Senin, Juli 06, 2009

Bokasi

Bokasi tidak lain adalah pupuk organik yang dapat dibuat sendiri dari campuran beberapa bahan dan difermentasikan (dipeuyeum, B.Sunda = red). Adapun bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat bokasi adalah berbagai jenis bahan organik seperti : dedak padi, dedak jagung, dedak gandum,tepung jagung, sekam padi, kulit kacang, amplas kelapa, ampas biji kapas, rumput , serbuk gergaji, sabut dan tempurung kelapa, tepung ikan, tepung tulang, kotoran ternak, sampah dapur, rumput laut, kulit kerang dan lain-lain. Bahan- bahan tersebut diperlakukan dengan efektif mikroorganisme (EM) sebagai mikroba pengaktif (aktivator) sehingga terjadi proses fermentasi. Bokasi itu sendiri terdiri dari dua jenis yaitu bokasi aerobik dan anaerobik. Bokasi aerobik dapat diproduksi dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Sedangkan bokasi anaerobik, energi dan bahan organiknya dapat dipertahankan , namun bila pengelolaannya salah akan menimbulkan keracunan/pencemaran pada tanah. Sebaiknya dalam membuat bokasi digunakan berbagai macam bahan organik agar mendapatkan mikroba yang beragam. Hal ini penting bagi kesuburan tanah. Penambahan arang kayu / arang sekam, zeolite maupun abu kayu juga baik untuk membantu memperbaiki kondisi tanah, disamping bahan tersebut juga sebagai tempat hidup bagi mikroorganisme.
Cara Pembuatan
Langkah pertama yang dilakukan adalah mencampurkan bahan-bahan organik tadi sebanyak 2 – 3 macam. Kemudian kita siapkan larutan EM (saat ini sudah ada beberapa produk EM yang beredar di pasaran) dengan perbandingan larutan EM : molases : air yaitu 1 : 1 : 100. Larutan EM yang telah dibuat tersebut kemudian dituangkan ke dalam campuran bahan organik, diaduk merata sampai terbentuk adonan dengan kandungan air sekitar 40%. Bahan organik yang telah diaduk tadi selanjutnya ditumpuk diatas lantai semen dan ditutup dengan karung goni dan dijaga agar tidak terkena air hujan. Dalam kondisi aerobik, proses fermentasi berlangsung cepat sehingga suhu bokasi akan naik (meningkat). Suhu ideal untuk pembentukan fermentasi tersebut sekitar 34 – 45 o C dan usahakan harus terus dipertahankan. Bila suhunya naik melebihi 50 oC, maka bokasi dibolak-balik agar udara masuk dan suhunya turun. Lama fermentasi bokasi aerobik ini berkisar antara 2 – 4 hari dan bokasi dianggap sudah jadi (siap pakai) bila memberikan bau khas fermentasi dan ditumbuhi jamur putih. Bila berbau busuk, menandakan fermentasi gagal. Perbedaan pembuatan bokasi aerobik dengan anaerobik adalah adonan yang telah dicampur antara bahan organik dengan larutan campuran EM, molases dan air tersebut dimasukkan ke dalam kantok plastik yang kedap udara, kemudian dimasukkan lagi ke dalam kantong plastik lain untuk mencegah terjadinya peredaran udara. Kantong plastik ditutup rapat untuk mempertahankan kondisi anaerobik, kemudian disimpan di tempat yang tidak terkena matahari langsung. Adapun lama proses fermentasinya lebih lama dibandingkan bokasi aerobik. Bokasi yang sudah jadi yang memberikan bau fermentasi harus segera digunakan. Bila ingin disimpan sebaiknya dikeringkan dahulu diatas lantai semen yang terlindung dari sinar matahari. Adapun beberapa jenis bokasi dengan komposisi bahan dan pemanfaatannya dapat dilihat pada Tabel 1.
Penggunaan/Aplikasi
Aplikasi ME dan pemberian bokasi pada tanah yang kurang subur merupakan langkah yang tepat dalam memulihkan kembali kesuburan tanah terutama di daerah kering. Hal ini disebabkan ME dapat melarutkan unsur hara dari bahan induk yang kelarutannya rendah, mereaksikan logam berat menjadi senyawa untuk proses penghambatan penyerapan logam berat pada akar tanaman, menyediakan molekul organik sederhana sehingga dapat diserap langsung oleh tanaman, memacu pertumbuhan tanaman dengan cara mengeluarkan zat pengatur tumbuh, serta memperbaiki struktur/dekomposisi bahan organik dan sisa (residu) tanaman sehingga mempercepat proses daur ulang unsur hara dalam tanah (Wididana,1995). Aplikasi EM itu sendiri dapat dilakukan pada beberapa kegiatan, diantaranya :

1.Perlakuan Sebelum Penanaman
Bokasi dapat diberikan pada tanaman musiman sebelum tanam dengan cara menyebarkannya ke tanah dengan dosis 2 – 2,5 ton/ ha sekitar 2- 3 minggu sebelum tanam, kemudian disiram dengan EM4 yang diencerkan dengan konsentrasi 0.1 %. Setelah diberikan bokasi dan cairan EM, tanah ditutup mulsa jerami atau rumput kering untuk memelihara kelembaban tanah dan mengurangi gulma. Untuk tanaman tahunan, lubang tanam diisi dengan bokasi sebanyak 10 kg dan dicampur pupuk kandang secukupnya 1 – 2 minggu sebelum tanam.
2.Perlakuan untuk benih
EM dapat pula diaplikasikan pada benih yang akan ditanam yaitu dengan cara merendamnya pada larutan EM 0,1% selama 30 menit untuk melapisi benih. Adapun tujuan dari pelapisan dengan EM itu sendiri adalah untuk proses Inokulasi benih.
3. Perlakuan Sesudah Penanaman
Bibit yang telah dipindah serta tumbuh akarnya dilakukan penyiraman dengan larutan ME 0.1 % secara merata. Adapun dosis jumlah larutan yang digunakan dilakukan dengan perbandingan tepat sesuai dengan jumlah air yang diperlukan untuk menggenangi lahan. Pada tanaman tahunan, setelah bibit ditanam yang telah ditutup mulsa jerami/daun-daunan kering dapat disiram dengan EM 0.1 %.
4. Perlakuan Selama Masa Pertumbuhan
Larutan EM 0.1% disiramkan atau disemprotkan ke tanah dan tanaman setiap minggu 1-2 kali selama satu bulan. Kebutuhan untuk setiap kali penyiraman kurang lebih 5 – 10 liter/Ha. Penambahan perlakuan EM tidak akan menimbulkan masalah, namun perlu diperhitungkan biayanya. Biasanya pada masa pertumbuhan frekuensi pemberian EM lebih sering, sedangkan bila pertumbuhan tanaman sudah baik, maka waktu (interval) pemberian EM lebih diperpanjang. Untuk menjaga agar tidak terjadi keracunan yang ditandai dengan bercak kuning pada daun sebagai akibat keasaman larutan tersebut sebaiknya pengenceran EM tidak kurang dari 1 : 500. Perlakuan EM yang dilakukan bersama-sama dengan pestisida maupun pupuk anorganik sangat tidak dianjurkan, karena akan mengurangi efektivitas dan pengaruh positif dari EM. Sebaiknya pernyemprotan EM dilakukan setelah aplikasi pestisida/pupuk anorganik dilakukan.

5.Perlakuan Setelah Panen
Setelah dilakukan pemanenan pada tanaman kita, maka bagian tanaman yang tidak diperlukan (biomas) dikembalikan ke dalam tanah. Larutan EM 0.1 % disiramkan ke biomas dan dicampur dengan bokasi, kemudian ditutup dengan mulsa jerami atau bahan lainnya. Perlakuan ini sangat dianjurkan karena dapat menambah bahan organik tanah, memperbaiki struktur tanah, mencegah terjadinya erosi, memperkaya mikroorganisme menguntungkan, serta memper-tahankan kondisi tanah yang cocok untuk kehidupan ME, menekan pertumbuhan gulma dan menambah unsur hara terutama kalium.
Hasil Uji Coba Penggunaan EM dan Bokasi pada Usahatani
Pengujian di lapangan dengan menggunakan EM dan Bokasi telah dilakukan di beberapa tempat. Pada tanaman kentang dan bawang merah di daerah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur oleh BPTP Karangploso Malang. Pada buncis dan kacang hijau di Srilangka dan pada tanaman jagung di wilayah China bagian Timur. Pada tanaman Jeruk varietas Lemon yang dilakukan oleh Wibisono et. al. (1996). Seluruh penelitian menunjukkan adanya peningkatan produksi baik secara morfologis tanaman maupun produksinya.
Kondisi lahan yang telah
disiram larutan ME
Hasil percobaan yang dilakukan pada tanaman kentang dan bawang merah di pacet yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh EM dan bokasi serta efektifitasnya dalam mengurangi kerusakan oleh gangguan OPT menunjukkan : Penggunaan EM dan bokasi dapat memacu pertumbuhan tanaman kentang dan bawang putih selama fase autotropi mulai umur 1 – 5 minggu, produksi umbi kentang meningkat 35% dan bawang putih 26% pada perlakuan EM dan bokasi. Pendapatan bersih usahatani kentang dengan perlakuan EM dan bokasi dapat mencapai 1.95 kali lipat dibandingkan tanpa menggunakan EM dan bokasi serta 3.25 kali lipat dari cara petani. Hasil percobaan yang dilakukan di Srilangka pada tanaman buncis (Phasealus vulgaris) dan kacang hijau menunjukkan bahwa pemberian EM yang diberikan bersama-sama dengan pupuk organik dapat meningkatkan meningkatkan efektifitas dan manfaat EM dalam tanah. Disamping itu untuk memperoleh tingkat produksi yang maksimal, diperlukan pemberian pupuk anorganik, khususnya pada tanah yang tingkat kesuburannya rendah.
Sedangkan hasil percobaan penggunaan bokasi dan EM yang dilakukan di China pada tanaman jagung dan gandum menunjukkan adanya peningkatan jagung dan gandum. Dan terakhir percobaan EM pada tanaman jeruk Lemon menunjukkan bahwa penggunaan EM 4 secara nyata dapat meningkatkan jumlah akar, panjang akar, berat basah dan berat kering akar.
(Ir. Ruly Hardianto, Petunjuk Teknis Rakitan Tekhnologi BPTP Karangploso)
Penelitian pupuk organic cair dengan menggunakan teknologi fermentasi

Pendahuluan

Krisis pangan yang terjadi di negara kita telah memacu pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pengembangan perekonomian yang berbasis pada pertanian termasuk di dalamnya intensifikasi pertanian dan pemanfaatan lahan-lahan tidur untuk mencapai peningkatan kebutuhan pupuk, sehingga keberadaan pupuk di pamasaran menjadi langka. Kebijakan lain yaitu sehingga subsidi terhadap pupuk organik telah mengakibatkan pula melambungnya harga pupuk tersebut , sehingga sulit terjangkau oleh petani. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan penyediaan pupuk agar terjangkau oleh petani adalah melalui pemanfaatan bahan baku organik alami menjadi pupuk organik cair. Upaya ini sangat tepat dan kebijaksanaan karena bukan hanya permasalahan lingkungan saja yang dapat ditanggulangi, tetapi produk pupuk organik yang dihasilkan dapat pula membantu menjawab kelangkaan dan mahalnya harga pupuk anorganik saat ini.
Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan, bahwa tanaman dan limbah, misalkan : pupuk kandang (ternak besar dan kecil), hijauan tanaman rerumputan, semak, dan pohon, limbah tanaman (jerami padi, bidang jagung, sekam padi dll) dan limbah agroindustri. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan tanah yang kecukupan bahan organik mempunyai kemampuan mengikat air lebih besar dari pada tanah yang kadungan bahan organiknya rendah. Pupuk organik merupakan bahan pembenah tanah yang paling baik dan alami daripada bahan pembenah buatan (sintesis pada umumnya pupuk organik mengandung unsur hara N, P,K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan pertumbuhan tanaman sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik mencegah terjadinya erosi tanah, pupuk organik mencegah terjadi erosi, pengerakan permukaan tanah, memprtahankan pengatasan dakhil. Nitrogen dan usur hara yang lain di lepaskan oleh bahan organik secara perlahan-lahan melalui proses mineralisasi. Dengan demikian apabila diberikan secara berkesinambungan, maka akan banyak membantu dalam membangun kesuburan tanah. Pemebpatan pupuk organik kedalam tanah dapat dilakukan seperti pupuk kimia, misalkan untuk kompos, pupuk kandang, azolla, daun lamtoro, limbah agroindustri (bambu masak, limbah pengelohan minyak sawit dll). Pupuk organik dapat memasak sebagai hara yang dikandung pupuk kimia.

Karakteristik umum yang dimiliki pupuk organik adalah sebagai berikut:
1. Kandungan hara rendah, kadungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung pada jenis bahan dasarnya
2. Ketersediaan dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikroba tanah untuk dilihrupakan dari bentuk ikatan kompleks organik yang tidak dapat dimamfaatkan oleh tanaman menjadi bentuksenyawa organik dan organik sederhanan yang dapat diserap oleh tanaman.
3. Menyediakan hara dalam jumlah terbatas penyediaan hara yang berasl dari pupuk organik biasanya terbatas dan tidak cukup dalam meyediakan hra yang diperlukan tanaman.

Pengaruh pupuk organik
Secara garis besar, keuntungan yang diperoleh memanfaatkan pupuk organik adalah sebagai berikut:
1. Mempengaruhi sifat fisik tanah warna tanah dan cerah akan berubah menjadi kelam
2. Mempengaruhi sifat kimia tanah kapsitasn hara meningkat penggunaan bahwa organik.
3. Mempengaruhi sifat biologi tanah bahan organik akan menambah energi yang diperlukan kehidupan mikroorganisme tanah
4. Mempengaruhi kondidi sosial. Daur ulang limbah perkotaan maupun pemukiman akan mengurangi dampak pencemaran dan meningkatkan peyediaan pupuk organik.

Pupuk organik berasal dari ternak dari ternak damn tanaman seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, itik, dedaunan, jerami padi, batang jagung, sekam padi dll. Pupuk kandang yang berasal dari kotoran sapi atau ayam merupakan pupuk organik yang umum digunakan dalam pemupukan organik, tetapi hanya mampu memberikan unsur hara dalam jumlah terbatas. Pupuk organik memacu dan miningkatkan populasi mikrobab di dalam tanah jauh lebih besar daripada hanya memberikan pupuk kimia. Pupuk organik merupakan bahan pembenah yang paling baik dibandingkan bahan pembenah lainnya. Pada umumnya nilai pupuk yang dikandung pupuk organik terutanma unsur makro nitrogen (N), Fosfor (P) dan kalium (k) rendah, tetapi pupuk organik juga mengandung unsur mikro esessial yang lain. Sebagai bahan pembenah tanah, pupuk organik membantu dalam mencegah terjadinya retakan tanah. Pemberian bahan organik mampu meningkatkan kelembapan tanah dan memperbaiki pangtusan dakthil.
Nitrogen dan unsur hara lain yang dikadang pupuk organik dilepaskan secara perlahan-lahan. Penggunaan secara berkesimbungan akan banayak membantu dalam membangun kesuburan tanah, terutama apabila dilaksanakan dalam waktu yang nisbi panjang.

Bahan organik sebagai sumber hara tanaman

Untuk mengetahui kebutuhan hara tanaman secara lebih teapt diperlukan analisis labotorium. Segera setelah dilakukan analisis tanah maka kebutuhan hara suatu jenis tanah dapatt ditemukan. Petani harus kreatif untuk memformulasikan campuran pupuk yang berasal dari bermacam-macam sumber bahan pupuk makin banyak bahan campuran yang digunakan, makin baik kualitas pupuk organik.



Pengertian dari pupuk organic cair

Pengertian pupuk dibahas di beberapa literature memang ditampilkan dalam kalimat yang berbeda, tetapi bias dikatakan memiliki pengertian yang sama. Pupuk Adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsure-unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman. Pengolongan pupuk umumnya didasarkan pada sumber bahan yang digunakan, cara aplokiasi, bentuk, kandungan unsur haranya. Bersadarka bentuknya, pupuk organic dibagi menjadi dua cair dan padat. Pupuk cair adalah larutan mudah larut berisi satu atau lebih pembawa unsure yang dibutuhkan tanaman. Kelebihannya dari pupuk cair adalah dapat memberikan hara sesuai dengan kebutuhan tanaman. Selaian itu, pemberiannya dapat lebih merata dan kepekatannya dapt diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman. Namum, jika dilihat bersadarkan sumber bahan yang digunakan, pupuk dibedakan menjadi pupuk anorganik dan pupuk organic. Dalam pengertian lain pupuk organic cair adalah laruran dari pembusukan bahan-bahan organic yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsure haranya lebih dari satu unsure. Kelebihan dari pupuk organic ini adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara, tidak masalah dalam pencucian hara, dan mampu menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik, pupuk organic cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk ini juga memiliki bahan pengikat, sehingga larutan pupuk yamg diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman.

Karateritik Pupuk organic cair

Seperti halnya pupuk yang padat, pupuk kandang cair juga berasal dari kotoran hewan, namum pupuk kandang cair berasal dari urine ternak

Tabel, Kandungan hara makro kotoran padat dan cair beberapa jenis ternak

Jenis ternak Jenis Kotoran Kandungan Hara Makro (%)
Nitrogen Fosfor Kalium Kalsium
Kuda Padat 0,56 0,13 0,23 0,12
Cair 1,24 0,004 1,26 0,32
Kerbau Padat 0,26 0,08 0,14 0,33
Cair 0,62 - 1,34 -
Domba Padat 0,65 0,22 0,14 0,33
Cair 1,43 0,01 0,55 0,11
Sapi Padat 0,33 0,11 0,13 0,26
Cair 0,52 0,01 0,56 0,007
Babi Padat 0,57 0,17 0,38 0,06
Cair 0,31 0,05 0,81 -



Penelitian pupuk organic cair

Pupuk organik cair ditemukan pada tahuan 2005 dari hasil penelitian di balai hortikultura lembang dan sekarang pupuk itu dalam tahap proses penelitian. Proses pembuatan pupuk ini dilakukan dengan cara fermentasi dan tidak menggunakan bahan-bahan yang berbau kimiawi. Bahan yang digunakan dari sampah – sampah industri dan bahan mentah yang banyak di buang oleh masyarakat disekitar kota besar misalkan Bandung, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya yang ada di Indonesia. apabila sampah tersebut tidak dimanfaatkan akan mengakibatkan sampah menjadi banyak dan terjadinya wabah penyakit dimana-mana Dalam pembuatan pupuk ini kita dilakukan dengan pengumpulan bahan - bahan sampah disekitar kita atau pasar yang tidak terpakai, lalu digunakan untuk bahan pembuatan pupuk organik ini. Fungsinya untuk meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan hasil pertanian, meningkatkan sifat fisik tanah, meningkatkan sifat kimia tanah, menaikan PH dan kesuburan tanah. Karena dengan pemakaian pupuk kimia yang berlebihan akan mengakibatkan tanah menjadi padat dan tidak ada unsur hara bisa juga menurunkan produktifitas tanaman pada saat panen. Unsur – Unsur yang terdapat pupuk cair (punik) ini dari hasil penelitian di Balai Hortikultura Kabupaten Lembang pada tahun 2005 kandungan meliputi N, K, H2O, CL .


Pupuk Kambing

Menurut Balai Penelitian Ternak Bogor bahwa salah ternak yang cukup berpotensi sebagi sumber pupuk organik adalah kambing dan domba. Petani umumnya memelihara ternak tersebut sebagai usaha sampingan. Didaerah Cirebon, Bogor dan Garut, setiap petani rata-rata memiliki kambing-domba 6,32 ekor. Rata-rata setiap ekor ternak memerlukan pakan hijuan segar 5,35 kg/hari atau 33,3 kg/peternak. Berdasarkan hasil perhitungan, dari jumlah pakan yang dikonsumsi tersebut, 4 kg akan dikeluarkan sebagai fases (bahan kering fases 45 %) per hari per 6,32 ekor. Selain itu, sisa pakan hijauan yang terbuang berkisar 40-50% atau 14,2 kg,. Dengan demikian, fases dan sisa pakan hijauan yang dapat dikumpulkan setiap hari sebagai bahan kompos mencapai 18,2 kg untuk setiap peternak. Fases kambing-domba mengandung bahan kering dan berturut-turut 40-50 % dan 1,2 - 2,1 %. Kandungan tersebut bergantung pada bahan penyusunan ransum, tingkat kelarutan nitrogen pakan, nilai biologis ransum , dan kemampuan ternak untuk mecerna ramsum. Produksi urin kambing-domba mencapai 0,6-2,5 l/hari dengan kandungan 0,51-0,71 %. Variasi kandungan nitrogen tersebut tergantung pada pakan yang dikonsumsi, tingkat kelarutan protein kasar pakan, serta kemampuan ternak untuk memanfaatkan nitrogen asal pakan. Kotoran kambing-domba yang tersusun dari fases, urin dan sisa pakan mengandung nitrogen lebih tinggi dari pada yang hanya berasal dari fases.
Pemeliharaan ternak dengan dikandangkan dan pemberian pakan sistem “potong angkut” kemudahan petani untuk mengumpulkan kotoran ternak. Apabila pengumpulan dan pengambilan kotoran kambing-domba dilakukan setiap tiga bulan maka produksi kotoran kambing-domba mecapai 1.728 setiap peternak.

Pengolahan kotoran kambing Domba menjadi Pupuk Organik Padat

Kotoran kambing-domba dapat dimamfaatkan secara langsung dengan memcampurkannya pada saat pengolahaan tanah. Namum untuk mendapatkan hasil lebih baik, disarankan agar kotoran diolah terselibih dahulu. Hasil olahan tersebut dikenal dengan pupuk kandang. Cara pengolahan kotoran tersebut digolongkan dengan sistem terbuka dan tertutup. Pada sitem terbuka kotoran dibiarkan sekitar 3 bulan dalam lubang penampung yang tersedia di bawah kandang panggung. Cara ini cukup murah dan mudah. Kotoran yang telah tertimbun dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik. Pengolahaan dengan sistem tertutup dilakukan dengan cara menimbun kotoran dalam suatu lubang yang diberi atap dan terhindar dari genangan air. Lantai dan dinding lubang sebaiknya disemen untuk mencegah kehilangan unsur hara. Selajutnya lubang ditutup dengan tanah setebal 30 cm dan biarkan selama 3 bulan. Pupuk organik kemudian dikeluarkan dan siap digunakan.


Pengolahan kotoran kambing Domba menjadi Pupuk Organik Cair

Pengolahaan kotoran kambing domba menjadi pupuk organik cair dengan cara fermentasi


Daun Babadotan

Tanaman Babadoatan (Ageratum Conyzoides Linn) merupakan tumbuhan dari Famili Asteraceae. Tumbuhan ini diberbagai daerah di Indonesia memiliki naman yang berbada antara laian di Jawa di sebut babadotan, di Sumetera dikenal daun tombak, dan di madura disebut wedusan. Tumbuhan ini merupakan herba menahun, tegak dengan ketinggian 30 -8 cm dan mempunyai daya adaptasi yang tinggi, sehingga mudah tumbuh dimana-mana dan sering menjadi gulma yang merugikan para petani. Namum dibalik Ageratum dapat digunakan sebagai obat, pestisida dan herbisida, bahkan untuk pupuk dapat meningkatkan hasil produksi tanaman. Disisi lain Ageratum yang menunjukkan gejala lurik kekuningan dapt menjadi sumber tanaman lain yang diusahakan di sekitarnya. Ageratum telah digunakan secara luas dalam pengobatan trasional oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Di India Ageratum banyak digunakan sebagai bakterisida, antidisentri dan antilitnik. Sedangkan di Brazil, perasan/eksrak tanaman ini sering untuk menagani kolik, flu dan deman, diare, rheumatic dan efeketif mengobati luka bakar. Di Indoensia, Ageratum banyak digunakan untuk obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Yang telah dibuktikan secara ilimiah sebagai obat anti-inflamasi. Prof. Elin Yulinah Sukandar menemukan bahawa ekstrak babadotan yang dicampur dengan ekstrak jahe terbukti efektif mengobati radang yang disebabkan bakteri Stayhylococcis aureus pada kelince percobaan.


Pengaruh Tanaman babadotan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman

Tabel 1. Pengaruh daun Ageratum terhadap petumbuhan dan perkembangan tanaman padi
Perlakuan Tinggi Tanaman (mm) Jumlah biji/bulir/ranting Hasil Panen (ton/ha)
Kontrol 85,6 108,0 4,3
A. Conyzoides 90,0 125,0 5,3
Herbisida 83,3 110,0 4,7
Sumber : Xuan et al., 2004, Crop Protection 2004, 23 : 915 - 922

Bila kita perhatikan dengan teliti, tanaman Argeratum sebagai populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya dalam suatu lahan. Ageratum diduga kuat mempunyai allelopathy, suatu keadaan dimana tanaman/ bahan tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman lainnya. Hasil Penelitian Xuan et al. yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang (Crop Protection ,2004, 23 : 915 – 922).

Gambar : Hasil penelitian dengan menggunakan pupuk organic cair pada Tanaman Padi Ciherang di Kecamatan Ciwidey Kabuapaten Bandung Propinsi Jawa Barat












Sumber
1. Alinudin Hukubun, SP, Modul Pupuk Organik cair, 2005
2. Sukanto Hadisuwito, Membuat Pupuk Kompos Cair, Agromedia Pustaka, 2007.
3. Xuan et al., 2004, Crop Protection 2004, 23 : 915 – 922

Disusun Oleh Alinudin Hukubun, SP
Profesi : Konsultan pertanian
Alamat Kantor : JL. Sedap malam I no 14 Blok 9 Perumnas Rancaekek Kencana Kelurahaan Rancaekek Wetan Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung Propinsi Jawa Barat Telp (022) 87700794 atau (022) 76717801 email alinudin@yahoo.com, alinudina@yahoo.com , www.alialampersada.blogspot.com dan facebook Alinudin Hukubun , No Rek 000501033107500 BRI Cabang Asia afrika