaupun biaya dikeluarkan untuk memperoleh asupan-asupan pertanian dan menggunakan tenaga kerja setempat, perputaran uang hanya terjadi pada komunitas tersebut dan secara tidak langsung menguatkan tatanan ekonomi dan sosial masyarakat komunitas.

Meskipun di negara-negara tropis tenaga kerja lebih murah dibandingkan harga asupan kimia, para petani dalam jangka waktu panjang tetap mengeluarkan biaya untuk tenaga kerja, baik yang dilakukan sendiri ataupun pekerja upahan. Biaya tenaga kerja dapat dikurangi, dengan menerapkan metode pencegahan dalam budidayanya. Seperti metode tumpang sari dan rotasi tanaman dapat membantu dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman. Pengurangan pengolahan tanah dengan menggunakan penggunaan jerami dari hasil panen, pemberian manur untuk menumbuhkan dan memperkaya kandungan materi organik tanah. Dengan memelihara alam, akhirnya alamlah yang akan memelihara budidaya kita dan memelihara kita.

Praktek pertanian organik yang dilakukan komunitas memberikan kontribusi bagi pengembangan pembangunan pedesaan. Pertanian organik dan pertanian terpadu mewakilkan kesempatan pada semua tingkatan, mendorong ekonomi pedesaan melalui pembangunan berkelanjutan. Malah kesempatan kerja baru di pertanian menjadi bukti dari pertumbuhan sektor organik.





































































Pendahuluan

PERAN LEMBAGA MITRA TANI ORGANIK DALAM PENINGKATAN PRODUKSI TANAMAN ORGANIK

I. PENDAHULUAN

Salah satu upaya peningkatan produksi pertanian yang dilaksanakan dewasa ini adalah melalui program intensifikasi yaitu upaya peningkatan produksi melalui tehnik peningkatan produksi persatuan luas. Adapun pola tersebut melibatkan kegiatan sapta usaha diantaranya pengolahan tanah yang baik, penggunaan benih bermutu, pemupukan yang berimbang, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang tepat dan benar. Permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi diantaranya sering terbatasnya penyediaan faktor produksi seperti pupuk yang sulit didapat, pestisida yang relative mahal disamping ekosistim yang terus tergangggu. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam waktu yang lama mulai disadari sehingga perlu alternative dalam bercocok tanam yang mampu menghasilkan produksi yang tinggi, bebas dari pencemaran kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Trend pertanian organik di Indonesia, mulai diperkenalkan oleh beberapa petani yang sudah mapan dan memahami keunggulan sistim pertanian organik tersebut. Beberapa ekspatriat yang sudah lama hidup di Indonesia, memiliki lahan yang luas dan ikut membantu mengembangkan aliran pertanian organik tersebut ke penduduk di sekitarnya. Kemudian beberapa kalangan atas yang memiliki hoby bercocok tanam juga sekarang beramai-ramai mulai membenahi lahan luas yang dimiliki mereka dan mempekerjakan penduduk sekitarnya sekaligus alih teknologi. Disamping itu banyak lembaga non pemerintah (NGO) yang bertujuan mengembangkan sistim pertanian organik di Indonesia melalui pembinaan sumberdaya manusia ataupun bertujuan menggapai pasar organik didalam dan luar negri.

Lembaga Mitra Tani organik sesuai dengan visi dan misinya bekerjasama dengan masyarakat tani, pemerhati lingkungan dan kalangan pemerintah untuk mengembangkan berbagai strategi dalam upaya menghasilkan produk - produk organik serta upaya peningkatan pendapatan masyarakat.

II. PENGERTIAN PERTANIAN ORGANIK

Sebenarnya apa itu pertanian organik, dan mengapa produk organik tersebut bisa menjadi tidak terjangkau oleh masyarakat kita sendiri apalagi oleh petani. Dan mungkinkah sistim pertanian organik ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam rangka ketahanan pangan dan sustainabilitas lahan pertanian di Indonesia.

Cikal bakal pertanian organik sudah sejak lama kita kenal, saat itu semuanya dilakukan secara tradisonal dan menggunakan bahan-bahan alamiah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pertanian dan ledakan populasi manusia maka kebutuhan pangan juga meningkat. Saat itu revolusi hijau di Indonesia memberikan hasil yang signifikan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan. Dimana penggunaan pupuk kimia sintetis, penanaman varietas unggul berproduksi tinggi (high yield variety), penggunaan pestisida, intensifikasi lahan dan lainnya mengalami peningkatan. Pencemaran pupuk kimia, pestisida dan lainnya akibat kelebihan pemakaian, berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan serta kesehatan manusia. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam jangka waktu lama mulai disadari sehingga dicari alternatif bercocok tanam yang dapat menghasilkan produk yang bebas dari cemaran bahan kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat. Sejak itulah mulai dilirik kembali cara pertanian alamiah (back to nature). Pertanian organik modern sangat berbeda dengan pertanian alamiah di jaman dulu. Dalam pertanian organik modern dibutuhkan teknologi bercocok tanam, penyediaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit menggunakan agen hayati atau mikroba serta manajemen yang baik untuk kesuksesan pertanian organik tersebut. Pertanian organik di definisikan sebagai "sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agro-ekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan. Lebih lanjut IFOAM (International Federation of Organik Agriculture Movements) menjelaskan pertanian organik adalah sistem pertanian yang holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversiti, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah.

III. PERMASALAHAN SEPUTAR PERTANIAN ORGANIK

a. Penyediaan pupuk organik

Permasalahan pertanian organik di Indonesia sejalan dengan perkembangan pertanian organik itu sendiri. Pertanian organik mutlak memerlukan pupuk organik sebagai sumber hara utama. Dalam sistem pertanian organik, ketersediaan hara bagi tanaman harus berasal dari pupuk organik. Padahal dalam pupuk organik tersebut kandungan hara per satuan berat kering bahan jauh dibawah realis hara yang dihasilkan oleh pupuk anorganik, seperti Urea, TSP dan KCl.

b. Teknologi pendukung

Setelah masalah penyediaan pupuk organik, masalah utama yang lain adalah teknologi budidaya pertanian organik itu sendiri. Teknik bercocok tanam yang benar seperti pemilihan rotasi tanaman dengan mempertimbangkan efek allelopati dan pemutusan siklus hidup hama perlu diketahui. Pengetahuan akan tanaman yang dapat menyumbangkan hara tanaman seperti legum sebagai tanaman penyumbang Nitrogen dan unsur hara lainnya sangatlah membantu untuk kelestarian lahan pertanian organik. Selain itu teknologi pencegahan hama dan penyakit juga sangat diperlukan, terutama pada pembudidayaan pertanian organik di musim hujan.

c. Pemasaran

Pemasaran produk organik didalam negeri sampai saat ini hanyalah berdasarkan kepercayaan kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Sedangkan untuk pemasaran keluar negeri, produk organik Indonesia masih sulit menembus pasar internasional meskipun sudah ada beberapa pengusaha yang pernah menembus pasar international tersebut. Kendala utama adalah sertifikasi produk oleh suatu badan sertifikasi yang sesuai standar suatu negara yang akan di tuju. Akibat keterbatasan sarana dan prasarana terutama terkait dengan standar mutu produk, sebagian besar produk pertanian organik tersebut berbalik memenuhi pasar dalam negeri yang masih memiliki pangsa pasar cukup luas. Yang banyak terjadi adalah masing-masing melabel produknya sebagai produk organik, namun kenyataannya banyak yang masih mencampur pupuk organik dengan pupuk kimia serta menggunakan sedikit pestisida. Petani yang benar-benar melaksanakan pertanian organik tentu saja akan merugi dalam hal
ini.

Lembaga Mitra Tani Organik di bentuk berdasarkan pengamatan atas beberapa aspek :

*
Lingkungan

Selama beberapa dasawarsa ini telah terjadi pergeseran pola dan system tanam pada masyarakat petani kita, sehingga terjadi perubahan dan kerusakan lingkungan yang bersifat global, tidak hanya pada tanah tetapi juga pada air dan udara.
*
Kesehatan

Akibat perubahan lingkungan , berdampak pula pada kesehatan manusia dimana daya tahan manusia terhadap penyakit semakin menurun, dan timbul jenis – jenis bakteri dan virus yang baru dan daya tahan bakteri dan virus baru tersebut relative meningkat terhadap obat.
*
Keadilan dan Perlindungan

Kalau dibandingkan dengan zaman dahulu , zaman sekarang terjadi penurunan terhadap kwalitas maupun kwantitas terhadap hasil dari tanaman, sehingga menimbulkan dampak terhadap pendapatan dari para petani, dimana terjadi peningkatan modal tapi tidak disertai dengan hasil yang memadai. Munculnya strain baru hama dan penyakit dari tanaman.
*
Finansial

Selama ini kita melihat keuntungan dari hasil panen petani tidak seluruhnya diterima oleh petani, hanya sekitar 20% - 30% hasil dari panen, yang lain menghilang begitu saja, hal ini diakibatkan oleh kurangnya modal para petani . Kurangnya bantuan berupa modal dan tehnologi dari pemerintah maupun kredit Bank..

Dari hasil pengamatan terhadap keempat hal diatas, kita dapat menyimpulkan apa penyebab perubahan semua itu, yaitu pengolahan lahan yang tidak sesuai dengan ketentuan, pemakaian pupuk dan penggunaan pestisida kimia yang tidak sesuai prosedur, kurang pengetahuan tentang kesehatan lingkungan. Akibat terjadinya perubahan lingkungan yang extrim terjadi pula perubahan pada kehidupan sosial pada masyarakat, kami dari Lembaga Mitra Tani Organik (LMTO) mengajak element masyarakat yang mempunyai visi , misi dan inovasi atas kepedulian terhadap lingkungan bergabung dan bekerja bersama untuk mengembangkan sebuah rencana jangka panjang bagi perbaikan lingkungan dan masyarakat.

VISI DAN MISI

Visi Lemba Mitra Tani Organik selalu mengedepankan lingkungan yang berkelanjutan dengan menyertakan regenerasi dari pemanfaatan ekosistem sebagai produk yang nantinya akan menggantikan produk produk kimia.

Misi Lemba Mitra Tani Organik bekerjasama dengan Pemuka Masyarakat, LSM, Pemerhati Lingkungan dan kalangan Pemerintah untuk mengembangkan berbagai strategi.

PROGRAM

Program Jangka Pendek,

*
Membudayakan petani agar bercocok tanam secara organik dan ramah lingkungan dengan pemakaian pupuk dan pestisida organik.
*
Memberikan ilmu pengetahuan tentang pelestarian lingkungan dan bahaya kerusakan lingkungan.
*
Memberikan bantuan berupa bibit dan pupuk dengan pembayaran setelah panen.
*
Membentuk suatu jaringan dengan system pembinaan terhadap kelompok tani.




Program Jangka Panjang,

*
Meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan produksi dan atau mutu hasil panen.
*
Menciptakan metoda pertanian yang ramah lingkungan.
*
Menghasilkan produk pertanian organik, mempunyai nilai jual lebih baik serta memberi manfaat kepada kesehatan masyarakat banyak.
*
Mengurangi pengangguran dengan cara memperdayakan masyarakat sekitar untuk dapat mengelola pertanian secara berkesinambungan.
*
Mengajak masyarakat , LSM peduli lingkungan dan pemerintah bersama – sama membantu petani agar dapat terbebas dari masalah yang selama ini terjadi.
*
Membantu Pemerintah dalam hal swasembada pangan dan meningkat ketahanan pangan nasional.
*
Mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan kimia.

DUKUNGAN

Sejauh ini pertanian organik disambut oleh banyak kalangan masyarakat, meskipun dengan pemahaman yang berbeda. Berdasarkan survey ke lahan petani di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dilakukan Balai Penelitian Tanah, berbeda pemahaman tentang pertanian organik di beberapa petani tergantung pada informasi yang sampai ke petani. Petani di Jawa Barat lebih maju karena mereka umumnya petani yang sudah mapan, dan yang dikembangkan komoditi sayuran serta buah-buahan. Sedangkan di Jawa Tengah, selain buah-buahan seperti Salak juga mulai dikembangkan padi organik. Dalam hal ini Pemda Jateng mendukung sepenuhnya petani yang mau menanam padi secara organik, antara lain dengan cara membeli produksi petani sampai produksinya stabil dan petani bisa mandiri. Seperti contoh, kabupaten Sragen di Jawa Tengah mencanangkan gerakan Sragen Organik. Sedangkan di Jawa Timur, umumnya berkembang kebun buahan organik seperti apel organik. Terlepas dari apakah itu benar-benar sudah merupakan produk organik ataukah belum, sebagaimana akan dibahas nanti, perkembangan pertanian organik ini perlu mendapat arahan dan perhatian serius pemerintah.

HARAPAN DAN TUJUAN

*
Munculnya kelompok pertanian organik dimana kelompok ini nantinya sangat mengerti dan memperhatikan masalah lingkungan.
*
Menciptakan produk pertanian organik yang harganya cukup memadai di pasaran dan dianggap komoditas strategis untuk ketahanan pangan nasional.
*
Menjadikan pertanian organik sebagai suatu industri yang sangat layak untuk diperhatikan , dan bermanfaat bagi lingkungan untuk menjaga keseimbangan alam.
*
Menciptakan tempat pemasaran produk organik disetiap daerah agar masyarakat nantinya mendapatkan produk pertanian organik yang terjangkau serta bermanfaat bagi kesehatan.
*
Menciptakan lingkungan yang sehat serta berdampak kepada masyarakat yang sehat dan makmur.
















diposkan oleh T. Azizul Hakim dr pada 18:08 0 Komentar
Senin, 14 Januari 2008
I. PENDAHULUAN
Salah satu upaya peningkatan produksi pertanian yang dilaksanakan dewasa ini adalah melalui program intensifikasi yaitu upaya peningkatan produksi melalui tehnik peningkatan produksi persatuan luas. Adapun pola tersebut melibatkan kegiatan sapta usaha diantaranya pengolahan tanah yang baik, penggunaan benih bermutu, pemupukan yang berimbang, pengendalian hama dan penyakit, pemeliharaan dan penanganan pasca panen yang tepat dan benar.
Permasalahan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi diantaranya sering terbatasnya penyediaan faktor produksi seperti pupuk yang sulit didapat, pestisida yang relative mahal disamping ekosistim yang terus tergangggu. Pemahaman akan bahaya bahan kimia sintetis dalam waktu yang lama mulai disadari sehingga perlu alternative dalam bercocok tanam yang mampu menghasilkan produksi yang tinggi, bebas dari pencemaran kimia sintetis serta menjaga lingkungan yang lebih sehat.

diposkan oleh T. Azizul Hakim dr pada 20:0

Sabtu, April 17, 2010

Berkebun sayuran organik di pekarangan rumah

Berkebun, bagi sejumlah orang, merupakan hobi yang sangat mengasyikkan. Dapat dikerjakan di sela-sela waktu senggang dan dengan memanfaatkan halaman atau sudut ruangan. Apalagi hasilnya berasal dari tumbuhan yang berguna, tanaman organik, misalnya. Berkebun, bagi sejumlah orang, merupakan hobi yang sangat mengasyikkan. Dapat dikerjakan di sela-sela waktu senggang dan dengan memanfaatkan halaman atau sudut ruangan. Apalagi hasilnya berasal dari tumbuhan yang berguna, tanaman organik, misalnya. Sebuah kebun bukan berarti hanya kumpulan aneka jenis tumbuhan. Penghuninya tidak hanya rimbunan tanaman hias atau jenis bunga-bungaan. Alangkah indahnya dijejali pula dengan jenis sayuran, buah-buahan, tanaman obat atau pohon yang digunakan sebagai bumbu masakan. Lebih menarik lagi bila keanekaragaman flora itu adalah jenis organik. Selain lebih alami, manfaatnya sangat berlipat ganda. "Pertanian organik adalah suatu sistem budi daya tanaman yang ramah lingkungan. Karena dalam proses penanaman serta perawatannya diolah tanpa bahan kimia. Pupuk dan pestisidanya juga diperoleh dari bahan alami yang tidak membahayakan," demikian penjelasan Ilman Mutaqin Sp dari Tidusany Green Health Center (TGHC), Bandung.

Menurut pandangan sarjana sosial ekonomi fakultas pertanian Universitas Winaya Mukti, Bandung itu, banyak faedah bila menanam serta mengkonsumsi tanaman organik. Hasil sayuran atau buah yang dimakan jelas tidak mengandung bahan kimia yang membahayakan tubuh. Ia juga mengatakan bahwa jenis tanaman organik, terutama sayuran banyak dicari oleh beberapa pasien penyakit autis di Kota Kembang. Produk-produk tanpa kimiawi dipakai untuk pengobatan penyakit terganggunya mental tersebut. "Terutama jenis kacang-kacangan seperti kacang panjang, buncis, dan kacang merah," kata Ilman yang mengurusi lahan seluas tiga hektare khusus ditanami tumbuhan organik. Berdasarkan penelitian Dr Rini Damayanti Dipl CN, seorang konsultan pola hidup sehat alami, bahwa produk organik dapat menghasilkan bahan makan yang bebas polusi dan kaya akan nutrisi. Hewan dan manusia, sangat membutuhkan bahan organis untuk membangun tubuhnya. Akan tetapi mereka tidak dapat mengubah sendiri bahan anorganik (bukan organik) yang berasal dari makanan yang dikonsumsinya. Sebaliknya menurut pandangan dia, tumbuh-tumbuhan melalui proses asimilasi dapat mengubah bahan anorganik menjadi zat yang organik atau bahan yang bersifat biokimiawi.


Ramah Lingkungan

Dalam pembuatan tanaman organik yang paling men-dasar adalah media tanam. Tanah yang dipakai serta pupuknya juga harus bersifat organik. Artinya tidak boleh mengandung unsur-unsur kimia berbahaya, seperti yang ada pada aneka pupuk buatan pabrik. Bagi Edi Junaedi (28), aktivis lingkungan yang menyelami dunia tanaman organik, pupuk yang dipakai sebaiknya berasal dari bahan-bahan alami. Sifatnya juga mudah didaur ulang lewat bantuan mahluk hidup seperti cacing, bakteri, atau jamur. "Pupuk alami yang dihasilkan akan menjadi makanannya tanaman," katanya. Project Officer yang membidangi pertanian kota di Konphalindo (Konsorsium Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia) itu, menyarankan tips yang sederhana dalam membuat pupuk ramah lingkungan. Banyak orang menyebutnya dengan nama kompos bakteri alami atau kompos super. Caranya yaitu dengan mencampurkan dengan rata sekam, kotoran hewan, dedak atau bekatul (3-5 kg), dengan gula merah atau gula pasir (0,25kg), kedalam suatu tempat bersih dan teduh. Setelah itu campurkan bakteri ke dalamnya, dengan cara disiram ke adonan dengan rata. Langkah berikutnya yaitu menutup bahan-bahan tadi dengan plastik atau dedaunan. Dalam jangka waktu 10 hari kompos sudah terbentuk. Untuk mempercepat proses penguraian, menurut insinyur pertanian jebolan tahun 1998 Universitas Padjajaran, Bandung itu, harus disiram tiap dua hari sekali dengan air sambil diaduk-aduk. "Biang pupuk juga bisa dipakai sebagai pupuk cair yang disemprotkan ke dalam tanaman. Pada pembuatannya alkohol yang digunakan dapat diganti dengan air tape," saran Eje, begitu Edi Junaedi akrab disapa. Sedangkan proses pembuatan bakteri dihasilkan dengan bahan sederhana pula. Pembuatan bakteri atau biang pupuk berasal dari buah-buahan (5 kg) yang sudah masak nmun tidak busuk, yang diparut atau dileburkan. Bahan tersebut di ambil sari buahnya dengan cara disaring, yang kemudian ditambahkan dengan larutan gula merah atau putih (0,25kg), air cucian beras (1 liter), serta alkohol 40 persen. Larutan tersebut disimpan dalam botol yang tertutup rapat selama 2 minggu dan ditaruh pada tempat yang tidak terkena sinar matahari. Keunggulan memakai pupuk alami juga dapat membuat tanah semakin subur dan tetap lestari. Pasalnya, menurut Dr Rini yang menjabat sebagai koordinator di POT (Pertanian Organik Terpadu) Tidusany, dalam pupuk tersebut banyak sekali mengandung unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan bila memakai pupuk kimia pada tanah, lanjut dia, dapat menimbulkan unsur nitrogen yang tinggi didalamnya. Zat tersebut akan diserap oleh tanah dalam bentuk nitrit, dan pada kondisi tertentu akan diubah menjadi nitrat. "Bila makan sayur atau buah yang mengandung nitrat, maka tubuh akan mencerna menjadi nitrosamine," kata Dr Rini. Zat inilah, tambah dia, yang akan membentuk sebagai pencetus penyakit kanker lambung atau kanker lainnya.


Lahan Sempit

Selain sehat, ternyata bercocok tanam sistim organik tidak begitu susah yang kita bayangkan. Aneka aanaman buah atau sayuran seperti sawi, bayam, tomat, kangkung, cabai bisa ditanam di halaman. Caranya dengan memanfaatkan pekarangan atau lahan sisa di sudut rumah, kantor, sekolah atau pada tanah-tanah yang tidak terpakai. Bisa juga dengan menanam di dekat bantaran sungai, taman, kompleks pemakaman atau persimpangan-persimpangan jalan yang masih kosong. Sedangkan untuk tempat huidupnya tidak harus ditanam di atas tanah terbuka. Menurut saran Eje, pot-pot yang digunakan tidak harus dengan cara membeli atau baru. Tapi bisa ditanam diatas bahan-bahan yang tidak dipakai seperti ember bekas, tong, kaleng atau botol plastik. Hal tersebut selain murah biayanya, juga dapat menanggulangi masalah sampah. "Untuk kondisi rumah yang mempunyai pekarangan sempit sangat cocok bila memakai sistem pertanian bertingkat," ungkap Eje. Vertikultur begitu istilah cara menanam pohon dengan bersusun tersebut cocok sekali diterapkan di perkotaan yang padat penduduk. Penempatannya tidak memakan lahan. Keuntungan lainnya adalah pohon yang ditanam lebih banyak karena bersusun ke atas. Bahan-bahannya pun mudah diperoleh, seperti dari bambu, kayu, paralon, seng bekas atau talang air. Bisa ditaruh atau dibuat menurut selera.



 Contoh Pemanfaatan pekarangan sayuran organik di pekarangan di daerah perkontaan
Sumber diambil dari :http://www.situshijau.co.id/tulisan.php?act=detail&id=391&id_kolom=1
Sumber : Gambar diambil http://www.alialampersada.blogspot.com/