Sabtu, Mei 16, 2009

MENUJU PEMAKAIAN PUPUK ORGANIK

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan bahwa Departemen Pertanian akan fokus mendorong petani untuk menggunakan pupuk organik dan bioorganik hingga mencapai 50% sebagai substitusi pupuk kimia. Karena sudah terbukti di lapangan mampu meningkatkan produktivitas. Untuk mendorong pemakaian ini maka subsidi pupuk organik secara bertahap akan semakin ditingkatkan dengan mengurangi subsidi pupuk urea. Karena semakin disadari penggunaan pupuk kimia yang terus menerus menjadi penyebab menurunnya kesuburan lahan. Oleh karena itu perlu diimbangi dengan penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati.Sebenarnya kondisi ini telah pernah diteliti oleh Lembaga Penelitian Tanah (LPT) dengan kesimpulan bahwa 79% tanah sawah di Indonesia memiliki bahan organik (BO) yang sangat rendah. Dengan perkataan lain, sawah-sawah di Indonesia sudah sangat miskin BO bahkan dapat dikatakan sudah “sakit”. Oleh karena itu perlu “disembuhkan” dengan menambahkan BO yang telah diolah menjadi pupuk organik sehingga tanah dapat menjadi lebih sehat dengan kandungan BO yang lebih tinggi. Untuk meningkatkan kandungan BO, dibutuhkan tambahan bahan organik sekitar 5-10 ton/ha. Tetapi dapat dilakukan secara bertahap dengan memberikan pada kisaran 3-5 ton. Permintaan pupuk organik sekarang ini diperkirakan mencapai 700.000 ton/setahun.

Pertanyaannya adalah dari mana pupuk organik ini didapatkan mengingat masih terbatasnya industri pupuk organik? Apalagi selama ini pupuk organik hanya diproduksi dengan skala industri rumah tangga (home industry) yang hasilnya-pun relatif sedikit dan tidak kontinu.Namun perhatian yang semakin besar terhadap pemakaian pupuk organik ini dapat memberikan optimisme akan dapat dipenuhi. Misalnya langkah-langkah yang ditempuh oleh Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman yang akan memberikan prioritas pengembangan pupuk bioorganik. Sehingga dapat dijadikan pedoman dalam memproduksi pupuk organik.Demikian juga inisiatif yang dikembangkan berbagai kalangan industri untuk mengembangkan pupuk organik. Seperti upaya Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Suryadharma Ali yang memberikan bantuan untuk pembangunan pabrik pupuk organik di sekitar Pasar Induk Kemang, Bogor dengan mengandalkan bahan baku dari sampah di pasar. Di segi lain secara bisnis, pembangunan dan pengembangan pabrik pupuk organik sangat potensial untuk meningkatkan pendapatan koperasi.Pemda Kaltim dan PT. Pupuk Kalimantan Timur sedang penjajakan pembangunan pabrik pupuk bio organik dengan kapasitas produksi sekitar 600.000 ton/tahun. Dengan pasokan bahan baku yang berasal dari sampah rumah tangga, sampah perkotaan dan air pembuangan.

/www.sinartani.com/editorial/menuju-pemakaian-pupuk-organik-1239591406.htm


Pupuk Organik Diusulkan Dapat Subsidi

Jakarta, (Analisa)

Departemen Pertanian serta Komisi IV DPR RI sepakat untuk mengusulkan kepada pemerintah agar subsidi pupuk sebesar Rp17,4 triliun pada 2009 bisa diberikan juga untuk pupuk organik.Dalam Rapat Kerja Menteri Pertanian dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Senin, terungkap subsidi tersebut untuk memberikan fasilitas kepada petani agar mampu menghasilkan pupuk organik sendiri."Kami akan mengusulkan agar subsidi pupuk Rp17,4 triliun ini juga bisa dialihkan ke pupuk organik maupun pengembangan infrastruktur pertanian," kata Menteri Pertanian, Anton Apriyantono.Sebelumnya, anggota Komisi IV DPR, Mufid Busyairi, mengatakan, anggaran subsidi pupuk seharusnya tidak sepenuhnya untuk pupuk anorganik atau kimia namun sebagian besar lebih baik dialokasikan bagi pupuk organik.

Dia beralasan bahan baku pembuatan pupuk organik sudah tersedia di pedesaan, selain itu petani juga mampu memproduksi sendiri."Pemerintah tinggal mengembangkan kelembagaan petani agar mampu memproduksi pupuk organik tersebut," katanya.Mufid mengungkapkan, dari hasil pantauan ke sejumlah wilayah, sebenarnya petani tidak mempermasalahkan adanya kelangkaan pupuk kimia selama ini selama dapat memproduksi pupuk organik.Selain itu, tambahnya, penggunaan pupuk organik ternyata mampu menghasilkan produktivitas tanaman yang cukup tinggi seperti yang dilakukan Pesantren Pabelan dengan metode SRI dan pupuk organik di lahan seluas 25 ha hasilnya sebanyak 9 ton/ha."Oleh karena itu, subsidi pupuk seharusnya lebih banyak ke pupuk organik, 20 persen atau lebih," katanya.Hal senada diungkapkan anggota legislatif lainnya, Tamsil Linrung, yang menyebutkan pemerintah perlu memberikan bantuan mesih pengolahan pupuk organik untuk meningkatkan penggunaan pupuk

/www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6339:pupuk-organik-diusulkan-dapat-subsidi&catid=202:10-februari-2009&Itemid=207ut di kalangan petani. (Ant)