Kamis, Mei 28, 2009

Fhoto sedang berdiri di depan fujifilm

pada saat penelitian pupuk organik cair punik di desa rancaekek wetan kabupaten bandung propinsi jawa barat dengan menanam varietas padi ciherang luas lahan sekitar 3500 m
bersama dengan petani

mudah - mudahan selalu sukses


lagi masa persentase di lapas sukamiskin dengan judul " cara pembuatan pupuk organik punik tahun 2009


Saya persentase pupuk organik yang bekerjasama dengan lapas sukamiskin pada tahun 2009 dengan judul "cara Pembuatan pupuk organik punik

Senin, Mei 25, 2009

BERTANAM SAYURAN ORGANIK DI POLYBAG DI PEKARANGAN RUMAH

Sayuran organik selain ditanam dilahan (kebun), dapat juga ditanam di dalam pot, polybag, atau wadah bekas lainnya. Karena tempatnya kecil dan lebih peraktis serta dapat diletakkan di lahan sempait, sayuran ini dapat dikomsumsi sendiri atau dijual. Menjual sayuran organik seperti ini dapt hanya sayuran saja atau tanaman beserta pot atau polybag.

Menanam sayuran organik dalampot atau polybag mempunyai beberapa keuntungan antara lain
  • Dapat diusahakan dalam skala kecil atau rumah tangga
  • Mudah dalam pemeliharaan karena setiap tanaman ditanam dalam wadah tersendiri
  • Kemungkinan penularan penyakit lewat akar kecil sekali, tanaman yang sakit mudah ditanami
  • Menghemat pemakaian pupuk karena tidak terbuang percuma
  • lebih mudah bila menanam beberapa jenis tanaman
  • lahan yang digunakan lebih sempit karena pot atau polybag dapat diletakkan dalam rak yang bersusun
Walaupun banyak keuntungan yang diperoleh dengan penanaman dalam pot dan poybag, cara lain pun mempinyai beberapa kekurangan dengan ini antara lain :

  1. memerlukan biaya untuk penyediaan polybag dan pot
  2. pengangkutan lebih lanjut
  3. memerlukan tempat penjualan yangluas bila akan menjual sayuran beserta wadahnya
A. Persiapan Tempat dan Media

  1. Penanam dapat digunakan polybag, pot, ember plastik, kaleng bekas biskuit diameter 20 -30 em dan tinggi sekitar 30 cm
  2. Media tanam untuk sayurab pada umumnya berupa campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos
  3. Perbandingan dapat 1 : 1 , 1 : 2 , 1 : 3
B. Persemaian

  1. Ukuran biji berukuran kecil, seperti selda, sawi, cabai, dan tomat
  2. Tempat persemaian berupa kotak kayu, polybag, pot, daun pisang atau wadah lainnya yang berdiameter 10 cm dan wadah persemaian yang belum berlubang.
  3. persemaian dapat digunakan campuran tanah dan kompos dengan perbandingan 1 : 3
  4. Biji atau benih ditanam pada wadah persemaian yang telah didisi media tanam yang dengan jarak 1 -3 cm
  5. lamanya persemaianya tergantung dari jenis tanaman misalnya 2 -3 minggu untuk sawi
C. Penanaman
  • Untuk tanaman disemai dahulu
  • untuk tanaman yang tidak disemai di pot atau poly bag diisi oleh media tanam
D. Perawatan

  • Beberapa perawatan rutin yang perlu dilakukan sebagai berikut
  • setiap hari tanaman diperiksa jangan sampai ada hama atau penyakit
  • bila masih kelihatan kurang subur, tanaman dapat dipupuk dengan pupuk kadang atau kompos yang telah matang
  • Bila tanah terlihat kering, tanaman dapat disiram
  • Untuk tanaman tomat, cabai, terung, dan tanaman lain yang menghasilan buah
Sumber: Buku dengan judul Bertanam sayuran organik di kebun, pot dan polybag , IR Pracaya, Penebat swadaya, 2007. Yang ditulis oleh Alinudin Hukubun, SP, Konsultan pertanian, Jl sedap malam 1 no 14 blok 9 Perumnas Rancaekek Kencana Kabupaten bandung Jawa barat Indonesia

Minggu, Mei 24, 2009

Adu Visi Kebudayaan Capres-Cawapres
JK-Win Hidupkan Gerakan Disiplin Nasional
Wiranto: "Akan kami hidupkan kembali untuk membuat masyarakat lebih tentram dan tenang."
Minggu, 24 Mei 2009, 18:27 WIB
Antique, Elly Setyo Rini
Jusuf Kalla dan Wiranto (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Pasangan calon presiden dan wakil presiden Jusuf Kalla dan Wiranto berniat menghidupkan kembali gerakan disiplin nasional (GDN). Hal tersebut, menanggapi masih maraknya budaya kekerasan dalam identitas bangsa.

"Dalam perjalanan ke sini, tadi kami berdiskusi untuk merancang rencana menghidupkan kembali GDN (gerakan disiplin nasional)," kata Wiranto saat diskusi "Kebudayaan dan Presiden" di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu, 24 Mei 2009. Wiranto menuturkan, gerakan disiplin nasional bisa dalam bentuk tertib, bersih, maupun waktu. "Akan kami hidupkan kembali untuk membuat masyarakat lebih tentram dan tenang, serta menghargai satu sama lain," ujarnya.
Menurut dia, budaya kekerasan bukan budaya baru. "Ketika ada euforia kebebasan maka secara otomatis akan ada pelanggaran kebebasan tersebut," kata Wiranto. Sementara itu, sastrawan dan penulis Taufik Ismail merasa prihatin, karena sejak reformasi, ketika kebebasan menyatakan pendapat sudah bisa dinikmati khalayak, malah berkembang menjadi budaya kekerasan. "Sejak itu berkembang yang sepertinya di luar rem, terjadi kekerasan yang luar biasa dengan penggunaan bentuk-bentuk yang tidak masuk akal, seperti demo yang membakar ban bahkan sampai membunuh," ujar Taufik.

• VIVAnews

Rabu, Mei 20, 2009

KONSULTAN PERTANIAN

KONSULTAN PERTANIAN DIANTARANYA

1. Konsultasi secara online untuk harga 50.000/konsep
2. Proyek
3. Analisa usaha tani
4. Penjual hasil pertanian
5. bahan-bahan organik
6. sayuran organik
7. menjual pupuk organik punik
8 hama dan penyakit
9. mekanisasi pertanian
10. budidaya tanaman organik
11 manajemen agribisnis
12. penamfaatan pekarangan dengan sitem organik

Hub :
alinudin Hukubun SP
Jl sedap malam 1 no 14 blok 9
perumanas rancaekek kencana kabupaten Bandung
Telp (022) 87700794
email alinudin@yahoo.com, alinudin@yahoo.com

Sabtu, Mei 16, 2009

MENUJU PEMAKAIAN PUPUK ORGANIK

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan bahwa Departemen Pertanian akan fokus mendorong petani untuk menggunakan pupuk organik dan bioorganik hingga mencapai 50% sebagai substitusi pupuk kimia. Karena sudah terbukti di lapangan mampu meningkatkan produktivitas. Untuk mendorong pemakaian ini maka subsidi pupuk organik secara bertahap akan semakin ditingkatkan dengan mengurangi subsidi pupuk urea. Karena semakin disadari penggunaan pupuk kimia yang terus menerus menjadi penyebab menurunnya kesuburan lahan. Oleh karena itu perlu diimbangi dengan penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati.Sebenarnya kondisi ini telah pernah diteliti oleh Lembaga Penelitian Tanah (LPT) dengan kesimpulan bahwa 79% tanah sawah di Indonesia memiliki bahan organik (BO) yang sangat rendah. Dengan perkataan lain, sawah-sawah di Indonesia sudah sangat miskin BO bahkan dapat dikatakan sudah “sakit”. Oleh karena itu perlu “disembuhkan” dengan menambahkan BO yang telah diolah menjadi pupuk organik sehingga tanah dapat menjadi lebih sehat dengan kandungan BO yang lebih tinggi. Untuk meningkatkan kandungan BO, dibutuhkan tambahan bahan organik sekitar 5-10 ton/ha. Tetapi dapat dilakukan secara bertahap dengan memberikan pada kisaran 3-5 ton. Permintaan pupuk organik sekarang ini diperkirakan mencapai 700.000 ton/setahun.

Pertanyaannya adalah dari mana pupuk organik ini didapatkan mengingat masih terbatasnya industri pupuk organik? Apalagi selama ini pupuk organik hanya diproduksi dengan skala industri rumah tangga (home industry) yang hasilnya-pun relatif sedikit dan tidak kontinu.Namun perhatian yang semakin besar terhadap pemakaian pupuk organik ini dapat memberikan optimisme akan dapat dipenuhi. Misalnya langkah-langkah yang ditempuh oleh Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman yang akan memberikan prioritas pengembangan pupuk bioorganik. Sehingga dapat dijadikan pedoman dalam memproduksi pupuk organik.Demikian juga inisiatif yang dikembangkan berbagai kalangan industri untuk mengembangkan pupuk organik. Seperti upaya Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Suryadharma Ali yang memberikan bantuan untuk pembangunan pabrik pupuk organik di sekitar Pasar Induk Kemang, Bogor dengan mengandalkan bahan baku dari sampah di pasar. Di segi lain secara bisnis, pembangunan dan pengembangan pabrik pupuk organik sangat potensial untuk meningkatkan pendapatan koperasi.Pemda Kaltim dan PT. Pupuk Kalimantan Timur sedang penjajakan pembangunan pabrik pupuk bio organik dengan kapasitas produksi sekitar 600.000 ton/tahun. Dengan pasokan bahan baku yang berasal dari sampah rumah tangga, sampah perkotaan dan air pembuangan.

/www.sinartani.com/editorial/menuju-pemakaian-pupuk-organik-1239591406.htm


Pupuk Organik Diusulkan Dapat Subsidi

Jakarta, (Analisa)

Departemen Pertanian serta Komisi IV DPR RI sepakat untuk mengusulkan kepada pemerintah agar subsidi pupuk sebesar Rp17,4 triliun pada 2009 bisa diberikan juga untuk pupuk organik.Dalam Rapat Kerja Menteri Pertanian dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Senin, terungkap subsidi tersebut untuk memberikan fasilitas kepada petani agar mampu menghasilkan pupuk organik sendiri."Kami akan mengusulkan agar subsidi pupuk Rp17,4 triliun ini juga bisa dialihkan ke pupuk organik maupun pengembangan infrastruktur pertanian," kata Menteri Pertanian, Anton Apriyantono.Sebelumnya, anggota Komisi IV DPR, Mufid Busyairi, mengatakan, anggaran subsidi pupuk seharusnya tidak sepenuhnya untuk pupuk anorganik atau kimia namun sebagian besar lebih baik dialokasikan bagi pupuk organik.

Dia beralasan bahan baku pembuatan pupuk organik sudah tersedia di pedesaan, selain itu petani juga mampu memproduksi sendiri."Pemerintah tinggal mengembangkan kelembagaan petani agar mampu memproduksi pupuk organik tersebut," katanya.Mufid mengungkapkan, dari hasil pantauan ke sejumlah wilayah, sebenarnya petani tidak mempermasalahkan adanya kelangkaan pupuk kimia selama ini selama dapat memproduksi pupuk organik.Selain itu, tambahnya, penggunaan pupuk organik ternyata mampu menghasilkan produktivitas tanaman yang cukup tinggi seperti yang dilakukan Pesantren Pabelan dengan metode SRI dan pupuk organik di lahan seluas 25 ha hasilnya sebanyak 9 ton/ha."Oleh karena itu, subsidi pupuk seharusnya lebih banyak ke pupuk organik, 20 persen atau lebih," katanya.Hal senada diungkapkan anggota legislatif lainnya, Tamsil Linrung, yang menyebutkan pemerintah perlu memberikan bantuan mesih pengolahan pupuk organik untuk meningkatkan penggunaan pupuk

/www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6339:pupuk-organik-diusulkan-dapat-subsidi&catid=202:10-februari-2009&Itemid=207ut di kalangan petani. (Ant)



Sabtu, Mei 09, 2009

Mengenal pestisida nabati dalam segala rumah tangga

Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan kimia sintetis) yang dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk mengobati tanamannya yang terserang hama, ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri. Catatan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya terjadi keracunan pestisida antara 44.000 - 2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi lingkungan, manusia serta ternak.

Cukup tingginya bahaya dalam penggunaan pestisida sintetis, mendorong usaha untuk menekuni pemberdayaan pestisida alami yang mudah terurai dan tidak mahal. Penyemprotan terhadap hama yang dapat mengakibatkan rasa gatal, pahit rasanya atau bahkan bau yang kurang sedap ternyata dapat mengusir hama untuk tidak bersarang di tanaman yang disemprotkan oleh pestisida alami. Oleh karena itu jangan heran bila penggunaan pestisida alami umumnya tidak mematikan hama yang ada, hanya bersifat mengusir hama dan membuat tanaman yang kita rawat tidak nyaman ditempati.

Bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia bibit secara gratis. Contohnya seperti tanaman bunga kenikir yang masih dapat di temui ditanah-tanah kosong pada daerah yang cukup tinggi.. Jenis lain yang digunakan pun harus sesuai dengan karakter dari bahan yang akan digunakan serta karakter dari hama yang ada. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, sehingga menjadi: tak kenal bahan dan jenis hama maka tak dapat mengusir dan mengendalikan hama. Bahan lainnya adalah kunyit, sereh, bawang putih, daun jatropa, daun diffen, jenis rempah-rempah dan lainnya.

Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya.

Selain harus mengenal karakter dari bahan yang akan digunakan, karakter hamanya sendiri pun harus diperhatikan dengan baik. Dengan mencari informasi karakter hidup hama, mendengarkan dari pengalaman orang lain serta mengamati sendiri, kita dapat mencari kelemahan dari hama tersebut. Contohnya untuk kutu yang menempel kuat di batang atau daun dapat diatasi dengan menggunakan campuran sedikit minyak agar kutu tidak dapat menempel. Selain itu, untuk semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, dapat disemprotkan air sari dari daun yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, daun diffen, dan lainnya.

Berikut beberapa contoh hama dan pestisida alaminya:

1. Kutu Putih pada daun atau batang. Dapat digunakan siung bawang putih yang ditumbuk dan diperas airnya serta dicampurkan dengan air sesuai dosis yang diperlukan. Jika kutu melekat erat pada tanaman, dapat digunakan campuran sedikit minyak kelapa. Semprotkan campuran tersebut pada tanaman yang terserang hama.

2. Tikus. Buah jengkol dapat ditebarkan di sekitar tanaman atau di depan lubang sarang tikus. Atau dengan merendam irisan jengkol pada air selama 2 hari. Lalu semprotkan pada tanaman padi yang belum berisi akan menekan serangan walang sangit.

3. Berbagai serangga. Air rebusan cabai rawit yang telah dingin dan dicampur dengan air lagi serta disemprotkan ke tanaman akan mengusir berbagai jenis serangga perusak tanaman.

4. Aphids. Air rebusan dari campuran tembakau dan teh dapat mengendalikan aphid pada tanaman sayuran dan kacang-kacangan. Air hasil rebusan di campurkan kembali dengan air sehingga lebih encer.

5. Berbagai serangga. Air rebusan daun kemangi atau daun pepaya yang kering ataupun yang masih segar, dapat disemprotkan ke tanaman untuk mengendalikan berbagai jenis serangga.

6. Nematoda akar. Dengan menggunakan bunga kenikir (Bunga Tahi Kotok) yang direndamkan oleh air panas mendidih. Biarkan semalam lalu saring. Hasil saringan tersebut disiramkan ke media tanaman. Penting diperhatikan media yang digunakan mudah dilalui oleh air.

7. Mengendalikan serangga, nematoda dan jamur. Dengan membuat air hasil rendaman tumbukan biji nimba dengan air selama tiga hari. Lalu siram pada tanaman, umumnya efektif pada tanaman sayuran.

Banyak resep yang dapat ditemukan dari pengalaman. Selain itu, perhatikan teknis saat memberikan pestisida alami. Perhatikan curah hujan dan saat penyemprotannya. Usahakan menyemprot setelah hujan agar tidak luntur oleh air hujan. Selamat mencoba. n

Mona Sintia, 2006
Arsitek Lanskap

Note: Data jenis pestisida alami dari berbagai sumber.

Menghasilkan Pupuk Organik Dgn Praktis & Biaya Murah

CARA AJAIB MEMBUAT PUPUK ORGANIK ( KOMPOS ) Print E-mail
Senin, 24 Desember 2007

Menghasilkan Pupuk Organik Dgn Praktis & Biaya Murah

( semudah membuat tempe kedelai )

Telah ditemukan terobosan baru dalam pembuatan kompos/pupuk organik yang lebih sederhana, lebih murah dan hemat tenaga (bisa dibilang sebagai “Cara Ajaib“ dalam pembuatan kompos). Teknologi ini ditemukan oleh Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, MSc.( Kepala Balai penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia ), dan telah dihadirkan oleh Bidang TPH Dispertanhut Purbalingga dalam acara “ Apresiasi Pembuatan Pupuk Organik Kab. Purbalingga “ tanggal 6 Desember 2007 di Aula Hotel Kencana yang digadiri oleh Wakil Bupati Purbalingga.

Pupuk organik ternyata bisa dibuat dengan biaya murah, hanya sekitar Rp. 15.000,- per ton bahan baku yang mau dibuat kompos, tidak ada tambahan bahan/materi dan biaya lain selain untuk pembelian formula yang harganya hanya sekitar Rp. 15.000,- / kg untuk pembuatan 1 ton bokasi. Formula ini dinamai “PROMI” yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Bentuknya seperti bubuk atau butiran tanah, hanya saja formula ini mengandung mikroba unggul asli Indonesia dan mikroba tsb bisa bertahan hidup sampai 1 (satu) tahun. Hebatnya kompos/pupuk organic yang dihasilkan dengan formula Promi kaya dengan dengan mikroba yang bias mempercepat tunbuh tanaman serta mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Pengomposan dengan Promi lebih murah dan lebih praktis dari pada pengomposan dengan EM4, karena ada beban yang perlu ditanggung oelh petani bila membuat kompos dengan EM4 antara lain teknologi EM4 memerlukan bahan –bahan tambahan yang bisa membuat biaya pengomposan cukup tinggi dan membutuhkan tenagas lebih banyak serta tempat yang luas. Kalau pengomposan memakai promi punya kelebihan : tidak menggunakan bahan tambahan, hemat tempat (tinggi tumpukan hanya cukup 1,5 m ) ,biaya lebih murah dan lebih mudah/praktis ( semudah membuat tempe kedelai ).

Seiring dengan program percepatan penerapan pupuk organik di Purbalingga, sudah selayaknya teknologi pembuatan pupuk organik dengan formula PROMI ini perlu disosialisasikan, kqarena para petani bias membuat sendiri pupuk organic/kompos-nya dengan hanya membeli PROMI untuk 1 ton bahan bakau pembuatan kompos, yang tentunya sangat lebih murah daripada parqa petani membeli pupuk organic di pasaran yang relative lebih mahal. Apalagi tidak memerlukan tambahan bahan/materi seperti pada teknologi EM4 ( perlu tambahan dedak dan molase ), cukup dengan jerami di lahan-lahan-lahan sawah yang sangat berlimpah. (Ir. Arief Khoiruddin. MSi, bersumber dari paparan Dr.Ir. Darmono pada acara "Apresiasi Pembuatan Pupuk Organik" tanggal 6 Desmber 2007 di Aula Hotel Kencana Purbalingga).




/www.purbalinggakab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1088&Itemid=159&lan

Jumat, Mei 08, 2009

fhoto sedang penyemaian

Pada saat penelitian untuk jenis tanaman hias yaitu krisan dengan menggunakan pupuk punik
yang bertempat di PT alam indah nusantara
pada tahun 2004. Pada fhoto ini sedang diaadakan penyemaian

Rabu, Mei 06, 2009

PUPUK ORGANIK CAIR (PUNIK)






PENDAHULUAN




Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami dari bahan pembuatan sintesis. Pada umumnya pupuk organik mengandung unsur hara makro N,P,K mudah tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan pertumbuhan tanaman.

Sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik mencegah terjadinya erosi, pergerakan permukaan tanah dan retakan tanah, mempertahankan kesuburan tanah serta memperbaiki unsur hara tanah. Nitrogen dan unsur hara yang lain dilepaskan oleh bahan organik secara perlahan – lahan melalui proses mineralisasi.

Dengan demikian apabila diberikan secara berkesimbungan, maka akan banayk membantu dalam membantu kesuburan tanah.


PUNIK ADALAH PRODUK PUPUK ORGANIK RAMAH LINGKUNGAN


PUNIK adalah produk pupuk organik yang dihasilkan melalui proses fermentasi dalam waktu 1 bulan akan terjadi proses pematangan ,lalu bisa digunakan pada tanaman dengan cara disemprotkan atau disuntikan.

PUNIK telah diteliti di balai penelitian hortikultura di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung dan itu hasil penemuan saudara Alinudin Hukubun, SP seorang sarjana pertanian yang bersekolah di universitas winaya mukti Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang pada tahun 2005 dan baru dikembangkan pada tahun 2007 di sekitar kabupaten Bandung untuk jangka panjang akan dikembangkan di daerah Jawa Barat dan juga ke berbagai daerah di Indonesia