MENUJU PEMAKAIAN PUPUK ORGANIK
Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengatakan bahwa Departemen Pertanian akan fokus mendorong petani untuk menggunakan pupuk organik dan bioorganik hingga mencapai 50% sebagai substitusi pupuk kimia. Karena sudah terbukti di lapangan mampu meningkatkan produktivitas. Untuk mendorong pemakaian ini maka subsidi pupuk organik secara bertahap akan semakin ditingkatkan dengan mengurangi subsidi pupuk urea. Karena semakin disadari penggunaan pupuk kimia yang terus menerus menjadi penyebab menurunnya kesuburan lahan. Oleh karena itu perlu diimbangi dengan penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati.Sebenarnya kondisi ini telah pernah diteliti oleh Lembaga Penelitian Tanah (LPT) dengan kesimpulan bahwa 79% tanah sawah di Indonesia memiliki bahan organik (BO) yang sangat rendah. Dengan perkataan lain, sawah-sawah di Indonesia sudah sangat miskin BO bahkan dapat dikatakan sudah “sakit”. Oleh karena itu perlu “disembuhkan” dengan menambahkan BO yang telah diolah menjadi pupuk organik sehingga tanah dapat menjadi lebih sehat dengan kandungan BO yang lebih tinggi. Untuk meningkatkan kandungan BO, dibutuhkan tambahan bahan organik sekitar 5-10 ton/ha. Tetapi dapat dilakukan secara bertahap dengan memberikan pada kisaran 3-5 ton. Permintaan pupuk organik sekarang ini diperkirakan mencapai 700.000 ton/setahun.
Pertanyaannya adalah dari mana pupuk organik ini didapatkan mengingat masih terbatasnya industri pupuk organik? Apalagi selama ini pupuk organik hanya diproduksi dengan skala industri rumah tangga (home industry) yang hasilnya-pun relatif sedikit dan tidak kontinu.Namun perhatian yang semakin besar terhadap pemakaian pupuk organik ini dapat memberikan optimisme akan dapat dipenuhi. Misalnya langkah-langkah yang ditempuh oleh Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman yang akan memberikan prioritas pengembangan pupuk bioorganik. Sehingga dapat dijadikan pedoman dalam memproduksi pupuk organik.Demikian juga inisiatif yang dikembangkan berbagai kalangan industri untuk mengembangkan pupuk organik. Seperti upaya Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Suryadharma Ali yang memberikan bantuan untuk pembangunan pabrik pupuk organik di sekitar Pasar Induk Kemang, Bogor dengan mengandalkan bahan baku dari sampah di pasar. Di segi lain secara bisnis, pembangunan dan pengembangan pabrik pupuk organik sangat potensial untuk meningkatkan pendapatan koperasi.Pemda Kaltim dan PT. Pupuk Kalimantan Timur sedang penjajakan pembangunan pabrik pupuk bio organik dengan kapasitas produksi sekitar 600.000 ton/tahun. Dengan pasokan bahan baku yang berasal dari sampah rumah tangga, sampah perkotaan dan air pembuangan.
/www.sinartani.com/editorial/menuju-pemakaian-pupuk-organik-1239591406.htm