Selasa, Januari 10, 2012

MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK MENGEMBALIKAN KESUBURAN TANAH Penulis : A-dj/yy

MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK MENGEMBALIKAN KESUBURAN TANAH
Penulis : A-dj/yy

http://www.anneahira.com
Upaya intensifikasi pertanian melalui Revolusi Hijau telah berhasil mengangkat tingkat produksi dan produktivitas pertanian, namun penggunaan pupuk kimia yang terus menerus menjadikan lahan jenuh, tanah keras, miskin organik sehingga kesuburan tanah berkurang. Saatnya menggunakan metode pemupukan berimbang dengan kombinasi pupuk organik untuk mengembalikan kesuburan tanah.
Upaya intensifikasi pertanian melalui Revolusi Hijau yang berjalan sekian lama diakui telah berhasil meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian. Sayangnya, ini juga membuat ketergantungan petani pada pupuk kimia. Pemakaian pupuk kimia yang terus-menerus dalam waktu yang lama telah membuat lahan jenuh, tanah mengeras, menurunkan kandungan organik tanah dan pada akhirnya mengurangi kesuburan lahan.
Studi Balitbang Pertanian menyatakan, banyak lahan di sentra pertanian kita sudah miskin organik (kandungan bahan organik kurang dari 2%). Sementara tuntutan untuk produksi pertanian yang baik mengharuskan kandungan organik lebih dari 3%. Untuk itulah, diperlukan upaya serius membenahi dan memperbaiki tingkat kesuburan lahan. Caranya? Antara lain dengan promosi pemupukan berimbang dan pengembangan pupuk organik. Pemakaian pupuk organik memiliki banyak manfaat, yaitu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, meningkatkan daya simpan dan daya serap air, memperbaiki kondisi biologi dan kimia tanah, memperkaya unsur hara makro dan mikro, serta tidak mencemari lingkungan dan aman bagi manusia.
Bahan baku pupuk organik cukup berlimpah. Antara lain jerami padi, sekam/arang sekam, brangkasan kacang tanah dan kedelai, daun dan batang jagung, serbuk gergaji, sampah kota serta kotoran ternak (sapi, unggas, kambing/domba). Kandungan hara dari kotoran ternak dan limbah pert anian bervariasi dalam jumlah dan kualitas­nya. Begitu juga rasio perbandingan antara karbon dan nitrogen. Pupuk oganikyang ideal biasanya diramu dari berbagai kombinasi bahan organik sehingga mendapat rasio C/N. yang cukup memadai.
Secara alami, perombakan bahan organik menjadi pupuk yang berdaya guna butuh waktu cukup lama, sekitar 3-4 bulan. Untuk mempercepatnya diperlukan dekomposer atau bioaktivator yang mampu mendegradasi hgnindan selulosa. Untuk kepentingan ini biasanya para pengembang pupuk organik menggunakan starter mikroba seperti Tricoderma harzianum, T pseudokoningii dan Aspergillus sp, I Trametes, Cyptphaga, Actinomycetes, serta ragi dan jamur fermentasi. Dengan bantuan mirkoba ini, dalam beberapa pekan rasio C/N bisa berubah 25:1 menjadi sekitar 11:1 sampai dengan 16:1.Upaya memacu pemakaian pupuk organik, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menyiapkan anggaran subsidi serta bantuan berupa alat pencacah bahan organik, rumah kompos dan unit pengolah pupuk organik (UPPO). Sejak 2008 pemerintah mendorong upaya pengembangan pupuk organik melalui mekanisme pemberian subsidi maupun bantuan langsung pupuk organik. Tahun 2011, pemerintah menyalurkan tak kurang dari 700.000 ton pupuk organik bersubsidi serta lebih dari 47 ribu ton pupuk organik melalui mekanisme bantuan langsung pupuk (BLP). Subsidi ini disalurkan melalui BUMN (PT Pertani Persero, PT Sang Hyang Seri dan PT Berdikari). Tiga BUMN itu dalam pelaksanaannya diharapkan melibatkan mitra dari kelompok tani dan gabungan kelompok tani. Antara lain dengan membuka kesempatan bagi usahawan kecil menengah (UKM) untuk berinvestasi di industri pupuk organik granul dan pupuk hayati cair. Pemakaian pupuk organik, menurut Mentan  Suswono, sudah mendesak terutama pada wilayah yang mengalami degradasi lahan yang parah. Untuk itulah, target utama dari penyaluran pupuk organik bersubsidi adalah para petani di delapan provinsi (Banten, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Sulsel, Sumbar, dan Sumsel. Wilayah ini tergolong sentra pertanian yang banyak mengalami kerusakan lahan dan pemiskinan hara tanah.

Tidak ada komentar: