Sabtu, April 17, 2010

Berkebun sayuran organik di pekarangan rumah

Berkebun, bagi sejumlah orang, merupakan hobi yang sangat mengasyikkan. Dapat dikerjakan di sela-sela waktu senggang dan dengan memanfaatkan halaman atau sudut ruangan. Apalagi hasilnya berasal dari tumbuhan yang berguna, tanaman organik, misalnya. Berkebun, bagi sejumlah orang, merupakan hobi yang sangat mengasyikkan. Dapat dikerjakan di sela-sela waktu senggang dan dengan memanfaatkan halaman atau sudut ruangan. Apalagi hasilnya berasal dari tumbuhan yang berguna, tanaman organik, misalnya. Sebuah kebun bukan berarti hanya kumpulan aneka jenis tumbuhan. Penghuninya tidak hanya rimbunan tanaman hias atau jenis bunga-bungaan. Alangkah indahnya dijejali pula dengan jenis sayuran, buah-buahan, tanaman obat atau pohon yang digunakan sebagai bumbu masakan. Lebih menarik lagi bila keanekaragaman flora itu adalah jenis organik. Selain lebih alami, manfaatnya sangat berlipat ganda. "Pertanian organik adalah suatu sistem budi daya tanaman yang ramah lingkungan. Karena dalam proses penanaman serta perawatannya diolah tanpa bahan kimia. Pupuk dan pestisidanya juga diperoleh dari bahan alami yang tidak membahayakan," demikian penjelasan Ilman Mutaqin Sp dari Tidusany Green Health Center (TGHC), Bandung.

Menurut pandangan sarjana sosial ekonomi fakultas pertanian Universitas Winaya Mukti, Bandung itu, banyak faedah bila menanam serta mengkonsumsi tanaman organik. Hasil sayuran atau buah yang dimakan jelas tidak mengandung bahan kimia yang membahayakan tubuh. Ia juga mengatakan bahwa jenis tanaman organik, terutama sayuran banyak dicari oleh beberapa pasien penyakit autis di Kota Kembang. Produk-produk tanpa kimiawi dipakai untuk pengobatan penyakit terganggunya mental tersebut. "Terutama jenis kacang-kacangan seperti kacang panjang, buncis, dan kacang merah," kata Ilman yang mengurusi lahan seluas tiga hektare khusus ditanami tumbuhan organik. Berdasarkan penelitian Dr Rini Damayanti Dipl CN, seorang konsultan pola hidup sehat alami, bahwa produk organik dapat menghasilkan bahan makan yang bebas polusi dan kaya akan nutrisi. Hewan dan manusia, sangat membutuhkan bahan organis untuk membangun tubuhnya. Akan tetapi mereka tidak dapat mengubah sendiri bahan anorganik (bukan organik) yang berasal dari makanan yang dikonsumsinya. Sebaliknya menurut pandangan dia, tumbuh-tumbuhan melalui proses asimilasi dapat mengubah bahan anorganik menjadi zat yang organik atau bahan yang bersifat biokimiawi.


Ramah Lingkungan

Dalam pembuatan tanaman organik yang paling men-dasar adalah media tanam. Tanah yang dipakai serta pupuknya juga harus bersifat organik. Artinya tidak boleh mengandung unsur-unsur kimia berbahaya, seperti yang ada pada aneka pupuk buatan pabrik. Bagi Edi Junaedi (28), aktivis lingkungan yang menyelami dunia tanaman organik, pupuk yang dipakai sebaiknya berasal dari bahan-bahan alami. Sifatnya juga mudah didaur ulang lewat bantuan mahluk hidup seperti cacing, bakteri, atau jamur. "Pupuk alami yang dihasilkan akan menjadi makanannya tanaman," katanya. Project Officer yang membidangi pertanian kota di Konphalindo (Konsorsium Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia) itu, menyarankan tips yang sederhana dalam membuat pupuk ramah lingkungan. Banyak orang menyebutnya dengan nama kompos bakteri alami atau kompos super. Caranya yaitu dengan mencampurkan dengan rata sekam, kotoran hewan, dedak atau bekatul (3-5 kg), dengan gula merah atau gula pasir (0,25kg), kedalam suatu tempat bersih dan teduh. Setelah itu campurkan bakteri ke dalamnya, dengan cara disiram ke adonan dengan rata. Langkah berikutnya yaitu menutup bahan-bahan tadi dengan plastik atau dedaunan. Dalam jangka waktu 10 hari kompos sudah terbentuk. Untuk mempercepat proses penguraian, menurut insinyur pertanian jebolan tahun 1998 Universitas Padjajaran, Bandung itu, harus disiram tiap dua hari sekali dengan air sambil diaduk-aduk. "Biang pupuk juga bisa dipakai sebagai pupuk cair yang disemprotkan ke dalam tanaman. Pada pembuatannya alkohol yang digunakan dapat diganti dengan air tape," saran Eje, begitu Edi Junaedi akrab disapa. Sedangkan proses pembuatan bakteri dihasilkan dengan bahan sederhana pula. Pembuatan bakteri atau biang pupuk berasal dari buah-buahan (5 kg) yang sudah masak nmun tidak busuk, yang diparut atau dileburkan. Bahan tersebut di ambil sari buahnya dengan cara disaring, yang kemudian ditambahkan dengan larutan gula merah atau putih (0,25kg), air cucian beras (1 liter), serta alkohol 40 persen. Larutan tersebut disimpan dalam botol yang tertutup rapat selama 2 minggu dan ditaruh pada tempat yang tidak terkena sinar matahari. Keunggulan memakai pupuk alami juga dapat membuat tanah semakin subur dan tetap lestari. Pasalnya, menurut Dr Rini yang menjabat sebagai koordinator di POT (Pertanian Organik Terpadu) Tidusany, dalam pupuk tersebut banyak sekali mengandung unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan bila memakai pupuk kimia pada tanah, lanjut dia, dapat menimbulkan unsur nitrogen yang tinggi didalamnya. Zat tersebut akan diserap oleh tanah dalam bentuk nitrit, dan pada kondisi tertentu akan diubah menjadi nitrat. "Bila makan sayur atau buah yang mengandung nitrat, maka tubuh akan mencerna menjadi nitrosamine," kata Dr Rini. Zat inilah, tambah dia, yang akan membentuk sebagai pencetus penyakit kanker lambung atau kanker lainnya.


Lahan Sempit

Selain sehat, ternyata bercocok tanam sistim organik tidak begitu susah yang kita bayangkan. Aneka aanaman buah atau sayuran seperti sawi, bayam, tomat, kangkung, cabai bisa ditanam di halaman. Caranya dengan memanfaatkan pekarangan atau lahan sisa di sudut rumah, kantor, sekolah atau pada tanah-tanah yang tidak terpakai. Bisa juga dengan menanam di dekat bantaran sungai, taman, kompleks pemakaman atau persimpangan-persimpangan jalan yang masih kosong. Sedangkan untuk tempat huidupnya tidak harus ditanam di atas tanah terbuka. Menurut saran Eje, pot-pot yang digunakan tidak harus dengan cara membeli atau baru. Tapi bisa ditanam diatas bahan-bahan yang tidak dipakai seperti ember bekas, tong, kaleng atau botol plastik. Hal tersebut selain murah biayanya, juga dapat menanggulangi masalah sampah. "Untuk kondisi rumah yang mempunyai pekarangan sempit sangat cocok bila memakai sistem pertanian bertingkat," ungkap Eje. Vertikultur begitu istilah cara menanam pohon dengan bersusun tersebut cocok sekali diterapkan di perkotaan yang padat penduduk. Penempatannya tidak memakan lahan. Keuntungan lainnya adalah pohon yang ditanam lebih banyak karena bersusun ke atas. Bahan-bahannya pun mudah diperoleh, seperti dari bambu, kayu, paralon, seng bekas atau talang air. Bisa ditaruh atau dibuat menurut selera.



 Contoh Pemanfaatan pekarangan sayuran organik di pekarangan di daerah perkontaan
Sumber diambil dari :http://www.situshijau.co.id/tulisan.php?act=detail&id=391&id_kolom=1
Sumber : Gambar diambil http://www.alialampersada.blogspot.com/

Tidak ada komentar: